Korban Militer AS dalam Perang Iran Diduga Berjumlah Lebih Banyak

Sabtu, 19/09/2026 19:15 WIB
Ilustrasi Tentara Amerika Serikat. (Liputan6).

Ilustrasi Tentara Amerika Serikat. (Liputan6).

[INTRO]
Jumlah personel militer Amerika Serikat (AS) yang tewas sejak perang melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026 diduga lebih banyak dibandingkan angka yang tercatat dalam basis data publik Pentagon.

Laporan The Washington Post menyebut sedikitnya 22 personel militer AS meninggal sejak konflik tersebut dimulai. Lima pejabat AS yang mengetahui pencatatan internal korban menyebut angka tersebut, sementara seorang pejabat lainnya mengatakan jumlah korban mencapai 23 orang.

Sementara itu, Defense Casualty Analysis System (DCAS), basis data publik Pentagon, saat ini mencatat 18 personel militer AS tewas dalam periode konflik tersebut.

Perbedaan angka itu diduga terjadi karena sejumlah kematian personel militer AS yang bertugas di kawasan Timur Tengah belum tercantum dalam DCAS.

Dua nama yang diketahui belum tercatat dalam basis data tersebut adalah Mayor Sorffly Davius dan Sersan Devin Seibel.

Davius, yang merupakan anggota Divisi Infanteri ke-42 dan ditempatkan di Camp Buehring, Kuwait, meninggal pada 6 Maret 2026. Pentagon menyatakan penyebab kematiannya masih belum diketahui secara pasti.

Davius sebelumnya dikerahkan ke Kuwait pada musim panas 2025 untuk mendukung Operation Spartan Shield, operasi militer AS yang bertujuan memperkuat kerja sama pertahanan dengan negara-negara mitra di kawasan.

Sementara itu, Seibel meninggal pada 31 Mei 2026 di Pangkalan Udara Erbil, Irak, dalam insiden yang berkaitan dengan latihan. Ia merupakan anggota Air Ambulance Company, Batalion ke-2, Brigade Penerbangan Tempur ke-4, Fort Carson, Colorado.

Pentagon menyatakan kematian Seibel masih dalam penyelidikan. Saat itu, ia bertugas mendukung Operation Inherent Resolve, operasi militer AS yang berfokus pada pemberantasan kelompok ISIS.

Kematian Davius dan Seibel tidak tercantum dalam DCAS sebagai bagian dari korban operasi masing-masing. Menurut laporan Washington Post, setidaknya dua personel militer AS lainnya juga meninggal di Timur Tengah selama perang Iran, tetapi belum tercatat dalam basis data publik Pentagon.

DCAS mencatat 18 personel militer AS tewas sejak perang dengan Iran dimulai. Data tersebut juga menunjukkan lebih dari 820 personel mengalami luka dalam konflik tersebut.

Dari 18 kematian yang tercatat, 14 di antaranya masuk dalam kategori Operation Epic Fury, nama yang digunakan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk operasi militer AS terhadap Iran.

Sementara empat kematian lainnya ditempatkan dalam kategori Overseas Operations, yang berkaitan dengan periode setelah gencatan senjata pada 7 Juli 2026.

Perubahan klasifikasi tersebut sebelumnya juga menjadi sorotan. Pentagon sempat mengeluarkan empat nama dari daftar korban Operation Epic Fury dan memindahkannya ke kategori Overseas Operations.

Pentagon menjelaskan kategori baru tersebut dibuat karena Operation Epic Fury telah berakhir.

DCAS merupakan sistem yang dikelola Defense Manpower Data Center untuk menghimpun informasi mengenai personel militer AS yang meninggal, terluka, sakit, maupun mengalami cedera dalam berbagai konflik dan operasi.

Data tersebut diperbarui berdasarkan informasi yang berasal dari empat matra militer AS.

Perbedaan angka korban tersebut turut mendapat perhatian anggota Kongres AS. Sejumlah senator Partai Demokrat yang merupakan anggota Senate Armed Services Committee sebelumnya mendesak Menteri Pertahanan Pete Hegseth memastikan pencatatan korban perang Iran dilakukan secara lengkap dan akurat.

Mereka menilai perubahan dan ketidakkonsistenan angka dalam DCAS menimbulkan pertanyaan mengenai transparansi serta keandalan laporan publik Pentagon.

Anggota DPR AS Kirsten Gillibrand juga disebut telah mengirim sejumlah permintaan informasi kepada Pentagon terkait perbedaan antara angka korban yang tercatat dalam DCAS dan data yang diketahui secara internal, menurut sumber yang dikutip The Hill.

Anggota DPR Adam Smith mengatakan laporan mengenai kemungkinan jumlah korban yang lebih tinggi perlu mendapat perhatian. Menurutnya, baik kematian akibat serangan musuh maupun kematian non-tempur tetap merupakan kehilangan personel ketika mereka sedang menjalankan tugas.

Sementara itu, anggota DPR Jason Crow menuduh Pentagon menutupi kematian personel militer dan kontraktor AS. Ia menyatakan akan mengajukan rancangan undang-undang bersama anggota Demokrat lainnya untuk mencegah Pentagon memanipulasi data korban.

Namun, tuduhan tersebut merupakan pernyataan politik dari anggota Kongres dan belum menjadi kesimpulan resmi mengenai penyebab perbedaan data korban.

Pentagon sejauh ini belum memberikan tanggapan kepada sejumlah media mengenai perbedaan angka korban tersebut.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth justru mengecam laporan The Washington Post yang mengungkap dugaan ketidaksesuaian jumlah korban.

Hegseth menyebut laporan tersebut sebagai "menjijikkan dan palsu" serta menuduh Washington Post lebih buruk dibandingkan media pemerintah Iran.

Di sisi lain, informasi mengenai 22 hingga 23 personel yang meninggal berasal dari pejabat AS yang mengetahui data internal dan berbicara tanpa menyebutkan nama.

Identitas serta kondisi kematian sejumlah personel yang belum tercantum dalam DCAS juga belum dipublikasikan secara lengkap.

Dengan demikian, perbedaan antara angka 18 korban dalam basis data publik Pentagon dan 22 hingga 23 korban berdasarkan keterangan pejabat AS masih menjadi persoalan yang memerlukan penjelasan lebih lanjut dari Departemen Pertahanan AS.

(Givary Apriman Z\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar