Pencurian Kripto Fantastis! Dibobol, Kerugian Capai Rp65,28 Triliun
Pencurian Kripto Fantastis! Binance Dibobol, Kerugian Capai Rp65,28 Triliun (Istimewa).
law-justice.co - Mata uang trend saat ini Kripto (Cryptocurrency) adalah mata uang digital yang digunakan untuk melakukan transaksi atau investasi melalui internet. Dimana Kripto tidak berbentuk uang kertas atau koin fisik seperti rupiah. Ternyata bisa berhasil dibobol juga dan dirampok secara besar besaran di jaringan dunia Internet .
Peretas yang diduga berasal dari Korea Utara (Korut) mencuri 6,3 miliar dolar AS, atau Rp Rp 65,28 triliun, dari Binance -- bursa mata uang kripto terbesar di dunia.
Para analis mengaitkan pencurian yang memecahkan rekor ini dengan peretas dari Korea Utara, dan disebut-sebut sebagai perampokan finansial terbesar di dunia sepanjang masa.
Dampak pencurian dimana harga mata uang kripto sempat turun menyusul kabar, sementara Binance menghentikan layanan penarikan dana dan menyatakan akan menggunakan dana perusahaan untuk menutupi kerugian. Penerbit stablecoin — termasuk Tether yang berbasis di El Salvador dan World Liberty Financial yang didukung oleh Trump — membekukan separuh aset yang dicuri.
Seorang sumber yang mengetahui situasi tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa Binance tengah bekerja sama dengan Biro Investigasi Federal (FBI) dan Dinas Rahasia Amerika Serikat (USSS).
"Ini adalah serangan yang kompleks, dan kami berupaya semaksimal mungkin dalam koordinasi dengan penegak hukum untuk menyelesaikannya," tulis Binance dalam sebuah unggahan di platform X.
Pihak bursa menyatakan bahwa dana nasabah aman dan mereka sedang bekerja sama dengan berbagai mitra untuk membekukan sebagian aset yang terdampak; sejauh ini, sekitar 3 miliar dolar AS telah terlacak.
Pada Jumat 30 Oktober, Binance sempat menyampaikan harapan dapat membuka kembali layanan penarikan dana dalam 48 jam ke depan. Namun, tidak ada keterangan mengenai status sisa dana sebesar 3,3 miliar dolar AS.
Binance menyatakan telah menyisihkan sekitar 6,34 miliar dolar AS dari dana internal perusahaan untuk menutupi kerugian, tanpa merinci asal dana itu. Menurut situs webnya, perusahaan memiliki dana cadangan bitcoin $1 miliar dolar AS, yang dirancang untuk melindungi aset nasabah jika terjadi pelanggaran keamanan. Changpeng Zhao, pendiri Binance, mengungkapkan melalui platform X bahwa perusahaan memiliki saham di SpaceX dengan nilai lebih 1 miliar dolar AS.
Menurut perusahaan analisis blockchain asal AS, TRM Labs dan Chainalysis, sebagian besar aksi pencurian berlangsung sekitar 20 menit yang dimulai pada Kamis malam. Serangan ini memiliki kemiripan dengan serangan-serangan besar sebelumnya yang juga dikaitkan dengan Korut.
TRM menyatakan para penyerang mampu memerintahkan dompet Binance mengosongkan isi ke dalam dompet yang dikendalikan oleh peretas. Peristiwa ini serupa dengan pencurian di bursa kripto Bybit pada tahun 2025, yang menurut FBI didalangi oleh Korut.
"TRM mengaitkan serangan ini dengan... unit peretas elite Korut," ungkap perusahaan itu dalam sebuah analisis yang diunggah di situs webnya.
Perusahaan analisis blockchain asal Inggris, Elliptic, juga meyakini bahwa Korut berada di balik pencurian tersebut. "Insiden ini hampir bisa dipastikan merupakan pencurian terbesar yang pernah diketahui," ujar Elliptic.
