Anak Habibie Sebut Industri Penerbangan di Ambang Kesuraman

Sabtu, 08/08/2020 17:21 WIB
Putra Sulung BJ Habibie, Ilham Habibie. (Video.com)

Putra Sulung BJ Habibie, Ilham Habibie. (Video.com)

Jakarta, law-justice.co - Ketua Dewan Pembina The Habibie Center Ilham Habibie mengatakan, pandemi Covid-19 membuat kondisi industri kedirgantaraan termasuk penerbangan secara umum mengalami kesuraman. Hal itu dikarenakan menurunnya lintas penerbangan hingga 80 persen lebih, serta pembatalan pemesanan pesawat oleh perusahaan maskapai.

Selain itu, sektor pariwisata yang jadi andalan untuk mendukung industri kedirgantaraan pun tertekan dan pemulihan volume perjalanan wisata diperkirakan berlangsung lama.

"Ada keadaan yang jujur saja parah karena pola kerja di masa mendatang akan berbeda. Orang mungkin tidak sebanyak dulu yang perlu traveling karena bisa diambil alih teknologi dan ketakutan terhadap covid-19" ujarnya, dilansir dari CNNIndonesia.com, Sabtu (8/8/20).

Namun, Ilham tetap optimistis industri kedirgantaraan dapat berangsur-angsur pulih jelang adaptasi kebiasaan baru, seperti sektor industri lainnya di Indonesia.

"Bagaimana pun kita akan recover (pulih), tapi tidak recover ke keadaan semula, melainkan ada sesuatu yang baru dan di situlah ada peluang untuk industri penerbangan di Indonesia," katanya.

Memang, saat ini ekosistem industri kedirgantaraan Indonesia belum lengkap. Bahkan, PT Dirgantara Indonesia (Persero) yang memimpin sektor dalam industri kedirgantaraan masih banyak memiliki kekurangan.

Ia menambahkan industri penerbangan nasional juga berpotensi untuk berkembang menjadi lebih efisien dengan memanfaatkan inovasi teknologi. Bahkan, ada peluang Indonesia bisa menjadi negara yang memimpin pengembangan industri aviasi melampaui negara lain.

"Selalu kelihatan di mana ada zaman ketika inovasi-inovasi yang distruptif belum tentu perusahaan atau negara yang semula menguasai bidang itu akan berkuasa kembali," jelasnya.

Ilham juga menyarankan sejumlah hal yang perlu diubah di industri aviasi nasional. Salah satunya penggunaan energi ramah lingkungan atau energi baru terbarukan (EBT) yang bahan bakunya melimpah di dalam negeri.

"Ada banyak upaya material yang lebih ramah lingkungan, lebih sustainable (berkelanjutan) digunakan dalam rancang bangun pesawat terbang," katanya.

(Hendrik S\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar