Dalam politik, ada satu strategi lama yang sangat licik: ketika seseorang terjebak dalam masalah besar, jangan berusaha menyelamatkan diri sendirian. Tarik orang lain agar ikut masuk ke dalam masalah yang sama. Dengan begitu, perhatian publik terpecah, tanggung jawab menjadi kabur, dan orang yang semula terpojok memiliki teman senasib. Strategi ini bisa dianalogikan sebagai operasi kepiting rebus.
Ada persoalan menarik yang mungkin luput dari perhatian publik dalam polemik keabsahan jabatan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Mengapa opsi mengundurkan diri secara sukarela justru bisa menimbulkan persoalan baru, terutama menyangkut keuangan negara?
Tidak ada yang bisa menyangkal suatu fakta bahwa Indonesia adalah negara yang sangat kaya sumberdaya alamnya. Kita memiliki kekayaan alam luar biasa. Hutan, perkebunan, tambang, minyak, gas, laut, dan berbagai komoditas strategis yang nilainya mencapai ribuan triliun rupiah. Namun, ironisnya, kekayaan sebesar itu belum sepenuhnya mampu mengantarkan Indonesia menjadi negara maju. Kita masih berkutat dengan kemiskinan, ketimpangan, korupsi, ketergantungan teknologi, dan lemahnya daya saing industri nasional.
Pada 3 November 2026 Bareskrim Polri menetapkan Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Irjen Ahrie Sonta Nasution, dan Irjen Eko Hadi Santoso sebagai tersangka penyadapan ilegal. Menurut Kabareskrim, ketiganya memerintahkan penyadapan tanpa prosedur selama 2025–2026: nomor telepon dimasukkan ke Lawful Interception Management System (LIMS) tanpa verifikasi, tanpa laporan polisi, dan tanpa kaitan dengan penegakan hukum.
Buku ini menuduh adanya koordinasi rahasia, kurangnya pengawasan formal, dan akses ke miliaran dolar melalui rekening dan dana rahasia yang didukung negara-negara Teluk untuk memengaruhi kebijakan AS dan operasi regional di Timur Tengah.
Ada yang tidak beres dalam penyerbuan aparat Polri ke Pondok Pesantren Putri Hamalatul Quran di Sukoharjo, Jawa Tengah. Cara aparat memperlakukan para santriwati, yang mayoritas masih anak-anak, menimbulkan pertanyaan serius tentang profesionalisme, penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan standar operasional prosedur (SOP) kepolisian.
Ada yang aneh di panggung politik kita belakangan ini. Bukan aneh yang lucu, melainkan aneh yang terasa dirancang dengan cukup rapi.
Kudeta merayap sejak 2025 untuk kepentingan Jokowi yang dipimpin Jenderal Listyo Sigit yelah gagal akibat terbongkarnya operasi sadap ilegal. Jaringan Listyo dikejar. Mereka yang terlibat ketar ketir khawatir menjadi sasaran pembersihan.
Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang ada, pengamanan akan kerahasiaan komunikasi Presiden diatur secara super ketat melalui pengamanan yang berlapis.
Membuat Presiden tidak mampu menjalankan pemerintahan merupakan salah satu tujuan makar yang disebut dalam Pasal 191 KUHP. Pasal 193 mengatur makar dengan maksud menggulingkan pemerintah.
Seorang presiden tidak cukup memenangkan pemilihan dan menerima sumpah jabatan. Ia harus memastikan bahwa perangkat negara benar-benar menjalankan kewenangannya. Selama aparat masih menerima arah dari pusat pengaruh lain, perpindahan kekuasaan belum selesai.
Ada sejumlah perwira tinggi (Pati) dan perwira menengah (Pamen) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) ditangkap diduga berkaitan bocornya rahasia negara dan penyalahgunaan informasi intelijen (ilegal) yang dapat mengancam keselamatan presiden selaku kepala negara dan kepala pemerintahan.
Gibran Rakabuming Raka dahulu diusahakan menjadi pendamping Prabowo Subianto hingga melalui permintaan berulang kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo alias Jokowi.
Sekalipun terjadi ketidakpuasan atas kinerja pemerintah, namun ketidakpuasan-ketidakpuasan tersebut sama sekali bukan menjadi syarat formal untuk dijadikan alasan yang dapat memaksa Presiden dan Wakil Presiden mengundurkan diri berdasarkan ketentuan dalam UUD 1945.
Polda Metro Jaya didesak bertanggung jawab atas polemik “mahasewa bayaran” dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia (HI).
Kasus Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memasuki babak politik yang semakin rumit setelah Mahkamah Konstitusi (MK), dalam putusan 6 Oktober 2026
Ada satu persoalan mendasar dalam negara hukum yang tidak boleh dianggap sepele: apakah seseorang yang pernah menduduki jabatan tertinggi dalam pemerintahan memiliki tanggung jawab yang sama dengan warga negara lainnya ketika berhadapan dengan proses hukum?
Negara hukum justru diuji ketika hukum harus diterapkan terhadap mereka yang sedang berada di pusat kekuasaan. Pada titik itulah prinsip persamaan di hadapan hukum menemukan maknanya yang sesungguhnya.
Mengapa negara masih memungut pajak atas sesuatu yang tidak pernah dipilih perempuan untuk mereka alami?
Mari kita mulai dengan sebuah kecurigaan yang mungkin dianggap berlebihan oleh sebagian kalangan: apakah tekanan ekonomi yang dihadapi Indonesia belakangan ini sepenuhnya merupakan konsekuensi mekanisme pasar, atau ada permainan kepentingan yang lebih besar di baliknya?