Terbesar Dalam Sejarah
Menurut otoritas AS dan Korea Selatan, serta para pakar keamanan siber, Korut bertahun-tahun menggunakan unit siber yang berafiliasi dengan negara untuk melakukan spionase, pencurian finansial, dan penggalangan pendapatan.
Korut secara rutin membantah. Perwakilan mereka di Jenewa maupun kedutaan besar Korut di Tiongkok tidak segera menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Kedutaan Besar AS di London menyatakan tidak dapat memberikan komentar mengenai kemungkinan adanya penyelidikan. USSS, juga tidak menanggapi permintaan komentar yang dikirimkan melalui surel di luar jam kerja AS.
Otoritas Pengatur Layanan Keuangan Abu Dhabi, yang menerbitkan izin operasional utama bagi Binance, menyatakan mereka berkoordinasi erat dengan Binance dan terus memantau insiden itu.
"Dana Anda aman dan kami akan menanggung seluruh kerugian," ujar salah satu CEO Binance, Richard Teng, melalui platform X. "Investigasi kami belum mengarah pada pihak individu tertentu sebagai pihak yang bertanggung jawab."
"Ini adalah peretasan terbesar dalam sejarah," ungkap Aravind Srinivasan dari perusahaan penyedia likuiditas (market maker) GSR, di tengah penurunan harga aset kripto secara luas.
Bitcoin (BTC) sempat menyentuh level terendah dalam enam minggu di angka US$76.368, sementara ether (ETH) turun lebih dari 3 persen ke level terendah dalam dua bulan di angka US$2.178, sebelum akhirnya pasar kembali stabil.
BNB — token yang awalnya diluncurkan sebagai Binance Coin dan dapat digunakan untuk membayar biaya transaksi di Binance — turun 5,3 persen dalam 24 jam terakhir menjadi US$699,54, menurut data CoinGecko. Di saat yang sama, menurunnya kepercayaan pasar turut berdampak pada saham bursa kripto yang terdaftar di bursa efek.
Mengapa kripto bisa dicuri hacker?
Karena aset kripto disimpan dan dipindahkan secara digital. Jika hacker berhasil membobol sistem keamanan atau mencuri kunci akses dompet digital, aset tersebut bisa dipindahkan tanpa izin pemiliknya.
Kesimpulannya: Kripto adalah aset digital yang dapat diperjualbelikan melalui internet. Nilainya bisa sangat tinggi, tetapi risikonya juga besar karena harga berfluktuasi dan ancaman kejahatan siber.
Perangkat Diretas
Menurut Binance, investigasi awal menunjukkan peretasan ini kemungkinan bermula dari aptop milik salah satu insinyur Binance yang telah disusupi. Hal ini memberikan akses kepada pelaku untuk masuk ke salah satu sistem perusahaan dan melakukan penarikan dana secara tidak sah.
"Tim keamanan kami sedang melacak seluruh alur serangan melalui perangkat yang telah disusupi, yang diduga menjadi titik awal insiden ini," jelas pihak Binance.
Perusahaan kemudian menambahkan bahwa mereka telah menemukan titik-titik penyusupan lainnya. Selain potensi hilangnya aset, pelanggaran keamanan ini kemungkinan akan membawa dampak yang lebih luas bagi sektor kripto — sektor yang memang berada di bawah tekanan akibat kenaikan suku bunga AS dan melemahnya permintaan dari pembeli dana yang diperdagangkan di bursa (ETF).
"Kasus pencurian kripto ternyata bukan kejadian baru. Peneliti TRM Labs mencatat, sepanjang tahun lalu, peretas berhasil mencuri aset kripto senilai US$2,9 miliar atau sekitar Rp47,85 triliun. Pencurian tersebut terjadi dalam hampir 150 serangan siber terhadap berbagai platform dan layanan kripto."
Intinya: Kejahatan terhadap aset kripto terus menjadi ancaman. Semakin besar nilai aset digital yang disimpan, semakin besar pula potensi kerugian jika sistem keamanannya berhasil ditembus.



Komentar