Usut `Ojek` yang Bantu Djoko Chandra Aman Berkeliaran di Indonesia

Rabu, 22/07/2020 10:25 WIB
Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Partai Gerindra Desmond J Mahesa (Ist)

Wakil Ketua Komisi III dari Fraksi Partai Gerindra Desmond J Mahesa (Ist)

Jakarta, law-justice.co - Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Desmond J Mahesa mendesak penegak hukum segera mengusut pihak yang dianggap memberikan fasilitas kepada buronan kelas kakap Djoko Tjandra hingga bisa bebas berkeliaran di Indonesia.

Menurut dia, pihak itulah yang membuat Djoko Tjandra yang harusnya dijebloskan ke dalam penjara justru mendapat pelayanan yang sangat ekslusif dari aparat penegak hukum maupun birokrat di negeri ini.

Mulai dari pembuatan KTP elektronik dan paspor, Surat Jalan dari Brigjen Polisi Prasetyo Utomo, hingga mengajukan peninjauan kembali (PK) melalui kuasa hukumnya. 

Dia menegaskan, kejadian ini multak telah mencabik-cabik kewibawaan hukum dan keadilan di Indonesia.

Kata dia, kasus ini tidak bisa dipandang sebagai akibat kelalaian semata, tetapi mesti disikapi dengan berpijak pada premis adanya unsur kesengajaan dan kongkalikong.

"Sudah hampir pasti, keluar masuknya Djoko dengan mudah karena ada yang memfasilitasinya. Ada pembantu `ojek` yang mengantarkannya," kata Desmond dalam keterangan resminya yang diterima law-justice, Rabu 22 Juli 2020.

Kata dia, sangat dikhawatirkan apabila masuknya Djoko Tjandra ke Indonesia ini sudah menjadi bagian dari skenario para pejabat birokrat maupun penegak hukum di Indonesia.  

Sebab dia mensinyalir kuat dugaan adanya cipta prakondisi mulai dari pembuatan KTP elektronik dan paspor, pengajuan PK, hingga surat jalan dari kepolisian. 

"Ketika unsur aparat Kepolisian diduga terlibat, Kejaksaan, Imigrasi, Kemenkumham, serta Kemendagri sepertinya `kompak membela` Djoko Tjandra, maka publik pasti akan bertanya tanya. Mungkinkah bebas keluar masuknya Djoko Tjandra ke Indonesia itu hanya kebetulan belaka difasilitasi oleh oknum pejabat yang menjadi ojek-ojek pengantar karena tergiur uangnya," ujar politikus Partai Gerindra ini. 

"Kalau ada gerak lembaga yang kompak seperti itu siapa kira kira pengarahnya? Mungkinkah ada super `ojek` yang menjadi komandannya?," imbuh Desmond. 

Di sisi lain, tambah Desmond, kasus ini juga mencerminkan adanya dugaan jaringan mafia yang tersebar di semua sektor birokrasi pemerintahan dan penegakan hukum, imigrasi, kelurahan, pengadilan dan kepolisian negara. 

"Jaringan mafia ini bisa jadi adalah `ojek` yang sudah dikondisikan dalam waktu lama oleh Djoko Tjandra," tutup Desmond. 

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar