Banjir Lahar Dingin Semeru Rendam Permukiman Warga di Lumajang Jatim

Senin, 02/11/2026 12:07 WIB
Gunung Semeru mengeluarkan material vulkanis yang terpantau dari Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, foto BBC.com

Gunung Semeru mengeluarkan material vulkanis yang terpantau dari Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, foto BBC.com

law-justice.co - Hari ini, Senin 2 November 2026, banjir lahar dingin Gunung Semeru menerjang wilayah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Limpahan material vulkanik tersebut meluber hingga merendam kawasan pemukiman warga di kawasan lereng gunung.

Saat ini, terdapat tiga wilayah kecamatan yang tercatat paling terdampak oleh terjangan banjir lahar, di antaranya Kecamatan Jatiroto, Pronojiwo, dan Tempursari.

M Rokhim, salah seorang warga Kecamatan Tempursari mengatakan, aliran air yang membawa material vulkanik membanjiri jalanan hingga masuk ke rumah-rumah warga.

"Kalau daerah permukiman dataran rendah sudah penuh air, tapi yang dataran tinggi aman mas," kata Rokhim saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com.

Pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur terus memantau pergerakan banjir lahar. Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur Satriyo Nurseno menjelaskan titik fokus terjangan berada di kawasan perbatasan.

"Lokasi kejadian di aliran Sungai Glidik atau Kali Manjing, tepatnya di jembatan perbatasan yang menghubungkan Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang, Jawa Timur. Wilayah terdampak berada dalam pantauan Kecamatan Tempursari," ujar Satriyo.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut banjir lahar ini dipicu oleh tingginya curah hujan di kawasan puncak Semeru. Hujan lebat tercatat mulai mengguyur sekitar Gunung Semeru sejak Minggu malam (1/11) pukul 23.40 WIB.

"Alat pemantauan merekam getaran banjir selama enam jam dengan amplitudo maksimum 65 milimeter pada periode pukul 00.00 hingga 06.00 WIB. Saat ini Gunung Semeru masih berstatus Level III atau Siaga," kata Agastya Rajendra, Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru PVMBG.

Agastya memperingatkan air hujan dapat mengangkut endapan material vulkanik menjadi lahar mematikan melalui sungai-sungai yang berhulu di Semeru.

Sungai tersebut meliputi Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, beserta anak-anak sungainya. Kondisi ini sangat membahayakan penambang pasir, pengemudi angkutan material, dan warga sekitar.

"Penambang pasir dan masyarakat di aliran sungai diimbau segera menghentikan aktivitas dan menjauh dari alur serta bantaran sungai menuju tempat aman. Masyarakat diminta mematuhi zona larangan aktivitas, khususnya sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak," kata Agastya.

PVMBG juga menegaskan, di luar radius 13 kilometer tersebut, area hingga jarak 500 meter dari tepi sungai harus dikosongkan dari segala aktivitas. Langkah ini wajib dipatuhi mengingat tingginya potensi perluasan awan panas dan lahar hingga mencapai 17 kilometer dari puncak Semeru.

"Masyarakat diminta mematuhi zona larangan aktivitas, khususnya sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 km dari puncak. Di luar jarak tersebut, area hingga 500 meter dari tepi sungai harus dikosongkan dari aktivitas karena potensi perluasan awan panas dan lahar hingga 17 km dari puncak," pungkasnya.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar