Rizal Ramli: Pemerintah Ulangi Lagi Kebiasaan Buruk Saat Krisis 1998

Senin, 17/02/2020 07:35 WIB
Rizal Ramli, ekonom senior (Indonesiaberita.com)

Rizal Ramli, ekonom senior (Indonesiaberita.com)

Jakarta, law-justice.co - Di era pemerintahan Presiden Joko Widodo ini disebut ada pejabat yang melakukan kebiasaan buruk seperti di masa krisis ekonomi tahun 1997-1998 lalu.

Kebiasan yang dimaksud adalah penolakan realita atau self denial terhadap bobroknya perekonomian negara.

Menurut ekonom senior DR. Rizal Ramli, kebiasaan tersebut setidaknya sudah terlihat selama dua tahun terakhir.

RR, begitu Rizal Ramli kerap disapa, menceritakan bagaimana pengalamannya saat pemerintah mengabaikan pandangannya mengenai perkiraan krisis ekonomi yang akan menimpa Indonesia 1997-1998.

Saat itu, tepatnya bulan Oktober 1996, pandangan RR diterbitkan dalam perkiraan `Econit’s Economic Outlook 1977` bahwa ekonomi Indonesia bakal mengalami krisis 1997/1998.

Namun pandangan satu-satunya ekonom yang memperkirakan krisis ekonomi 1998 dalam dua tahun sebelum terjadi ini dibantah mentah-mentah oleh sejumlah analis dalam negeri maupun luar negeri.

"Perkiraan RR berdasarkan utang swasta yang kelewatan, defisit current account besar, overvaluasi rupiah dan kelemahan struktural dalam perbankan Indonesia. Namun akhirnya krisis ekonomi Indonesia 1997/98 menjadi krisis terbesar di Asia, ekonomi Indonesia anjlok dari rata-rata 6% pertahun menjadi -12,9% di tahun 1998," kata Rizal Ramli dalam keterangannya kepada redaksi yang juga diunggah di akun Twitternya, Minggu (16/2).

Saat itu, jelasnya, para pejabat ekonomi Indonesia selalu menolak realita atau self denial dengan selalu mengatakan bahwa fundamental ekononomi RI bagus.

Kini, kebiasaan pemerintah yang berkilah itu kembali dilihat oleh mantan Menko Perekonomin ini.

"Dua tahun terakhir, pejabat-pejabat Indonesia mengulang kebiasaan buruk self-denial (menolak kenyataan) bahwa kondisi ekonomi semakin memburuk, tanpa kemampuan melakukan inovasi dan terobosan kebijakan untuk turn-around. Kita dapat menghindari krisis, tapi tidak dengan cara-cara lama Pak Jokowi," tandasnya. (Rmol.id).

(Annisa\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar