Fadli Zon Curiga Ada Bisnis Kelompok Tertentu di Balik Aksi Teror

Selasa, 19/11/2019 09:35 WIB
Wakil Ketua DPR Fadli Zon (Fajar.co.id)

Wakil Ketua DPR Fadli Zon (Fajar.co.id)

Jakarta, law-justice.co - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Fadli Zon mengaku curiga ada bisnis kelompok tertentu di balik aksi terorisme yang kini berkembang.

Hal ini dia ungkapkan untuk menanggapi aksi bom bunuh bunuh yang terus berulang.

Pernyatan tersebut diungkapkan fadli Zon lewat akun twitternya @fadlizon; pada Senin (18/11/2019) seperti melansir tribunnews.com.

Menurutnya, teror berupa bom bunuh diri sangat meresahkan seluruh pihak.

Dirinya pun melaknat aksi teror berupa bom bunuh, seperti yang terjadi di Polresta Medan, Medan, Sumatera Utara pada Selasa (12/11/2019) lalu.

Sebab bukan hanya menebarkan ketakutan dan merenggut korban jiwa, aksi teror juga katanya telah merusak kedamaian dan memicu sikap saling curiga antar warga negara.

Pernyataannya sangat beralasan, sebab banyak dari masyarakat yang ketakutan akan aksi teror.

Tetapi sebaliknya, terdapat pula kelompok masyarakat yang terus menerus menjadi sasaran dan terus dipojokkan.

"Dalam tujuh belas tahun terakhir, sejak tragedi bom Bali, polisi sebenarnya telah menangkap lebih dari seribu orang terduga teroris. Menurut Komnas HAM, hingga 2016 ada sekitar 118 terduga teroris telah ditembak mati," jelas Fadli Zon.

"Itu belum menghitung jumlah yg ditembak mati dalam tiga tahun terakhir. Dengan demikian, operasi anti-teror di Indonesia tercatat sebagai operasi anti-teror paling lama dan terbesar di dunia," tambahnya.

Sedangkan apabila dilihat dari sisi anggaran, Polri diungkapkannya meminta tambahan anggaran hingga sebesar Rp 44 triliun untuk penanganan terorisme pada bulan Juni 2018.

Anggaran tersebut katanya dikhususkan untuk menunjang kegiatan Satgas Antiteror guna membasmi sel-sel teroris di tiap Polda seluruh Indonesia.

"Namun, upaya itu terbukti tak bisa mencegah terjadinya teror," imbuhnya.

Fadli Zon pun mengutarakan banyak pertanyaan, mulai dari alasan mengapa aksi teror masih terjadi hingga alasan pemerintah dan aparat yang terus mengeksploitasi masalah radikalisme dan terorisme.

"Kenapa aksi teror masih saja terus terjadi? Di sisi lain, knp pemerintah dan aparat terlihat seperti sengaja mengeksploitasi isu ini, seolah realitas masyarakat kita adlh masyarakat radikal dan teror? Bisakah kita menghilangkan `radikalisme` dan `terorisme` rutin di Indonesia?," jelas Fadli Zon.

"Saya khawatir, cara pemerintah serta aparat dalam mengatasi isu teror dan radikalisme yang masih menggunakan gaya `war on terror` ala Amerika saat menyikapi Tragedi WTC (World Trade Center)," tambahnya.

Apabila demikian, lanjutnya, harapan untuk dapat meredam radikalisme diyakininya malah kian mengundang antipati dan skeptisisme masyarakat.

Sebab, gaya `war on terror` atau semacamnya yang diterapkan oleh Amerika Serikat selaku negara adidaya sudah lama dikritik dan dikoreksi.

"Bahkan, kemudian terungkap bhw kelompok-kelompok teror yg diburu oleh Amerika sesungguhnya adlh kelompok yg mereka ciptakan sendiri," jelas Fadli Zon.

"Bahkan pihak Rusia berani menuduh bhwa ISIS adlh ciptaan Amerika sendiri, sehingga `terorisme` bisa sj jadi bisnis kelompok atau oknum tertentu," ungkapnya.

Daftar Bom Target Polisi

Sebelum aksi bom bunuh diri di Medan, Sumatera Utara, tercatat ada sejumlah aksi teror bom bunuh diri di Indonesia.

Dari pernyataan pihak kepolisian, aksi bom bunuh diri yang pernah terjadi dilakukan oleh kelompok ISIS dan jaringannya.

1. Bom Bunuh Diri di Sukorajo

Ledakan yang diduga bom bunuh diri terjadi di Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran 2019 di Tugu Kartasura, milik Polres Sukoharjo, Senin (3/6/2019) sekitar pukul 23.00 WIB.

Diberitakan Kompas.com, Senin (3/6/2019), Rofik Asharudin, pelaku bom bunuh diri di pos polisi tersebut juga terkait dengan kelompok ISIS.

Kapolda Jawa Tengah Irjen Rycko Amelza Dahniel menyatakan, pelaku peledakan di Simpang Tiga Tugu Kartasura pada Senin (3/6/2019) malam, berbaiat kepada pimpinan ISIS Abu Bakar Al Baghdadi melalui media sosial.

Menurut Rycko, Rofik belajar merakit bom melalui internet.

"Selanjutnya dia mulai menerima berbagai doktrin, berbagai pencerahan-pencerahan katanya, akhirnya di akhir tahun 2018 di berbaiat kepada Al Baqhdadi," kata Kapolda di Solo, Rabu (5/6/2019), seperti dikutip Antara.

2. Serangan teror di Sarinah, Jakarta

Aksi teror yang terjadi di sekitar Gedung Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1/2016) juga berkaitan dengan kelompok ISIS.

Pernyataan tersebut dikatakan oleh Kapolda Metro Jaya saat itu, Irjen Tito Karnavian.

"Target mereka satu, kepolisian. Dua, simbol-simbol barat. Otomatis simbol barat karena ini perang ISIS melawan barat," ujar Tito saat jumpa pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis sore.

Lima orang melakukan penyerangan di sekitar Sarinah. Mereka tewas setelah meledakkan diri dan ditembak mati polisi. Dalam penyerangan itu, dua warga sipil tewas.

Satu orang warga negara Kanada dan satu orang warga negara Indonesia.

Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu sebelumnya mengatakan, kelompok teror yang beraksi di sekitar Gedung Sarinah tersebut sengaja melakukan aksinya pada saat aparat keamanan lengah.

Selain itu, kelompok ISIS sendiri mengklaim bahwa pihaknya bertanggung jawab atas kejadian tersebut melalui media propagandanya, Aamaq.

"Pejuang ISIS menjalankan serangan bersenjata pagi ini menyasar warga asing dan pasukan keamanan yang melindungi mereka di ibu kota Indonesia," tulis Aamaq.

3. Bom bunuh diri di Mapolresta Solo

Aksi bom bunuh diri juga terjadi di Mapolresta Solo, Jawa Tengah, Selasa (5/7/2016).

Pelaku yang diketahui bernama Nur Rohman terdeteksi juga mempunyai keterkaitan dengan kelompok ISIS. Dalam aksinya, Nur melakukannya secara pribadi.

Ia diketahui berasal dari kelompok Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JADKN).

Di Indonesia, JADKN dipimpin oleh Bahrun Naim.

Kelompok ini berbeda dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

Kendati demikian, kedua kelompok tersebut sama-sama berafiliasi dengan ISIS.

Menurut Kapolri saat itu, Jenderal Pol Badrodin Haiti, pelaku merakit sendiri bom yang diledakkannya.

Usia bom yang digunakan oleh pelaku sama dengan bom yang dipakai dalam serangan teroris di kawasan Thamrin, Jakarta, pada Januari 2016.

Selain itu, Nur Rohman juga merakit bom melihat dari internet dan video tutorial karena polisi belum menemukan rekam jejak atau petunjuk apakah Nur Rohman pernah mengikuti pelatihan militer.

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar