Licik! Donald Trump Manfaatkan Militer Agar Menang Pilpres

Sabtu, 04/07/2020 08:06 WIB
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump (Ist)

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump (Ist)

Jakarta, law-justice.co - Ambisi Donlad Trump untuk kembali menang pada Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) November 2020 nanti membuatnya melakukan berbagai cara. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan pasukan militer.

Rencana itu terkuak setelah Trump gencar memulangkan ribuan tentara AS jelang Pilpres. Pemulangan tentara itu dilakukan setelah terjadi penandatangan perjanjian pasukan Angkatan Bersenjata Amerika Serikat (US Armed Forces) yang isinya harus dipulangkan dari Afghanistan.

Melansir Sputnik News via viva.co, perjanjian damai antara Amerika dan Taliban sudah berakhir pada 29 Februari 2020 lalu. Dan langkah selanjutnya adalah AS menarik pasukan dari Afghanistan.

Namun, kabar terbaru menyebut bahwa Kongres Amerika sudah menyepakati Amandemen Undang-undang Pertahanan Nasional (NDAA). Undang-undang tersebut didukung oleh 60 suara senator yang sebagian besar adalah perwakilan Partai Republik, mengalahkan 33 suara lainnya.

Nantinya setelah ditandatangani, Amerika diharuskan untuk menarik seluruh pasukannya dari Afghanistan dalam 14 bulan. Kini tentara yang sudah ditarik sebanyak 8.600 dalam waktu 135 hari.

Ada sekitar 12.000 tentara AS di Afghanistan, dan kini tersisa 4.000. Trump berencana menarik lagi, namun ditentang oleh para senator. Mereka menduga, Trump punya tujuan lain dari aksi penarikan tersebut.

Salah satu yang percaya bahwa akan ada dampak buruk jika Trump menarik pasukan dari Afghanistan adalah mantan analis Badan Intelijen Pusat AS (CIA), Lisa Maddox.

Selain dari Afghanistan, AS juga menarik tentaranya dari Jerman. Padahal, Jerman adalah markas Komando Pasukan Amerika untuk Eropa (USEUCOM). Mereka lantas memindahkan ribuan pasukan dari Jerman, termasuk gudang nuklirnya ke Polandia.

Aksi penarikan lainnya juga terjadi di Irak. AS disebut sudah membuat kesepakatan untuk mengakhiri tugas tentara AS di Irak.

 

(Nikolaus Tolen\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar