Tiyo Ardianto, Aktivis Muda Pengawal Demokrasi

Jejak Perlawanan yang Tak Padam oleh Teror dan Pelaporan

Rabu, 12/08/2026 13:07 WIB
Tiyo Ardianto, Aktivis Muda Pengawal Demokrasi. (Sekolapedia)

Tiyo Ardianto, Aktivis Muda Pengawal Demokrasi. (Sekolapedia)

[INTRO]

Kritik terhadap kekuasaan membawa Tiyo Ardianto keluar dari ruang kampus dan masuk ke medan yang jauh lebih berisiko. Mantan Ketua BEM UGM itu menghadapi rangkaian tekanan—mulai dari pesan ancaman dan dugaan penguntitan, serangan terhadap reputasinya, temuan alat pelacak di kendaraan, hingga laporan polisi—namun jejak publiknya menunjukkan ia belum meninggalkan arena perlawanan.

Tiyo berkomitmen akan tetap bersuara di berbagai forum, guna mengkritik rezim pemerintahan yang saat ini sedang berkuasa, sekalipun sudah berstatus purna sebagai Ketua BEM UGM. Menurut Tiyo, tugas untuk bersuara adalah hal yang harus dilakukan sepanjang hayat, dan tidak hanya didasarkan pada saat menduduki jabatan tertentu saja.

“Saya kira bersuara itu adalah tanggung jawab sosial kita sebagai rakyat Indonesia. Kalau misalnya kita melihat rumah kita terbakar, kalau kita diam saja, apa itu namanya kalau bukan bodoh atau kita jadi salah satu bagian yang menyebabkan kebakaran tersebut. Bersuara itu artinya kita ngomong kalau rumah kita terbakar. Bersuara itu artinya kita berusaha supaya rumah yang terbakar itu padam apinya,” ucap Tiyo Ardianto saat ditemui setelah mengisi acara Konferensi “Bangunlah Kekuatan Politik Anak Muda”, yang berlangsung di Selasar Barat Fisipol UGM, Selasa (19/5/2026), sebagaimana dilansir Suarapemudajogya.

Menurut Tiyo, ketika melihat kondisi bangsa dan negara saat ini, tindakan untuk bersuara menjadi suatu keniscayaan, yang harus terus dilakukan sampai kapanpun. “Saya kira bersuara itu bukan lagi sebuah pilihan, tapi itu keniscayaan, yang harus dilakukan sampai kapanpun, dengan cara apapun, meskipun sudah tidak lagi menjabat Ketua BEM UGM,” ujar Tiyo .

Nama Tiyo mulai mencuri perhatian secara nasional ketika BEM UGM di bawah kepemimpinannya melontarkan kritik keras terhadap kebijakan pemerintahan Prabowo-Gibran, terutama program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada Februari 2026, Tiyo dan pengurus BEM UGM juga mengirim surat kepada UNICEF terkait kasus seorang anak di Nusa Tenggara Timur yang meninggal setelah disebut mengalami kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan. Tak lama setelah itu, Tiyo mengaku menerima teror dari sejumlah nomor asing.

Menurut pengakuan Tiyo, teror tersebut dimulai pada 9 Februari 2026. Pesan yang diterimanya antara lain berisi ancaman penculikan dan ancaman membuka aib. Ia juga mengaku pernah dikuntit oleh orang tak dikenal yang mengambil foto dirinya ketika berada di sebuah kedai. Tekanan itu tidak berhenti pada dirinya. Tiyo mengatakan keluarganya ikut terdampak. Sejumlah laporan media mencatat adanya serangan digital dan pembunuhan karakter, termasuk tuduhan bahwa dirinya merupakan agen asing, dikaitkan dengan kelompok atau identitas tertentu, hingga tuduhan terkait pengelolaan dana pendidikan. Tiyo menyebut situasi tersebut membuat keluarganya, termasuk ibunya, merasa takut.

Di tengah tekanan tersebut, Tiyo tetap tampil di ruang publik. Ia terus menyuarakan kritik terhadap kebijakan pemerintah dan menempatkan kampus sebagai salah satu ruang penting untuk mengawasi kekuasaan. Kritik itu membuat namanya semakin dikenal, sekaligus memunculkan tudingan bahwa gerakannya memiliki afiliasi politik tertentu. Namun tudingan tersebut tidak serta-merta mengubah posisi yang ia tampilkan sebagai aktivis independen.

