Sebut Tanjung Priok Tempat Kriminalitas, Orang Kaya Ini Marah

Minggu, 19/01/2020 12:35 WIB
Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni (Foto: Liputan6)

Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Sahroni (Foto: Liputan6)

Jakarta, law-justice.co - Pengusaha kaya dari daerah Tanjung Priok Ahmad Sahroni tidak terima dengan pernyataan Menetri Hukum dan HAM Yasonna H Laoly yang menyebut Tanjung Priok sebagai tempat kriminalitas. Menurutnya, data yang disampaikan oleh Petugas PDI Perjuangan itu sudah lama.

“Pak Menteri mungkin sudah lama tidak berkunjung ke Priok sehingga kurang bisa membandingkan wajah Priok di masa lalu dengan masa kini,” kata Sahroni seperti dikutip dari Teropong Senayan.

Anggota DPR dari Partai Nasdem ini menjabarkan, bahwa sinergi antar elemen masyarakat secara nyata telah mampu menekan angka kejahatan di Priok secara khusus maupun Jakarta Utara secara umum, tahun demi tahun.

Sebagai gambaran kata Sahroni, Polres Jakarta Utara melaporkan terjadi konsistensi penurunanangka kriminalitas di beberapa tahun terakhir. Data terbaru, Polres Metro Jakarta Utara menangani 1.695 kasus tindak pidana di sepanjang 2019, menurun 7 persen dibanding tahun 2018 sebanyak 1.735 kasus.

“Sebagai Menkumham seharusnya Pak Yasonna memegang data identitas pelaku kriminal di lingkungan kerjanya (lapas dan rutan). Kalau beliau sedikit jeli maka akan ditemukan menurunnya pelaku kriminal yang berasal dari Priok di rutan dan lapas beliau, sejalan dengan penanganan kejahatan di kepolisian yang menurun,” jelasnya.

Menariknya, data BPS terkait indeks Kerawanan keamanan dan ketertiban wilayah DKI Jakarta 2019 justru membalikkan asumsi Yasonna Laoly terkait Priok dan Menteng. Data itu mengungkap bahwa Kelurahan Tanjung Priok 2019 berada lebih rendah dibanding Menteng, di mana Priok berada di angka 12,83 persen berbanding Menteng dengan angka 15,58 persen.

"Mengutip data BPS berarti Priok lebih aman dibanding Menteng. Mau kita pungkiri data BPS?” Ucap dia.

Sebelumnya, Yasonna mengatakan soal sumber kemiskinan berasal dari tindakan kriminalitas dan itu yang penyebabkan kejahatan lebih banyak di daerah miskin.

Yasonna mencontohkan dua anak yang lahir dan besar di dua kawasan yang berbeda, yakni Menteng dan Tanjung Priok. Ia meyakini jika anak yang lahir dari kawasan Tanjung Priok yang terkenal keras dan sering terjadi tindak kriminal akan melakukan hal serupa di masa depan.

“Itu sebabnya kejahatan lebih banyak terjadi di daerah miskin. Akun area bukan di Menteng. Anak-anak Menteng tidak, tapi coba pergi ke Priok di situ ada kriminal yang lahir dari kemiskinan,” kata Yasonna.

(Gisella Putri\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar