Dari Caranya Memimpin, Prabowo Disebut Seperti Mau Bubarkan Negara Ini

Selasa, 04/08/2026 06:36 WIB
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan pertama pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPR RI, Jakarta, pada Jumat, 15 Agustus 2025. (Foto: BPMI Setpres)

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pidato kenegaraan pertama pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI di Gedung Nusantara MPR/DPR/DPR RI, Jakarta, pada Jumat, 15 Agustus 2025. (Foto: BPMI Setpres)

law-justice.co - Akademisi dan Pengamat Kebijakan Publik, Muhammad Syukur Mandar melontarkan sejumlah kritikan menohok terkait sejumlah kondisi di Indonesia saat ini, mulai dari gaya kepemimpinan Presiden, kondisi ekonomi, hingga pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Menurut Syukur, arah kebijakan pemerintah saat ini justru membuat dirinya kehilangan optimisme terhadap masa depan Indonesia. Dia menilai berbagai persoalan nasional tidak menunjukkan tanda-tanda perbaikan.

“Apa yang membuat saya optimis? Utang banyak, kebijakan amburadul, presiden nggak punya visi, kabinet gemuk nggak ada guna, DPR banyak nggak ada guna, yang jadi pejabat begundal, maling semua. Brengsek semua,” sebutnya.

Syukur menilai kondisi tersebut menjadi alasan dirinya memandang Indonesia sedang bergerak ke arah yang keliru. Bahkan, ia menyebut cara memimpin Prabowo dapat membawa negara menuju kehancuran.

“Dibawa ke jurang kehancuran. Nggak dibawa kemana-mana. Mau dibubarin negara ini, dibubarin oleh Presiden Prabowo sendiri dari caranya memimpin,” kata Syukur.

Dia juga menyoroti kondisi masyarakat. Menurutnya, rakyat sebenarnya semakin cerdas, namun belum memiliki keberanian untuk bergerak menghadapi berbagai persoalan yang terjadi.

“Rakyat makin pintar, tapi nggak ada yang bergerak. Yang bodoh juga tambah bodoh, yang pintar tapi nggak memelihara kejujuran. Banyak para kiai dan ulama, mau terima kebodohan ini. Mau palsukan kebenaran di depan mata. Apa yang saya mau optimis?” ucap dia.

Tidak berhenti di situ, Syukur ikut mengkritik Program Koperasi Desa Merah Putih. Dia menilai program tersebut tidak memenuhi prinsip koperasi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Koperasi.

“Itu permen aja. Kopdes itu sebenarnya bukan Kopdes kok, itu mah warung politik. Kios politik yang dibikin,” imbuhnya.

Menurut Syukur, koperasi memiliki prinsip keanggotaan dan pengelolaan berdasarkan keputusan para anggota.

“Kalau bicara Kopdes, maka rujukanya Undang-Undang Koperasi. UU Koperasi itu prinsipnya membership, keanggotaan. Partnership, dan regulasi koperasi itu bergantung pada kehendak anggota,” ujarnya.

Dia pun mempertanyakan mekanisme pelaksanaan KDMP yang menurutnya berbeda dengan konsep koperasi.

“Tidak ada koperasi di republik ini yang dibuat oleh model Presiden Prabowo. Yang minjam koperasi, yang nampung uangnya Agrinas. Yang operasikan di bawah oknum tentara, SOP-nya nggak jelas, kemudian minjam ke bank dijaminkan pakai barang negara. Dijaminkan pakai aset negara. Dimana tuh?” jelasnya.

Di akhir pernyataannya, Syukur menyinggung dugaan korupsi dan menyatakan bahwa seorang pemimpin seharusnya tidak membiarkan praktik tersebut berlangsung.

“Pertanyaan sederhananya, kalau orang tidak punya motif membenarkan kamu mencuri sesuatu, dia akan memotong tanganmu. Kalau orang punya motif membiarkan kamu mencuri sesuatu, dia akan bikin UU melindungi kamu,” jelasnya.

“Kenapa dia membiarkan proyek MBG itu berjalan? Presdien tahu ada korupsi di situ, motifnya presiden tahu yang mencuri siapa. Presiden tahu siapa yang menyalahgunakan Koperasi Desa Merah Putih,” katanya.

 

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar