Djoko Tjandra Ditangkap, Pengamat: Terlalu Dini Bahas Calon Kapolri

Sabtu, 01/08/2020 16:51 WIB
Buronan kakap Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (30/07) pukul 22.39 WIB. Ulin Nuha/law-justice.co

Buronan kakap Joko Soegiarto Tjandra alias Djoko Tjandra tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Kamis (30/07) pukul 22.39 WIB. Ulin Nuha/law-justice.co

Jakarta, law-justice.co - Pengamat komunikasi politik Emrus Sihombing mengapresiasi kinerja Mabes Polri menangkap buronan hak tagih Bank Bali Djoko Tjandra oleh tim yang dipimpin langsung Kabareskrim Polri Komjen Listyo Sigit Prabowo. Namun, dirinya menilai terlalu prematur jika mengaitkan penangkapan Djoko Tjandra dengan sosok calon Kapolri menggantikan Jenderal Idham Azis yang pensiun tahun depan.

"Namun terlalu prematur bila hanya berlandaskan prestasi yang satu ini, ada aktor tertentu mengaitkan dengan pantas tidaknya sosok individu menjadi Kapolri menggantikan Idham Azis yang akan memasuki masa pensiun tahun depan," ujar Emrus, dikutip jpnn.com, Sabtu (1/8/2020).

Emrus mengatakan di beberapa media massa memuat pandangan aktivis antikorupsi Boyamin Saiman dan politikus Partai Gerindra Fadli Zon yang seolah berada pada posisi berbeda terkait sosok Kapolri ke depan dengan keberhasilan menangkap Djoko Tjandra.

"Aktivis antikorupsi, Boyamin Saiman menyebutkan seseorang layak menjadi Kapolri. Jadi, Boyamin seolah `tim sukses` dari sosok tertentu. Ini sangat tidak produktif di tengah Polri yang terus berkomitmen bertugas atas dasar Promoter," katanya.

"Sementara salah seorang politikus dari partai yang ketumnya menjadi menteri saat ini, Fadli Zon, seolah menyindir dengan menyebut, "oh ingin jadi kapolri," tambahnya.

Menurutnya, sindiran FZ ini tidak bedanya memosisikan dirinya sebagai oposisi dalam politik praktis yang transaksional. Sementara, kata dia, karier polisi hingga menjadi nomor satu di kepolisian atas dasar profesional, integritas dan kapabilitas, yang diukur dengan prestasi.

Namun, Emrus mengaku harus memberi ruang alternatif, karena boleh jadi BS dan FZ mempunyai data, pengamatan dan dasar pemikiran yang berbeda dengan dirinya sehingga mereka berdua melontarkan pandangan seperti itu.

Meskipun demikian, kata Emrus, di satu sisi wacana yang dilontarkan BS dan FZ tersebut terlalu dini dan tidak kontekstual dengan prestasi Bareskrim Polri menangkap Djoko Tjandra.

"Karena, menurut saya, sosok tersebut bekerja atas dasar tugas, tanggung jawab, dan panggilan sebagai penegak hukum, bukan karena ingin posisi yang lebih tinggi," ungkap direktur eksekutif EmrusCorner itu.

Karena itu, Emrus berpendapat yang perlu didorong oleh semua kalangan ialah Bareskrim terus menorehkan prestasi dengan menangkap dan membawa ke proses hukum satu per satu para koruptor yang masih melarikan diri.

Dia mengingatkan jangan hanya menangkap Djoko Tjandra lalu melempem. Menurut catatan EmrusCorner, kata dia, ada 40 orang koruptor salah satu di antaranya Joko yang sudah ditangkap pekan ini.

"Jadi, dengan tertangkapnya DT, maka masih ada 39 orang yang menikmati `udara segar`," ucapnya.

Jika operasi penangkapan terhadap semua koruptor yang melarikan diri tersebut dapat direalisasikan dalam kurun empat tahun ke depan, Emrus yakin semua akan angkat topi untuk Polri.

"Seluruh rakyat Indonesia akan bergembira sembari memberikan dua jempol sekaligus kepada Mabes Polri, terutama kepada Bareskrim Polri sebagai wujud apresiasi luar biasa. Semoga," ungkapnya.

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar