8 Kali Reshuffle, Prabowo Disebut Haus Kekuasaan demi Pilpres 2029
Presiden Prabowo Subianto (kanan) didampingi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka bersiap melantik wakil menteri serta kepala dan wakil kepala badan di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/10/2026). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
law-justice.co - Pengamat Kebijakan Publik, Fernando Emas buka suara merespons soal frekuensi perombakan kabinet Presiden Prabowo Subianto yang disebut telah mencapai delapan kali.
Dia mempertanyakan apakah reshuffle benar-benar didasarkan pada evaluasi kinerja menteri atau justru menjadi instrumen untuk mengakomodasi kepentingan politik menjelang Pilpres 2029.
Fernando mengatakan, pergantian anggota kabinet yang berulang memunculkan pertanyaan mengenai pertimbangan utama Presiden dalam menentukan komposisi pemerintahannya.
“Kalau mencermati pernyataan tersebut, kemungkinan Presiden Prabowo Subianto di sisa masa jabatannya akan sering melakukan reshuffle kabinet. Pemerintahan Prabowo Subianto masih berjalan dua tahun, tetapi sudah melakukan delapan kali reshuffle kabinet,” ujarnya seperti melansir Monitorindonesia.com.
Dia mengibaratkan reshuffle seperti pergantian pemain dalam pertandingan sepak bola. Menurutnya, sejumlah nama yang berada di luar kabinet bisa saja telah disiapkan untuk menggantikan menteri yang sedang menjabat.
“Sama seperti pemain sepak bola, pemain cadangan berada di luar lapangan. Berarti Prabowo sudah mempersiapkan beberapa nama yang akan dimasukkan dalam kabinet menggantikan para anggota kabinet saat ini,” katanya.
Fernando mempertanyakan apakah pergantian tersebut benar-benar mengutamakan kinerja dan kompetensi. Dia menilai reshuffle berpotensi menjadi sarana mengakomodasi berbagai kelompok politik untuk memperkuat dukungan terhadap pemerintahan.
“Reshuffle dilakukan hanya untuk memberikan kesempatan lebih banyak kepada yang pro dan kontra terhadap pemerintahan bisa menikmati masuk menjadi anggota kabinet. Tujuannya agar bisa memuluskan untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2029,” tegasnya.
Fernando bahkan melontarkan kritik keras terhadap arah politik tersebut. “Sehingga semakin memperjelas bahwa Prabowo haus kekuasaan dan ingin melanggengkan kekuasaannya,” ujarnya.
Dia juga menyampaikan prediksi politik mengenai masa depan kepemimpinan Prabowo.
“Namun, sepertinya hal tersebut akan sia-sia karena saya perkirakan Prabowo Subianto tidak akan menuntaskan kepemimpinannya sampai akhir masa jabatannya dan Pilpres 2029 tanpa Prabowo Subianto,” pungkas Fernando.
Pernyataan tersebut merupakan penilaian dan prediksi politik Fernando Emas, bukan kepastian mengenai kelangsungan masa jabatan Presiden.




Komentar