Kiprah Anarko-Sindikalisme (Tulisan-4)

Kelompok Anarko: Kami Bukan Pelaku Kriminal!

Minggu, 16/06/2019 10:03 WIB

Meskipun aliran ini belum terbilang besar dan merata penyebarannya di Indonesia, namun gerakan Anarko mampu menyita perhatian publik, karena aksi mereka yang dianggap merusak. 


Kiprah Anarko-Sindikalisme (Tulisan-3)

Ideologi Anarkisme Global, Pilihan Kaum Anarko Melawan Rezim

Sabtu, 15/06/2019 11:04 WIB

Ide utama ‘Anarkisme’ adalah anak manusia hidup dan berkembang secara alami tanpa diperintah, dikuasai, diatur oleh otoritas di luar dirinya. Prinsip anarki memandang individu tak boleh dikekang oleh apapun, termasuk hukum negara, ajaran agama, dominasi politik maupun kekerasan kelompok.


Kiprah Anarko-Sindikalisme (Tulisan-2)

Kaum Milenial Lebih `Sreg` dengan Gerakan Anarko

Jum'at, 14/06/2019 16:43 WIB

Upaya protes terhadap kebebasan akademik tidak bisa dijalankan dengan baik. Selalu saja ada pemberedelan dan pemberangusan diskusi sehingga sekan-akan kampus tidak memiliki kebebasan akademik. Sehingga munculah gerakan-gerakan seperti itu sebagai sebuah alternatif yang ekstrim.


Kiprah Anarko-Sindikalisme (Tulisan-1)

Anarko, Gerakan Perlawanan yang Sedang Berkembang di Indonesia

Selasa, 11/06/2019 17:45 WIB

Di Indonesia, menurut pantauan polisi, perkembangannya baru terjadi beberapa tahun terakhir. Gerakan ini tumbuh subur di Bandung dan Yogyakarta. Publik barangkali masih ingat peristiwa di Yogyakarta pada aksi May Day tahun lalu. Unjuk rasa memeringati hari buruh itu diwarnai pembakaran pos polisi, saling lempar bom molotov, dan kemunculan spanduk bernada provokatif: “Bunuh Sultan.” Mahasiswa yang berdemo di kawasan kompleks kampus Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta pada Selasa (1/5/2018) bertindak anarkis.


Mengenang 21 Tahun Reformasi (Tulisan-4)

Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid: Bukan Perang terhadap Tionghoa

Selasa, 04/06/2019 16:42 WIB

Dalam keadaan seperti itu hoax juga banyak. Foto-foto muncul  entah dari mana, seakan terjadi di Indonesia. Jadi, kami sangat hati-hati karena kemungkinan akan mengalihkan isu. Misalnya mereka bilang perkosaan sistematik ini dilakukan terhadap ras tertentu; serangan terhadap sebuah ras. Itu kami tolak. Lihat saja korbannya. Kalau ngomong soal jumlah memang Tionghoa paling banyak. Tapi bukan berarti perang terhadap Tionghoa yang dilakukan oleh orang pribumi. Keliru. Karena banyak juga pribumi miskin menjadi korban. Pun Tionghoa miskin. Jadi ini bukan  melawan orang Tionghoa kaya yang selama ini cukup digembar-gemborkan di Amerika.


Tarung 2 Kubu Jenderal; Personal, Bisnis atau Hidden Agenda Apa?

Sabtu, 01/06/2019 16:21 WIB

Raut wajah mantan Komandan Kopassus, Mayjen TNI Purn. Soenarko tampak senang karena walau dalam sel tahanan militer POM Guntur Jakarta, dia masih dapat berbuka puasa bersama dengan istrinya tercinta, Rini Soenarko, Kamis (30/5). Soenarko  tampak lahap memakan bawaan istrinya sambil ngobrol juga dengan tim pengacaranya. Tidak ada raut kusut diwajahnya, layaknya orang dalam penjara. “Pak Narko tidak ada beban walau dalam penjara, karena memang yakin tidak bersalah, “ujar Firman Nurwahid, salah satu pengacaranya. “Kebenaran akan datang dan doa kami Insya Allah dijawab Yang Maha Kuasa, tambah Rini.


Mengenang 21 Tahun Reformasi (Tulisan-3)

Dokter Lie: Setelah Diperkosa, Mereka pun Marah, Jijik, dan Takut

Minggu, 26/05/2019 13:33 WIB

Korban seorang perempuan Tionghoa berparas ayu, usianya 30-an tahun. Kondisinya sangat parah. Sekujur tubuhnya—dari pangkal paha hingga dada dan kepala—legam. Vagina-nya mengalami pendarahan [hingga berhari-hari kemudian]. Pembawaannya labil. Ia menangis saja seharian, Jelas, ia trauma berat. Kalau bertemu dengan lelaki ia bisa menjadi sangat takut kalau bukan sebaliknya: menjadi  agresif betul. Pertanda agresifitasnya  antara lain adalah sorot matanya seketika menjadi  tajam-liar dan ia berteriak-teriak laiknya orang yang sedang menumpahkan kemarahan.


Mengenang 21 Tahun Reformasi (Tulisan-2)

Ita Nadia: Perkosaan Massal 98, Teror Menggunakan Tubuh Perempuan

Senin, 20/05/2019 18:51 WIB

Sebagai kordinator TRKP, saya sendiri tidak langsung terjun ke lapangan menemui korban. Meskipun demikian saya ikut menangani beberapa korban yaitu 2 mahasiswi korban penganiayaan secara seksual di Grogol, keluarga di daerah Tangerang yang anaknya meninggal dalam usia 11 tahun, 2 ibu-ibu di Cengkareng, 1 anak berumur 15 tahun di daerah Kemayoran, dan 2 kakak-beradik di Pondok Bambu, dan 1 perempuan berumur 20 tahun dari Surabaya. Juga menangani keluarga Ita Martadinata.


Mengenang 21 Tahun Reformasi (Tulisan-1)

Otak Perkosaan Massal Mei 1998, Aib Bangsa Indonesia

Sabtu, 18/05/2019 15:25 WIB

Ternyata dalam kerusuhan 13-15 Mei 1998  anak-anak Timor itu  diturunkan. “Pelaku perkosaan yang disebut tegap, kulit agak gelap, rambut ikal, dan gerakannya terlatih ya mereka! Jumlahnya 200-an. Begitu informasi yang kami dapat kemudian.”


Kontroversi Selepas Quick Count (Tulisan-8)

Syahganda Nainggolan: Denny JA Memang Orangnya Jokowi

Kamis, 09/05/2019 11:21 WIB

Denny JA ini orang oportunis saja. Dia itu aktifis. Pertama,  dia memang bagus waktu membawa isu demokrasi dengan lembaga survei. Tapi di Indonesia ini kan, yang saya lihat waktu itu trennya, bisa cari uang banyak. Uangnya besar. Saya kemarin survei dengan unit populasinya sepulau Jawa itu, dengan 600 responden pakai GPS, saya cuman butuh Rp 50 juta. Kalau Denny JA dan Kawan-kawan mungkin bisa Rp 500 juta. Mungkin ya, coba ditanya.