Puncak tekanan berikutnya terjadi pada pertengahan Juni. Setelah mengikuti aksi di kawasan Gejayan, Sleman, pada 13 Juni, Tiyo mengaku menemukan perangkat pelacak pada kendaraan yang digunakannya. Sehari kemudian, ia kembali menemukan perangkat serupa. Menurut keterangannya, dua perangkat tersebut terdeteksi melalui ponselnya dan ditemukan menempel pada kendaraan.

Tiyo menyebut temuan itu sebagai bentuk intimidasi. Ia menduga perangkat tersebut telah terpasang sejak 12 Juni, ketika kendaraan digunakan dalam perjalanan Yogyakarta-Semarang. Polisi di tingkat daerah pada saat itu menyatakan belum menerima laporan resmi mengenai kejadian tersebut dan mempersilakan Tiyo membuat laporan sesuai prosedur.

Peristiwa tersebut terjadi setelah Tiyo kembali berada di tengah aksi massa. Bagi Tiyo, kemunculan alat pelacak bukan sekadar insiden teknis. Ia menghubungkannya dengan rangkaian tekanan yang sebelumnya telah ia alami. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa semakin diteror, dirinya justru tidak akan mundur. Namun tekanan terhadap Tiyo kemudian mengambil bentuk lain: jalur hukum.

Pada Juni, pengacara Firdaus Oiwobo melaporkan Tiyo ke Polres Tangerang Selatan. Tiyo juga diadukan ke Bareskrim oleh kelompok yang menyebut dirinya sebagai Garda Prabowo. Pelaporan tersebut berkaitan dengan dugaan penghinaan terhadap Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka serta tudingan mengenai program MBG dan SPPG. Polisi menyatakan laporan tersebut masih berada dalam tahap penyelidikan.

Rangkaian tersebut membuat perjalanan politik Tiyo menarik untuk dicermati. Ia tidak lagi sekadar berbicara sebagai Ketua BEM yang menjalankan mandat organisasi mahasiswa. Setelah masa kepemimpinannya berakhir, ia justru tetap muncul di ruang publik sebagai mantan aktivis kampus yang membawa isu demokrasi, kebebasan berpendapat, dan kritik terhadap kekuasaan.

Jejak itu terlihat pada 11 Juli 2026 ketika Tiyo hadir dalam Forum Sedulur Maiyah Kudus. Di hadapan peserta forum, ia berbicara mengenai demokrasi, budaya politik dan arah peradaban Indonesia. Kritiknya tidak lagi terbatas pada satu kebijakan pemerintah. Ia membicarakan persoalan yang lebih mendasar: bagaimana cara berpikir membentuk ucapan, tindakan, kebiasaan, budaya hingga karakter sebuah bangsa.

Perubahan panggung itu penting. Setelah purna dari BEM UGM dan menghadapi tekanan hukum, aktivitas Tiyo memang tidak terlihat seintens ketika ia masih memimpin organisasi mahasiswa. Namun, setidaknya sampai pertengahan Juli, ia belum menunjukkan tanda meninggalkan isu politik yang selama ini diperjuangkannya.

Justru terdapat pergeseran bentuk perlawanan: dari mimbar aksi mahasiswa menuju forum diskusi dan ruang publik yang lebih luas. Di titik inilah kisah Tiyo menjadi lebih dari sekadar cerita tentang seorang aktivis yang dilaporkan polisi. Ia menjadi potret tentang bagaimana kritik terhadap kekuasaan dapat menghadapi berbagai lapisan tekanan—mulai dari serangan reputasi, ancaman digital, dugaan penguntitan, perangkat pelacak, hingga proses hukum.

Belum ada bukti publik yang dapat memastikan siapa pelaku di balik dugaan teror maupun pemasangan alat pelacak tersebut. Namun, yang lebih jelas adalah jejak waktunya. Kritik muncul, teror menyusul. Aktivitas jalanan berlanjut, perangkat pelacak ditemukan. Setelah itu laporan polisi datang. Dan ketika panggung BEM UGM telah ia tinggalkan, suara Tiyo masih terdengar dari forum-forum publik.

(Bandot DM\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar