Dirut Peruri Buka-bukaan Soal Proyek Rp 500 Miliar di Pertamina

Senin, 28/09/2020 18:31 WIB
Dirut Perum Peruri Dwina Septiani Wijaya (RMco.id)

Dirut Perum Peruri Dwina Septiani Wijaya (RMco.id)

Jakarta, law-justice.co - Direktur Utama Perusahaan Umum Percetakan Uang Republik Indonesia (Perum Peruri) Dwina Septiani Wijaya buka suara terkait rencana kerja sama digitalisasi dengan PT Pertamina. Ia mengaku tidak bisa bicara banyak terkait rencana bisnis kedua perusahaan tersebut. Sebab, kerja sama itu bersifat rahasia atau confidential.

"Terkait hal yang bersifat kontrak tentunya mungkin ini hal yang confidential apalagi kami high security company. Jadi mungkin kami tidak banyak bicara," ujarnya, dilansir dari Viva.co.id, Senin (28/9/2020).

Hanya saja, dia menegaskan, Perum Peruri telah banyak bekerja sama untuk digitalisasi dengan berbagai perusahaan lain, tidak hanya Pertamina. Pelayanan maupun harga yang ditawarkan pun, kata Dwina merupakan kesepakatan terbaik.

"Mungkin kami hanya bisa jelaskan terkait Pertamina ini bahwa sama seperti apa yang kami juga sudah lakukan dengan demikian banyak klien kami yang lain, termasuk juga BUMN," ungkap dia.

Dia menekankan, atas polemik yang sudah berkembang di tengah masyarakat, hubungan antara Perum Peruri dan Pertamina masih berjalan dengan sangat baik. Tidak seperti yang digambarkan dari ucapan Ahok.

"Bahwa hubungan kami dengan Pertamina juga sangat baik. Jadi sebetulnya enggak seperti yang ramai-ramai yang disampaikan," tegas dia.

Sebelumnya, Ahok bercerita BUMN percetakan uang, Perum Peruri meminta uang kepada Pertamina sebesar Rp500 miliar untuk proses paperless. Ahok menilai ini tidak masuk akal.

"Saya dipaksa tanda tangan digital. Tapi Peruri gendeng juga, masa minta Rp500 miliar untuk proses paperless di kantor Pertamina. Itu (Peruri) BUMN juga," kata Ahok di YouTube POIN dikutip 16 September 2020.

Ahok menyindir untuk apa duit tersebut. Apakah itu mau dipakai untuk hanya tidur sepuluh tahun dan tidak mau bekerja lagi.

"Itu sama aja udah dapat (duit) Pertamina. Enggak mau bekerja lagi, tidur sepuluh tahun. (Mau) Jadi ular sanca, ular piton? saya bilang," kata mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar