Isu Lockdown Hancurkan Bursa Asia, Cemas Resesi Global

Senin, 30/03/2020 20:09 WIB
Ilustrasi Lockdown. (Indopolitika)

Ilustrasi Lockdown. (Indopolitika)

Jakarta, law-justice.co - Bursa saham Asia pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2020) berakhir di zona merah karena meningkatnya kekhawatiran pemberlakuan penutupan wilayah (lockdwon) secara global bisa berdampak pada ekonomi dunia dan berujung resesi.

Meski demikian, di akhir sesi perdagangan bursa saham mendapatkan sedikit traksi dan membatasi kerugian dengan pasar saham Australia memposting kenaikan signifikan.

Data perdagangan mencatat, Indeks Shanghai Composite China turun 0,9% menjadi 2.747,21, indeks Hang Seng ditutup melemah 1,32% pada 23.175,11, sedangkan FTSE Straits Times Singapore (STI) anjlok 4,4% pada 2.417. Saham Korea Selatan juga diperdagangkan lebih lebih rendah pada hari itu, dengan indeks Kospi ambles 0,04% menjadi 1.717,12.

Saham di pasar utama Asia Pasifik bervariasi pada hari Senin, dengan S&P/ASX 200 Australia memimpin kenaikan karena melonjak 7% menjadi 5.181,4. Dengan subindex keuangan naik 8,8% karena saham bank-bank Big Four di Negeri Kangguru tersebut melonjak: Australia and New Zealand Banking Group menambahkan 8,47%, Commonwealth Bank of Australia naik 10,91%, Westpac naik 8,53% sementara National Australia Bank naik 7,87%.

Kenaikan indeks S&P/ASX 200 terjadi setelah Pemerintah Australia pada Senin mengumumkan stimulus ekonomi lebih lanjut sebesar 130 miliar dolar Australia (US$ 80,09 miliar) dalam bentuk subsidi upah, yang bertujuan menjaga pekerja tetap bekerja di tengah penurunan yang dipicu oleh pandemi virus corona.

Di tempat lain, Nikkei 225 di Jepang turun 1,57% menjadi 19.084,97 karena saham indeks kelas berat Softbank Group turun 4,99%, sementara indeks Topix turun 1,64% untuk mengakhiri hari perdagangannya di 1.435,54. Namun kenaikan saham Fujifilm sebesar 5,98% menahan laju koreksi.

Kenaikan saham Fujufilm dipicu laporan Nikkei Asian Review pada akhir pekan lalu yang menyebutkan bahwa Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengatakan pemerintah akan memulai prosedur uji coba untuk obat anti-flu yang dikembangkan oleh perusahaan sebagai pengobatan untuk virus corona, seperti dilansir Reuters.

Dari wilayah Asia lainnya yaitu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga terkoreksi turun 2,88% pada 4.414,5, berkinerja terburuk di antara bursa saham Asia lainnya. Nilai transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencapai Rp 5,57 triliun dengan catatan jual bersih (net sell) asing Rp 63,5 miliar di pasar reguler dan negosiasi.

Pada perdagangan hari ini pasar telah bergejolak, melihat penyebaran wabah COVID-19 yang semakin masif. Wabah global virus corona telah menginfeksi lebih dari 720.000 di seluruh dunia dan merenggut setidaknya 33.925 jiwa, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

"Pertanyaan besar bagi pasar adalah apakah stimulus besar yang diperkenalkan sejauh ini di seluruh dunia akan cukup membantu ekonomi global menahan goncangan ekonomi dari langkah-langkah penahanan penyebaran COVID-19," tulis Rodrigo Catril, ahli strategi mata uang di National Australia Bank, menulis dalam sebuah catatan. (cnbcindonesia)

 

(Gisella Putri\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar