Alasan Luhut Sering Ajak Investor China: Gampang Disuruh

Kamis, 12/09/2019 19:46 WIB
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (PublikSatu.com)

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan (PublikSatu.com)

Jakarta, law-justice.co - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengungkap alasannya kerap mengajak investor asal China untuk menanamkan modalnya di Indonesia.

Seperti diketahui berbagai perusahaan asal China telah berinvestasi di Tanah Air di berbagai sektor bisnis.

Luhut mengatakan, alasan China bisa banyak berinvestasi di Indonesia karena mudah `disuruh` memenuhi syarat investasi.

"Kalau saya di-challenge Luhut lagi-lagi China, China itu gampang, (mereka) kita suruh apa saja mau!" kata Luhut di Djakarta Theatre seperti dikutip dari Detik.com, Kamis (12/9/2019).

Menurut Luhut, China memiliki kesamaan dengan rule of thumb yakni syarat para investor untuk berinvestasi di Indonesia.

"Orang-orang selalu kritik saya China terus, tidak, kita punya rule of thumb untuk investasi," ujar Luhut.

Rule of thumb tersebut berisikan sejumlah syarat untuk investor yang mau menanamkan modalnya di Indonesia. Pertama, membawa teknologi yang ramah lingkungan. Kedua, memberi nilai tambah bagi Indonesia dalam mengolah sumber daya mineral. Ketiga, mendidik tenaga kerja lokal, melalui syarat keempat, yakni transfer teknologi.

"Siapa saja mau dari bulan dia investasi seanjang teknologinya ramah lingkungan, transfer teknologi ke tenaga lokal, oke tenaga lokal dalam 4 tahun pertama belum bisa. Tapi kau (China) pakai tenaga asingmu tapi sementara itu kau harus mendirikan politeknik untuk nanti mengganti mereka tahun 3-4 seterusnya. Itu yang terjadi di Morowali sekarang. Kita tidak mau kalau Jepang misalnya, tidak teknologi transfer," beber Luhut.

Persoalan ini pun ia sampaikan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kata Luhut, investasi itu harus disesuaikan dengan kepentingan nasional, dan siapa pun investornya, selama memenuhi kepentingan nasional maka ia tak takut meneruskannya sekali pun `ditembak`.

"Jadi buat saya, saya bilang ke Presiden, Pak kan kita bicara national interest kita. Sepanjang national interest bisa kita amankan ya peduli mana, dari mana pun Pak? Ya kalau orang mau tembak saya biar saja, saya kan tidak mau mengganggu, saya hanya mengabdi, membuat republik ini lebih bagus lagi," tegas Luhut.

Selain itu, ia menerangkan, investasi selama ini yang berasal dari China menggunakan skema business to business (B to B), bukan government to government (G to G). Sehingga, rasio utang Indonesia terhadap PDB masih di bawah angka 30%.

"Dan terakhir itu nilai tambah industri dan semuanya selalu kita lakukan B to B, kita belum ada dengan China itu G to G. Sehingga debt to GDP kita tetap kita bisa pelihara di bawah angka 30%," tandas dia.

(Regi Yanuar Widhia Dinnata\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar