Golkar yang Kelewat Hegemonik

Jum'at, 19/04/2019 18:12 WIB

Memang setelah 1971, Golkar berhasil mempertahankan supremasinya dalam empat Pemilu berikutnya. Mereka tetap menang mutlak pada Pemilu ‘77, ‘82,  ‘87 dan ‘92 dengan perolehan suara masing-masing 62,2%, 64,3%, 73,2% dan 68%.   Tapi eksesnya adalah terbentuknya apa yang disebut Afan Gaffar sebagai sistem kepartaian hegemonik. Yaitu adanya sebuah partai atau sebuah koalisi partai yang mendominasi proses politik sebuah negara dalam kurun waktu panjang. Menurut dia, sistem ini dibangun dengan aparat yang represif, depolitisi massa atas nama tertibnya tatanan politik serta stabilitas, restruksi parpol secara paksa serta pembuatan sejumlah peraturan yang menguntungkan Golkar.


Mantan Dubes Bongkar Skandal Pencoblosan Surat Suara di Malaysia

Kamis, 18/04/2019 18:15 WIB

Skandal pencoblosan liar surat suara pemilu di Malaysia telah merebak di seluruh penjuru dunia dan disiarkan media internasional. Tiba-tiba dunia meragukan demokrasi Indonesia dan Malaysia dituduh menjadi ‘pabrik surat suara tercoblos’.


Kwik Kian Gie: Belum Final,Kumpulkan Bukti dan Jangan Termakan TV

Rabu, 17/04/2019 18:17 WIB

"Saran saya jangan dulu nonton tv karena hampir semua tv memframing hasil yang bertolak belakang dengan yang sebenarnya terjadi di Tps.  Tunggu keluar hasil resmi,  jangan termakan tv,  kumpulkan bukti-bukti semua form di TPS  kita sedang mencocokan dari tps-tps setiap daerah," ujar Kwik Kian Gie, ekonom mantan Menteri Ekonomi di era Presiden Megawati kepada pers di Jakarta, Rabu (17/4).


Hamdi Muluk UI: Prabowo Sudah Nggak Bisa Nyaingin

Rabu, 17/04/2019 14:54 WIB

Sebenarnya kan Sandi itu berusaha mencitrakan: dia adalah orang yang mengerti anak-anak milenial dan dia bergaya milenial. Dia memang orang muda.  Tapi program-program yang Oke-Oce  itu kan barang mati. Dia harus  lebih kreatif dari itu karena  orang bosen dengerin. Nanti jawabnya oke-oce lagi. Rumah pra-kerja itu nggak ada bedanya dengan program Jokowi. Malah Jokowi lebih konkrit: menyediakan akses kalau orang yang punya kartu pra-kerja bisa masuk BLK [balai latihan kerja], bisa dapat trainining, uang saku, kesempatan kerja…Dia lebih konkit.


Ketika Selebritas Politik menjadi Panglima Perang

Rabu, 17/04/2019 12:55 WIB

Melalui para panglima perang inilah isu-isu tertentu, terkait kepentingan pasangan calon presiden dan wakil presiden dalam Pemilu 2019 dimunculkan, digelontorkan, dan kemudian didiskusikan oleh warganet. Seringkali, percakapan semacam ini menjadi perang argumen yang tidak saja terbatas di kalangan elit, hingga warga biasa yang mendukung salah satu pasangan calon. Berikut beberapa sosok panglima perang tersebut.


Ujaran Kebencian dan Hoaks yang Berujung Perkara Hukum

Rabu, 17/04/2019 11:10 WIB

  Pertempuran antara 2 pendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden di media sosial berlangsung sengit  selama masa kampanye Pemilu Presiden (Pilpres) 2019. Situasi ini kian memanas karena perang di dunia maya itu diwarnai dengan penyebaran ujaran kebencian (hate speech) dan kabar bohong (hoaks) untuk menyerang dan menjatuhkan salah satu pasangan calon.


Perang Badar di Media Sosial

Rabu, 17/04/2019 10:57 WIB

Namun potensi besar pengguna media sosial ini kerap kali berkelindan dengan polarisasi yang terjadi dalam masyarakat karena pilihan politik yang berbeda. Akibatnya, kerap kali terjadi pertempuran antara dua kubu di media sosial. Tak jarang pertikaian itu dipicu oleh pembuat opini yang datang dari sosok-sosok berpengaruh, seperti elit partai politik dan selebritis media sosial.


Artis Pendulang Suara Milenial

Rabu, 17/04/2019 10:15 WIB

“Cara membidik pemilih milenial itu tidak harus menyerupai aksesorisnya, tapi yang paling penting adalah paslon itu menjawab keutuhan kaum milenial, soal pendidikan dan kepastian kerja,” kata Karyono di Jakarta.


Mereka Panik dan Akhirnya Jadi Ngawur

Rabu, 17/04/2019 09:01 WIB

Saya pikir ada banyak faktor. Pertama, orang lelah dengan model kampanye yang dilakukan kedua belah pihak. Karena dijejali dengan informasi yang tidak berkualitas dan sangat kuat aroma identitas dan aroma permusuhannya. Saling serang. Kedua belah pihak tidak menunjukkan kapasitas yang berkoneksi dengan masyarakat.


Golput, Ekspresi Kekecewaan, dan Hujatan

Selasa, 16/04/2019 21:15 WIB

Suara menolak kali ini lebih keras. Sumbernya lebih banyak kubu yang pengusung petahana (Jokowi) dalam pilpres 2019. Pertanda apakah gerangan? Kepanikankah, seperti kata Harris Azhar? Bisa jadi. Mereka tentu menghitung kubu lawan yang berpotensi mendulang banyak suara termasuk dari angkatan muda karena pandai menggunakan isu populis. Isu yang bernuansa primordial seperti agama dan pri-nonpri, termasuk.