Meutya Viada Hafid

Jurnalis yang Pernah Diculik di Irak Hingga Jadi Ketua Komisi I DPR RI

Senin, 11/12/2023 09:48 WIB
Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid (Foto: DPR RI)

Ketua Komisi I DPR RI Meutya Viada Hafid (Foto: DPR RI)

Jakarta, law-justice.co - Meutya Viada Hafid atau lebih akrab disapa Meutya Hafid kini dikenal masyarakat sebagai salah satu Politisi Perempuan Partai Golkar. Meutya lahir di Bandung pada 3 Mei 1978, jauh sebelum menjadi Politisi Perempuan yang sukses, Meutya pernah menjadi seorang Jurnalis dari Reporter Hingga menjadi presenter berita.

Kini Meutya merupakan Anggota DPR RI dan ia bertugas sebagai Ketua Komisi I DPR RI, tentu Meutya melewati perjalanan yang berliku sebelum berada di posisi saat ini.
 
Jauh sebelum menjadi seorang Politisi, Meutya pernah beberapa kali meliput beberapa peristiwa besar, salah satunya adalah tragedi tsunami Aceh. Keberhasilannya sebagai Jurnalis semakin lengkap, ketika pada Tahun 2007 Meutya mendapatkan penghargaan Jurnalistik Elizabeth O`Neill, dari pemerintah Australia. 
 
Penghargaan tersebut dianugerahkan setiap tahun untuk mengenang mantan Atase Pers Kedutaan Australia Elizabeth O`Neill, yang gugur dalam tugasnya pada 7 Maret 2007 dalam kecelakaan pesawat di Yogyakarta. 
 
Penghargaan tersebut diberikan juga kepada satu orang jurnalis Australia dan satu orang jurnalis Indonesia dan diserahkan langsung oleh Duta Besar Australia untuk Indonesia Bill Farmer. 
 
Usai mendapatkan penghargaan tersebut, Meutya menjalani program 3 minggu di daerah pedalaman untuk mengembangkan pengertian dan apresiasi lebih baik terhadap isu kontemporer yang dihadapi Australia dan Indonesia. 
 
Sebagai seorang mantan Jurnalis yang berprestasi, Meutya mengaku pada awalnya, jurnalistik bukanlah tujuan hidupnya serta bukan keinginannya. Meutya mengatakan terdapat panggilan hati melihat kondisi negara yang kacau balau di tahun saat terjadi reformasi 1998 membuatnya ingin berbuat sesuatu untuk negara.

“Waktu itu saya syok melihat Indonesia collapse. Saya gemas dan ingin melakukan sesuatu untuk Indonesia. Teman-teman mahasiswa saya di Jakarta bisa ikut demo," kata Meutya kepada Law-Justice.

Untuk itu, Ia tergerak menjadi Jurnalis dan melamar ke Metro TV yang sedang buka lowongan besar-besaran kala itu. Apalagi setelah reformasi, keberadaan media informasi semakin terbuka lebar. Berawal dari sini Meutya Hafid memulai petualangannya. Ia menikmati dunia yang dijalankannya kala itu, terlebih ketika meliput konflik sosial. 
 
"Tentu, ada tantangan tersendiri bagi saya untuk bisa memberikan informasi kepada publik," ujarnya. Tahun 2005 menjadi titik balik bagi kehidupan perempuan berzodiak taurus tersebut kala itu Ia mengalami penyanderaan di Irak saat sedang bertugas menjadi reporter di daerah yang sedang berperang tersebut. 
 
Beruntung negara sigap bersikap dan Meutya bersama seorang rekannya, juru kamera Budiyanto berhasil diselamatkan tanpa kurang satu apapun.
 
Kala itu, Ketua Komisi I DPR RI ini pernah menjadi korban penyanderaan bersama seorang kameramen di Irak yang kala itu tengah mengalami Konflik. Meutya menceritakan bila pada awalnya hal yang membuat dirinya bersedia berangkat ke Irak yang pada saat itu merupakan negara rawan konflik adalah sebuah kepercayaan yang dilandasi dengan itikad baik.
 
"Waktu itu saya berkeyakinan bahwa segala sesuatu yang diniatkan secara baik tentu akan menghasilkan kebaikan," imbuhnya.
 
Politisi Partai Golkar tersebut menuturkan bila kala itu ia menginginkan melahirkan sebuah berita yang lebih berimbang. Seperti diketahui bila saat itu pemberitaan seputar Irak didominasi oleh media barat.
 
Ia menceritakan salah satu tantangan yang dihadapi ketika berada di Irak adalah KBRI Baghdad yang saat itu masih ditutup. Meutya menjelaskan kala itu KBRI ditutup sebagai upaya tidak mendukung invasi pasukan koalisi ke Irak.
 
"Saya sempat khawatir karena KBRI terdekat berada di Yordania," tuturnya. Hingga akhirnya Meutya bersama satu kameramen disandera oleh kelompok Mujahidin Irak, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci tentang motif penyanderaan yang dilakukan oleh kelompok Mujahidin Irak.
 
Namun, ia menjelaskan setiap karakteristik penyanderaan memiliki tiga motif yakni, motif balas dendam, motif politik, dan motif ekonomi. Sempat terpikir dalam benak Meutya kala itu, bila ia tidak akan selamat karena saat itu penyandera membawa senjata api seperti jenis AK 47 sambil menodongkan senjata.
 
"Waktu itu situasi sangat menegangkan sekali, mata saya ditutup sorban dan saya sempat berpikir kalau saya tidak akan selamat," urainya. Namun, Meutya bersyukur ketika itu pemerintah Indonesia sangat merespon cepat terkait penyanderaan tersebut. Meutya menyatakan bila pemerintah dan masyarakat umum memberikan dukungan moril terhadapnya.
 
Ia sangat berterima kasih pada pihak-pihak yang terlibat secara langsung untuk membantu membebaskan dirinya dari sandera kelompok Mujahidin Irak. "Saya berterimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam pembebasan saya baik yang berada di Indonesia maupun yang berada di KBRI Yordania," katanya.
 
Berhasil Melenggang ke Senayan

Setelah menjalani karier menjadi seorang Jurnalis, pada Agustus 2010 ia dilantik menjadi Anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar menggantikan Burhanudin Napitupulu yang meninggal dunia.
 
Sukses sebagai Jurnalis berprestasi, karirnya di dunia politik pun ditempuh secara berliku dan mendapatkan banyak tantangan. Sebelum menjadi Anggota DPR, Meutya pernah maju dalam Pemilihan Walikota Binjai pada periode 2010-2015, ketika itu Meutya maju sebagai Calon Wakil Walikota Binjai bersama Dhani Setiawan Isma.
 
Namun Dhani-Meutya kalah dalam kontestasi tersebut dan sempat melakukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) dan meminta penghitungan kembali kotak suara sekaligus mencari kebenaran pelaksanaan Pilkada di Kota Binjai. 
 
Sayangnya, MK memutuskan untuk menolak permohonan gugatan Meutya dengan alasan tidak cukup bukti. Ketua Bidang Media dan Penggalangan Opini DPP Partai Golkar tersebut juga diketahui sempat bergabung dengan organisasi massa yang didirikan Surya Paloh, yakni Nasional Demokrat (Nasdem).
 
Meutya bergabung dengan ormas Nasdem karena memang sudah dekat dengan Surya Paloh sejak masih menjadi jurnalis di Metro TV. Namun, setelah Nasdem berubah menjadi partai politik pada 25 Juli 2011, Meutya memutuskan untuk mundur dari Nasdem. 
 
Meutya menyatakan dengan tegas melalui akun twitternya tidak mungkin bila ia menjadi anggota parpol selain Partai Golkar. "Sangatlah tidak mungkin jika saya menjadi anggota parpol lain." cuitnya.
 
Karir Meutya di dalam kancah perpolitikan nasional terus mengalami peningkatan, pada Tahun 2014, Meutya kembali terpilih menjadi Anggota DPR di Daerah Pemilihan (Dapil) Sumut I.
 
Pada periode 2014-2019, Meutya kembali ditugaskan di Komisi I DPR RI, hingga pada Tahun 2016 ia diangkat menjadi Wakil Ketua Komisi I DPR menggantikan Tantowi Yahya yang ditugaskan menjadi Dubes Selandia Baru.
 
Kemudian pada Periode 2019-2024, Meutya kembali terpilih menjadi Anggota DPR dan ditugaskan kembali di Komisi I DPR RI. Kali ini ia terpilih menjadi Ketua Komisi I DPR RI.
 
Meutya yang awalnya berkarir sebagai Jurnalis hingga kini berhasil menjadi politisi sukses menekankan pentingnya sebuah konsistensi untuk bisa mencapai kesuksesan. "Konsistensi itu penting sementara hasil tergantung dengan proses," ungkapnya.
 
Menjelang Pemilu 2024, Meutya menekankan bila peranan masyarakat memiliki peran vital dalam menentukan pemimpin di Pemilu 2024. Untuk itu, Meutya menegaskan bila masyarakat harus berpikir positif untuk menentukan calon pemimpin yang akan datang.
 
"Masyarakat memiliki peran penting dalam menentukan pemimpin di Pemilu 2024. Untuk itu, masyarakat harus berpikir positif untuk menentukan para calon pemimpin," tegasnya.
 
Meutya menyebut semakin dekatnya waktu menuju pemilu, masyarakat akan dihadapkan pada dilema antara idealisme dan kebutuhan keterpilihan dalam menjaga ruang digital tetap damai.

Sebab itu, Ketua Komisi I DPR RI tersebut mengajak pada seluruh masyarakat untuk menghadapi dilema politik dengan cara yang positif. “Mari kita bersama-sama mencari jalan untuk menghadapi dilema idealisme dan kebutuhan keterpilihan dalam politik. Dengan cara yang menghasilkan perubahan yang positif dan berkelanjutan," tutupnya.

(Givary Apriman Z\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar