Ini Bayang-Bayang Pelemahan Rupiah

Kamis, 15/08/2019 13:42 WIB
Ilustrasi kurs mata uang Rupiah. (Foto: Tribun)

Ilustrasi kurs mata uang Rupiah. (Foto: Tribun)

Jakarta, law-justice.co - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah di perdagangan pasar spot Kamis (15/8/2019) hari ini. Dolar AS coba mendekati Rp 14.300.

Pada Kamis (15/8/2019) pukul 10:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp14.280. Rupiah melemah 0,28% dibandingkan posisi penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sentimen eksternal dan domestik perekonomian memperberat langkah mata uang Indonesia. Kondisi ini membikin nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat bergerak kian lemah pada perdagangan pasar spot.

Sebelumnya pada pembukaan pasar spot pagi ini seperti dilansir dari CNBC Indonesia, Rupiah masih berada di level 14.260/dolar AS, melemah 0,14% dibandingkan posisi penutupan perdagangan pada Rabu kemarin. Kondisi ini masih melemah lagi pada pukul 10.00 WIB.

Rabu kemarin, rupiah menutup perdagangan pasar spot dengan penguatan 0,52% dan menjadi mata uang terbaik di Asia, namun hari ini kemungkinan rupiah tidak bisa melanjutkan pencapaian tersebut.

Hal tersebut lantaran sentimen eksternal sedang tidak mendukung. Terpantau risk appetite investor sedang sangat rendah, aset-aset berisiko di negara berkembang pun bakal kesulitan menjaring peminat.

Penyebabnya, persepsi risiko resesi yang semakin tebal. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua dan 10 tahun mengalami inversi alias yang jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang.

Inversi menunjukkan risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang. Oleh karena itu, inversi kerap dikaitkan dengan pertanda resesi.

Jadi jangan berharap banyak pasar keuangan Indonesia bakal kedatangan arus modal yang deras hari ini. Akibatnya, sangat sulit bagi Rupiah untuk kembali menguat.

Sementara dari dalam negeri, investor juga dipaksa bermain aman karena menunggu rilis data perdagangan internasional yang akan dirilis pukul 11:00 WIB.

Konsensus pasar yang dilansir dari CNBC Indonesia memperkirakan ekspor pada Juli terkontraksi alias turun 11,59% year-on-year (YoY) dan impor negatif 19,38% YoY. Sementara neraca perdagangan diperkirakan defisit US$ 384,5 juta.

Defisit neraca perdagangan kali terakhir terjadi pada April, bahkan kala itu sangat dalam mencapai US$ 2,29 miliar. Kemudian pada Mei, neraca perdagangan mampu berbalik surplus US$ 210 juta dan sebulan kemudian kembali surplus US$ 200 juta.

Jika neraca perdagangan Juli benar-benar defisit, maka akan menjadi beban dalam mengarungi perekonomian kuartal III. Kalau sepanjang kuartal III neraca perdagangan terus-terusan tekor, maka defisit transaksi berjalan bakal semakin dalam dan menyulitkan Bank Indonesia (BI) untuk melakukan penurunan suku bunga.

Padahal penurunan suku bunga adalah salah satu `obat kuat` bagi perekonomian nasional. Ekspor tidak bisa diandalkan karena dampak perang dagang AS-China yang merusak rantai pasok global. Belum lagi ada ancaman resesi yang tentu akan menurunkan permintaan.

Oleh karena itu, satu-satunya harapan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi domestik. Caranya adalah melalui penurunan suku bunga acuan yang diharapkan mampu menekan suku bunga kredit perbankan sehingga ada ruang untuk ekspansi ekonomi.

(Annisa\Editor)
Share:


Berita Terkait

Komentar