Komisi Kejaksaan Terkesan Politisasi Kasus Jaksa Pinangki

Kamis, 03/09/2020 23:10 WIB
Indriyanto Seno Adji (RMco)

Indriyanto Seno Adji (RMco)

Jakarta, law-justice.co - Komisi Kejaksaan (Komjak) memberikan saran terkait penanganan kasus jaksa Pinangki Sirna Malasari agar diserahkan kepada KPK dinilai terlalu berlebihan. Pasalnya, saran tersebut membuat Komjak terkesan melakukan politisasi hukum.

"Sebaiknya Komjak tetap berpijak pada masalah area etik dan disiplin Jaksa yang alurnya ada pada MOU tahun 2011, sehingga tidak dalam konteks terkesan berada dalam area projustitia Kejaksaan," ujar Pakar hukum pidana Indriyanto Seno Adji, dikutip dari JPNN.com, Kamis (3/9/2020).

Indriyanto memandang Kejaksaan Agung (Kejagung) tak mengalami kendala dalam menangani kasus dugaan korupsi jaksa Pinangki Sirna Malasari. Indriyanto menyebut Kejagung bisa menangani kasus tersebut hingga tuntas.

"Karena tidak ada hambatan maupun kendala teknis hukum pro justitia penanganan kasus di Kejaksaan, maka baiknya KPK maupun Kejaksaan memandang perlu penanganan dilakukan oleh lembaga awal yang tangani kasus ini," ungkapnya.

Sejauh ini, Indriyanto menyebut tak ada kendala berarti yang dialami Korps Adhyaksa dalam mengusut kasus yang menyeret anggotanya tersebut. Penanganan kasus Pinangki pun berjalan terintegrasi dengan Polri yang mengusut dugaan suap Djoko Tjandra.

"Dalam hal tidak ada kendala dan hambatan atas teknis penanganan kasus ini, maka tidak perlu KPK tangani kasus Pinangki ini," katanya.

Mantan Plt Wakil Ketua KPK itu mengatakan Kejagung memiliki sumber daya manusia, baik pada tingkat penyidikan maupun penuntutan yang menguasai setiap perkara. Tingkat kapabilitas para jaksa juga baik dan tidak diragukan.

"Transparancy judicial court nanti lah yang akan menentukan public trust terhadap kelembagaan penegak hukum, dan tanpa kendala demikian, tentunya Kejaksaan memiliki trust ini," jelasnya.

(Hendrik S\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar