Bukan Netanyahu, Presiden Israel Pilih Eisenkot Buat Pemerintah Baru

Minggu, 08/11/2026 15:02 WIB
Bukan Netanyahu, Presiden Israel Pilih Eisenkot Buat Pemerintah Baru. (Istimewa).

Bukan Netanyahu, Presiden Israel Pilih Eisenkot Buat Pemerintah Baru. (Istimewa).

law-justice.co - Presiden Israel, Isaac Herzog secara resmi telah menunjuk mantan Panglima Militer, Gadi Eisenkot untuk membentuk pemerintahan baru menyusul hasil pemilu mentok.

Herzog menyampaikan keputusannya kepada Eisenkot pada Sabtu (7/11) malam dan secara resmi akan menyerahkan mandat kepadanya dalam sebuah upacara pada Minggu.

Keputusan ini diambil setelah Herzog menggelar konsultasi dengan partai-partai politik pekan ini untuk menentukan siapa yang akan ditunjuk membentuk pemerintahan.

Sebab, kubu petahana, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan rivalnya, Eisenkot tidak berhasil meraih mayoritas dalam pemilihan umum 27 Oktober lalu.

Koresponden Al Jazeera Nour Odeh, yang melaporkan keputusan Herzog dari Ramallah, Tepi Barat, Palestina, mengatakan Presisden Herzog "menempuh jalur yang sudah dapat diprediksi" dengan memilih Eisenkot karena ia memperoleh jumlah rekomendasi tertinggi.

"Kerja keras Eisenkot baru akan dimulai sekarang untuk menyusun pemerintahan yang mampu memenangkan pemungutan suara kepercayaan di Knesset, yang pertama, tidak akan melanggar terlalu banyak janji yang ia buat selama kampanye; dan kedua, mampu bertahan menghadapi oposisi dari blok sayap kanan yang dipimpin Netanyahu," kata Odeh.

Dalam pemilu Oktober lalu, aliansi partai Eisenkot, Yashyar, dan empat partai lain hanya memperoleh 48 kursi. Sedangkan blok sayap kanan Netanyahu mengamankan 53 kursi.

Meski kubu Netanyahu memperoleh suara lebih banyak, keduanya masih belum mencapai 61 kursi yang diperlukan untuk memperoleh mayoritas parlemen.

Sementara itu, partai-partai Arab, yang mewakili warga Palestina di Israel, meraih rekor 19 kursi. Jumlah ini terbesar sejak partai Arab Israel berhasil masuk parlemen Israel Knesset.

Bagaimana peta suara partai saat ini?

Sebanyak 67 anggota parlemen, termasuk dari partai-partai yang dipimpin Arab, mendukung Eisenkot dan Yashar, untuk membentuk pemerintahan berikutnya. Sementara itu, hanya 46 anggota parlemen yang mendukung Netanyahu.

Eisenkot akan memiliki waktu 28 hari dengan kemungkinan perpanjangan 14 hari untuk membentuk koalisi yang menguasai sedikitnya 61 dari 120 kursi Knesset.

Sejauh ini, Eisenkot telah menutup kemungkinan membentuk pemerintahan bersama partai-partai yang dipimpin Arab, yang akan memberinya blok dengan 67 kursi.

Eisenkot dilaporkan tengah melobi partai-partai mantan koalisi Netanyahu untuk bergabung dengan koalisinya seperti United Torah Judaism dan Shas. Namun, jika Eisenkot berhasil merangkul dua partai ultra-Ortodoks, pun ia hanya akan memperoleh tepat 61 kursi saja.

Dia juga dapat membentuk pemerintahan dengan kurang dari 61 kursi jika berhasil memenangkan pemungutan suara kepercayaan di parlemen.

Jika Eisenkot gagal membentuk pemerintahan dalam batas waktu yang diberikan, Herzog akan menunjuk kandidat lain. Jika kandidat kedua juga gagal, mayoritas parlemen dapat mendukung kandidat ketiga, yang akan diberikan waktu terakhir selama 14 hari.

Jika sekali lagi tidak ada pemerintahan yang terbentuk, pemilu baru akan digelar dalam waktu 90 hari, sementara Netanyahu tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara.

 

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar