Taylor Swift Tuding Trump Nyalakan Api Supremasi Kulit Putih & Rasisme

Minggu, 31/05/2020 00:10 WIB
Taylor Swift (Getty Images)

Taylor Swift (Getty Images)

law-justice.co - Penyanyi Taylor Swift menuding Donald Trump telah “menyalakan api supremasi kulit putih dan rasisme" menyusul tweet Trump yang dianggap menyulut kekerasan  terhadap pengunjuk rasa di Minnesota.

Dilansir dari The Guardian, Swift menganggap bahwa Trump bertanggung jawab atas terjadinya demonstrasi yang berujung kerusuhan dan menyebabkan situasi yang tidak stabil di Minneapolis sepanjang minggu ini. Protes terjadi akibat kematian George Floyd di tangan seorang polisi yang menekan leher korban dengan lututnya sampai mati. 

Melalui twitter yang diunggah pada Kamis malam, Trump menyebut para pengunjuk rasa sebagai “penjahat" yang "tidak menghormati kenangan pada George Floyd”. Ia juga menulis, “Kami akan mengambil kendali di setiap kesulitan, tapi ketika penjarahan dimulai, penembakan pun dimulai."

Menanggapi hal itu, Swift mengunggah tweet pada hari Jumat untuk 86 juta pengikutnya, “Setelah menyalakan api supremasi kulit putih dan rasisme seluruh kepresidenan, Anda memiliki keberanian untuk pura-pura bermoral sebelum melakukan kekerasan?”

Swift relatif tidak bersuara soal politik di masa lalu, tetapi dia baru-baru ini ia terang-terangan mendukung kandidat Senat Demokrat Phil Bredesen pada 2018.

Dalam sebuah wawancara tahun 2019 dengan The Guardian, bintang pop itu berbicara tentang kekecewaannya terhadap Amerika dan kepemimpinan Donald Trump. “Kami adalah sebuah demokrasi, kami seharusnya diizinkan untuk tidak setuju, berbeda pendapat, perdebatan. Saya benar-benar berpikir bahwa dia adalah otokrasi,” kata Swift. 

Trump telah menghadapi serangan balasan yang sangat besar atas tweetnya, meskipun ia membantah bahwa itu merupakan upayanya untuk menghasut kekerasan terhadap para pengunjuk rasa. 

Pada hari Jumat, Twitter menempatkan pesan di samping tweet Trump tersebut dan memperingatkan bahwa itu melanggar aturan platform karena dianggap mengagungkan kekerasan. Trump mengklaim bahwa ia telah diperlakukan tidak adil oleh platform media sosial, dan menuduh dirinya dan para pendukungnya telah dijadikan target. 

(Liesl Sutrisno\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar