Aznil Tan, Koordinator Nasional Poros Benhil

Akhirnya Tabir Mengungkap Moeldoko Perusak Jokowi

Rabu, 22/01/2020 09:01 WIB
Mantan Panglima TNI, Moeldoko (ist)

Mantan Panglima TNI, Moeldoko (ist)

Jakarta, law-justice.co - Presiden Jokowi bukanlah orang bodoh. Dia bisa membaca orang sekitarnya. Mana pantas diapresiasi untuk dipertahankan sebagai menterinya; mana yang pantas sebagai pelengkap saja; dan mana yang mesti ditendang.

Perpolitikan Indonesia terkenal sadis dan dikelilingi oleh para srigala merupakan hal yang sulit untuk Jokowi bertindak emosional. Jokowi harus cerdik menghadapi srigala-srigala ganas dan sadis tersebut.

Begitu juga kisah seorang jenderal oportunis bernama Moeldoko. Mantan panglima TNI waktu presiden SBY ini dengan penuh misteri bergabung dengan Jokowi.

Sewaktu dia menjabat panglima TNI, dia pernah berprilaku tidak profesional dan tidak bersikap ksatria atas perihal adanya oknum Babinsa yang mengarahkan warga untuk memilih capres nomor urut tertentu pada waktu pemilu 2014.

Bahkan Panglima TNI ini malah menyangkal adanya kesalahan tersebut. Hal ini disesalkan oleh tim Jokowi-JK.

Entah bagaimana ceritanya, Jenderal Moeldoko yang 2,5 tahun menganggur ini lalu tiba-tiba ditunjuk oleh Jokowi sebagai Kepala Staf Presiden mengantikan Teten Masduki di 2018.

Apakah ini karena kepiawaian dia memanfaatkan kondisi politik saat itu lagi kencang-kencangnya isu SARA? Dengan masuknya Moeldoko diharapkan bisa mengkanter isu-isu SARA dan adanya perwakilan dari kelompok purnawirawan militer? Allahu alam!

Faktanya, kehadiran Moeldoko hanyalah menjadi benalu Jokowi. Pria kelahiran tahun 1957 ini berpolitik sangat ambigu.

Komunikasi politik dia sangat buruk. Dia sering mengeluarkan pernyataan-pernyataan blunder membuat tensi politik semakin panas.

Berapa kali media memuat berita tentang pernyataan dia yang blunder dan bertentangan dengan semangat Nawacita dan keteladanan diberikan Jokowi.

Kinerja Moeldoko diharapkan sebagai mata-telinga Presiden tidak berjalan. Dia lebih cenderung pencuri panggung untuk pencitraan diri dia daripada mengoptimalkan tugas dia sebagai KSP dalam pengendalian program-program prioritas nasional.

Dia bermain untuk mewujudkan ambisi dia ingin jadi presiden atau wakil presiden yang dikenal dengan sandi M1.

Terbukti Jokowi sering kecolongan atas program-program nasional yang tidak jalan atas ketidakbecusan Moeldoko dalam pengawalan dan pengendalian program-program nasional tersebut.

Untung Jokowi orangnya penyabar, Jokowi menggurut dada buat sementara.

Sebagai mantan panglima TNI, kemampuan dia untuk bermain 2 kaki sangat piawai. Dia datang bak pahlawan kesiangan yang pasang badan untuk Jokowi.

Seakan-akan dia lah paling Jokower diantara para relawan yang sudah duluan teruji loyalitas dan integritas sejak 2012. Dia pun dengan cerdik mengklaim keringat relawan yang berjibaku di lapangan memenangkan Jokowi-Ma`ruf

Ditinjau dari kehadiran dia sebagai Wakil TKN Pemenangan Jokowi-Ma`ruf sebenarnya membuat kacau koordinasi para relawan yang biasanya solid dan militan bergerak.

Dia mengunakan strategi "beri harapan palsu dan lalu gantung" maka relawan akan timbul marah dan kegoyahan dukung Jokowi.

Strategi ini sebenarnya sangat licik. Di mata orang banyak, dia berkesan mengkoordinir relawan tapi sesungguhnya dia mau membunuh militansi relawan.

Untung relawan Jokowi adalah gerakan ideologis. Meski "diberi PHP dan digantung" oleh jenderal tersebut tapi relawan tetap all out terjun door to door meski tanpa ada alat peraga sekalipun.

Atas kelicikan dia mengklaim gerakan relawan, dia kembali ditunjuk sebagai Kepala Staf Presiden memimpin kembali KSP periode 2019-2024.

Sebenarnya posisi itu sebagai sinyal bahwa dia tidak naik kelas. Apalagi dia punya ambisi ingin jadi Menkopolhukam. Tapi Jokowi tahu kapasitas dia.

Bukan itu saja, pada pemilu 2019 kemarin dia cenderung membenturkan sesama anak bangsa dengan mengeluarkan pernyataan Perang Total.

Sebuah pernyataan berkesan heroik memenangkan Jokowi-Ma`ruf Amin tetapi sesungguhnya adalah pernyataan secara tidak langsung membangun image bahwa Jokowi sosok yang haus kekuasaan dan menghalalkan segala cara untuk mencapainya, termasuk dengan cara melakukan perang total.

Tapi Jokowi mengerti level orang ini. Ok, Jokowi bisa dikadali atas klaim dia gerakan relawan. Namun di sisi kinerja, Jokowi tahu bahwa dia tidak pantas dipercayakan mengemban jabatan strategis sebagai Menteri.

Konon Jokowi hanya memberi kontrak kerja 6 bulan kepada dia. Jika ngga becus, Jokowi tidak segan-segan menendang dia dari KSP.

Pada awal dia menjabat lagi sebagai kepala KSP tanpa malu-malu dia meminta penambahan anggaran 2 kali lipat, yaitu dari Rp 82 Miliar menjadi Rp 150 Miliar. Lucunya..., pengajuan anggaran ini mengatasnamakan relawan!

Sementara sejak dia diangkat kembali jadi Kepala KSP, para relawan Jokowi dengan sadis dijegal satu per satu. Dia membentuk kroni sendiri. Menyusun barisan sendiri dengan merekrut kadrun-kadrun pemecah-belah NKRI.

Pada komposisi KSP periode 2019-2024 banyak diisi para kadrun-kadrun dan haters Jokowi seperti Arief Budhy Hardono, Donny Gahral Adian dll.

Sebenarnya kejanggalan Moeldoko merekrut para kadrun dan haters tersebut sudah pernah diteriakkan oleh penulis Rudi S Kamri. Namun dicuekin seperti anjing menggonggong, kafilah berlalu.

Berkat kepiawaian Moeldoko, kadrun-kadrun sudah masuk ke jantung istana. Ini sangat berbahaya.

Sebenarnya, berapa kali relawan Jokowi sudah menggugat dia. Berapa kali sempat panas dengan ulah dia melecehkan relawan Jokowi seakan-akan pengemis jabatan.

Tapi sayang, aspirasi relawan putus ditengah jalan. Dia berhasil membentuk tembok besar untuk menghalangi akses relawan untuk berkomunikasi dengan Jokowi.

Namun, Tuhan Maha Adil. Karena kekuasaan didapat menari diatas keringat para relawan dan juga penutup pintu hubungan batin relawan dengan Jokowi, Tuhan akhirnya menyingkap tabir kebobrokan dia.

Tuhan tidak diam

Belum cukup 2 bulan menjabat di KSP, terbongkar kasus Mega korupsi Jiwasraya. Moeldoko sangat kuat diduga terlibat di dalamnya, baik secara langsung ataupun tidak langsung.

Demi menyelamatkan dirinya dari tuduhan, penghisap cerutu ini lalu menyalahkan bosnya SBY bahwa kasus itu terjadi sejak 2006.

Lepas kebenaran siapa penjahat sebenarnya kasus Jiwasraya yang merugikan negara Rp 13,7 Triliun ini.

Yang jelas Moeldoko telah melakukan kesalahan merekrut orang bermasalah di Jiwasraya. Dia harus bertanggung jawab dan harus diusut motifnya.

Motifnya kuat diduga ada kongkalikong dibalik itu.

Ini yang harus diungkap oleh Kejaksaan Agung !

Kasus korupsi merugikan negara begitu besar (13,7 Triliun) tidak cukup dengan klarifikasi dengan menyatakan dia tidak terlibat.

Tidak itu saja, sosok raja tega yang berambisi ingin jadi presiden ini terungkap juga merekrut anaknya Joanina Rachma sebagai Tenaga Ahli Muda KSP.
Ini sebuah perilaku NEPOTISME yang menjadi musuh bersama bangsa Indonesia dan musuh bagi negara republik.

Presiden Jokowi saja tidak pernah melakukan hal itu , melibatkan anaknya dalam lingkaran kekuasaan. Moeldoko mempertontonkan itu dengan sombongnya. Tanpa takut merekrut anaknya sebagai tenaga ahli KSP.

Jadi ada 3 dosa besar besar Moeldoko yang harus dilawan demi menyelamatkan Visi Indonesia Maju :
1. Dugaan keterlibatan Moeldoko dalam kasus korupsi Jiwasraya dan atau Asabri
2. Memasukkan kadrun kedalam istana (KSP) yang memecah belah NKRI yang mengembangkan faham radikal dan intoleransi.
3. Praktek nepotisme yang mengangkat anaknya Joanina Rachma sebagai tenaga ahli KSP.

Besar harapan para relawan, semoga Presiden Jokowi segera bertindak memberhentikan Moeldoko untuk mencegah kadrun masuk istana yang bisa merusak cita-cita Indonesia Maju.

Agar jangan sampai juga kasus Jiwasraya dan Asabri ini menjadi liar seakan istana melindungi dia dan lalu menjadi gonjang-ganjing politik yang merusak stabilitas politik nasional

Jangan karena mempertahankan Moeldoko lalu masa depan bangsa dan negara ini dipertaruhkan. Jangan sampai apa dikerjakan Jokowi untuk membangun bangsa ini akhirnya sejarah mencatat bahwa sosok Jokowi tidak benar.

Diminta kepada Moeldoko.

Sebagai seorang jenderal seharusnya dia berjiwa patriotik. Memberi teladan untuk mundur sementara agar pihak penegak hukum bisa melakukan pemeriksaan secara bebas atas keterlibatan dirinya dalam kasus mega korupsi Jiwasraya tersebut.

Jangan dia berlindung dibalik dinding istana untuk mengungkap keterlibatan dirinya.

Dia dapat aktif kembali apabila namanya dinyatakan bersih dari kasus korupsi Jiwasraya.

Relawan-relawan harus terus solid bergandengan tangan menjaga Jokowi dari orang busuk mengitarinya.

Jangan sampai cita-cita besar Indonesia Maju yang kita perjuangkan dengan cucuran keringat dan air mata lalu dirusak oleh benalu dan penumpang gelap.

Menjelang 100 hari kerja Kabinet Indonesia Maju sudah seharusnya para relawan bersatu untuk merekomendasikan ke Presiden Ir. H. Joko Widodo untuk mereshuffle KSP menganti Moeldoko sebelum semua terlambat.

Kedepan, kepala KSP yang ditunjuk untuk dapat membersihkan kadrun-kadrun yang masuk istana dan menindak praktek nepotisme serta mampu menjalankan pengendalian Program-program Prioritas Nasional.

(Tim Liputan News\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar