Kisah Peternak Sapi yang Bertahan di Kota Jakarta
Ternak sapi di bilangan Jakarta Selatan (Foto: Denny Hardimansyah/Law-Justice.co)
law-justice.co - Mungkin sebagian orang tidak menyangka atau belum mengetahui kalau di antara gedung-gedung pencakar langit dan hiruk pikuk rutinitas warga Jakarta terdapat peternakan Sapi yang masih bertahan sampai sekarang.
Law justice menyambangi ternak Sapi tersebut yang bernama `Gubuk Sapi Bangka` Kamis (5/3/2020). Usaha ternak sapi ini kapasitas kecil yang berada di daerah Bangka IX, Mampang, Kecamatan Mampang Prapatan, Kota Jakarta Selatan.
Tidak sulit menemukan usaha ternak sapi di daerah ini, warga sekitar familiar dengan keberadaan ternak ini. Menurut mereka walau keberadaan kandangnya tersembunyi di antara rumah-rumah penduduk dan gedung tinggi, namun usianya sudah berjalan lama.
"Nyari kandang sapi, noh, masuk aja lorong itu bawa saja kendaraannya, mentok pasti langsung ketemu, ada banyak sapi di situ," jawab salah satu warga yang ditanyai law-justice.
Benar saja, tak butuh waktu lama, memasuki kawasan kandang kita disuguhi tumpukan jerami hijau pakan sapi yang tertata rapi, suasananya cukup teduh dengan kawanan sapi sekitar 12-15 ekor. Sapi-sapi terlihat jinak.
Ternak sapi ini milik Ibu Isna yang merintis bersama suaminya. Selain Sapi ternyata mereka juga memelihara beberapa ekor kambing. Ibu Isna mempekerjakan dua orang karyawan yang mempunyai jadwal sehari dua kali yaitu membersihkan kandang, memandikan sekaligus memerah susu Sapi.
"Susu ini diperah dua kali sehari, perahan pertama pada pukul 04.00 pagi dan yang kedua ya jam segini, pukul 15.00 WIB," jelas salah satu pekerja.
Saat law-justice berkunjung, kedua pekerja ini terlihat sibuk membersihkan kandang dan memandikan Sapi. Terlihat sampah-sampah pakan dan kotoran mengalir ke parit-parit kecil dan langsung menuju sungai kecil yang berada di belakang kandang.
Sapi-sapi ini terlihat terbiasa dengan suasana ini, terlebih sapi perah yang tampak menikmati saat dimandikan.
"Anteng mas Sapinya, gak galak tiap hari begini, jadi terbiasa," ujar pekerja itu yang mengaku sudah mengurus Sapi ini sejak 2 tahun lalu.
Menurut pengakuan Ibu Isna ternak Sapi ini merupakan usaha turun-temurun dari sang mertua yang dibekali kepada Suaminya. Awalnya Sapi yang diternakkan hanya tiga ekoran dan terus berkembang menjadi 30 ekoran.
Ditanya mengapa memilih beternak di tengah kota yang padat ini, Ibu Isna mengaku menjalani saja toh mereka paling awal tinggal di tempat ini.
"Kalau soal tempat bukan pilihan, kan ini turun-temurun sudah ada dari dahulunya, semua orang di sini juga sudah kenal dari perempatan Mampang sampai Warung Buncit banyak peternak Sapi," katanya.
Dia berkisah, bahwa dahulunya banyak program pemerintah berupa pemindahan sapi dari daerah Kuningan, Jawa Barat ke daerah Cijantung, Jakarta Timur. Hal ini menurutnya bagian dari pemerataan peternakan.
"Dulu itu di jaman pak Soeharto dipindah-pindah Sapi dari Kuningan, tapi ya, sekarang lihat sendiri, mereka masih bertahan namun gedung-gedung tinggi menghimpitnya," jelasnya.
Jadi mau tidak mau dengan kondisi ini Ibu Isna memastikan kapasitas Sapi saja tidak berkembang, paling dalam satu kandang rata-rata 20 ekor.
"Kekurangan sih gak ada ya, mungkin hanya kapasitas saja, jumlah sapinya dan juga pakannya yaitu rumput yang mungkin susah didapat, kalau ampas tahu gampang dekat noh, pabrik tahu ada di sebelah, kelebihannya sih, ya biasa. Paling gampang untuk didistribusikan, setiap minggunya pasti ada yang datang ambil terlebih untuk sapi potong, harganya pasaran 17-20 juta," jelasnya.
Walau dengan keadaan seperti ini Ibu Isna mengaku mensyukuri karena secara tidak langsung membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain, misalnya untuk mendapatkan rumput pakan sapi
"Rumputnya ambil dari Halim dekat bandara, ada yang sudah siapkan di sana, sudah dipotong dan diikat, kita tinggal bayar dan ambil. Biasanya suami saya ambil gunakan gerobak motor. Syukurlah masih ada rumput-rumput itu," kilah Ibu Isna.
Dua jenis Sapi perah dan potong ini rata-rata menghabiskan dua gerobak motor dalam dua hari.
"Di sini lengkap, dua-duanya ada, lihat ada Sapi potong, ada Sapi perah, ini anaknya, kambing juga ada, jadi sehari harus dua kali ngambil. Kalau yang beli biasanya distributor, biasa diambil langsung dari sini, masih dalam keadaan hidup nanti diangkut aja, jadi tidak dipotong di sini,`` kata Ibu Isna.
Di akhir kisah Ibu Isna berharap usahanya ini tetap bertahan dan berjalan, tidak ada komplain baik pemerintah maupun warga.
"Ini kan sudah ada dari dulu mereka banyak yang pendatang, paling di hari qurban pada datang, minta jatah biasanya, tapi gak apa-apalah sekaligus beramal, berqurban. Di sini
saya masih mas, masih mau beternak sapi, mau gimana ini kan warisan dan toh kami juga bisa hidup sekarang dari Sapi ini. Anak-anak saya ya gak tahu, kayaknya gak nerusin, anak saya tiga tapi cewek semua soalnya, gak tahu nanti suaminya mau nerusin atau gak, paling ikut suami, semoga dapat pengusaha lah," tutupnya.




Komentar