Rizal Ramli, Sosok Pejabat `Langganan` Para Presiden

Kamis, 15/08/2019 00:36 WIB
Rizal Ramli (law-justice.co/Robinsar Nainggolan)

Rizal Ramli (law-justice.co/Robinsar Nainggolan)

Jakarta, law-justice.co - Sosok ini memang rajin mengkritik berbagai kebijakan pemerintah. Terutama aturan-aturan yang dianggapnya tidak berpihak pada rakyat dan merugikan negara. Meski pun begitu, bukan berarti pintu jabatan publik tertutup untuknya.

Sebaliknya sejak sejak masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Joko Widodo; Rizal Ramli terus  dipercaya untuk mengisi posisi strategis, baik sebagai menteri ekonomi, kepala perusahaan umum mau pun komisaris BUMN.

Rizal mengaku sangat terkesan  sosok Gus Dur. Baginya, presiden yang satu ini merupakan seorang yang pintar dan cerdas, namun tetap asyik dan suka bercanda. Bagi Rizal, Gus Dur-lah yang membuka jalan bagi dirinya untuk menjadi pejabat pemerintahan.

Upaya Gus Dur untuk menyeret ayah tiga anak ini ke dunia pemerintahan, bukan perkara mudah. Setidaknya dua kali tawaran jabatan dari presiden telah ditolaknya. Barulah saat permintaan ketiga, ia menerimanya.

“Suatu ketika Gus Dur menghubungi saya, kali ini kamu nggak boleh nolak. Kamu satu-satunya orang Indonesia yang ditawarin jabatan tapi nolakberkali-kali. Biasanya  orang sekali saja mau, saya pusing mikirin kamu. Jadi apa Gus? Kamu jadi ketua Bulog. Sudah  coba dulu saja. Jadilah saya  ketua Bulog, kita beresin Bulog yang tadinya rugi, kita bikin untung lima triliun dalam waktu setahun,” ungkap Rizal, saat menerima law-justice.co di rumahnya, di Kawasan Kemang.

Sejak saat itu, bisa dikatakan ia menjadi salah seorang kepercayaan presiden. Ketika menjadi kepala Bulog, misalnya, Rizal pernah diminta Gus Dur untuk juga membenahi IPTN yang terus merugi. Sempat berkilah dengan berbagai alasan, mulai dari salah menghubungi orang dan apa hubungan Bulog dengan IPTN, akhirnya ia luluh juga karena jawaban jenaka yang dilontarkan Gus Dur.

“Gus saya dulu suka kritik pak Habibie, saya senang industri peswatnya, tapi Habibie itu selalu serba mahal dan dia nggak  bisa jual. Jadi saya malas benerin itu. Tapi kata Gus Dur, lha ngapain dong waktu kamu muda suka ngritikdia. Jadi kamu kena karma sekarang  , kamu harus beresin.  Tapi apa kata orang kalau Ketua Bulog cawe-caweberesin IPTN. Gus Dur malahngomong, kamu gitu  saja repot. Kasih saja nomor telepon saya, kalau ada yang nanya-nanya suruh telepon langsung,” kisah Rizal .

Seperti Bulog, IPTN yang sebelumnya merugi berhasil dibawa Rizal meraih keuntungan hingga 16 milyar rupiah. Keberhasilan itu membuka dirinya untuk menduduki posisi lebih strategis sebagai menteri koordinator bidang ekonomi, keuangan dan industri (23 Agustus 2000- 12 Juni 2001). Ia kemudian menjadi menteri keuangan 12 Juni 2001 – 9 Agustus 2001 hingga sang presiden lengser karena dimakzulkan oleh parlemen.

Dua Perempuan yang Berpengaruh

Ketika masih kecil, Rizal tak pernah bermimpi menjadi menteri. Pasalnya, ketika bermukim di Padang,  ia telah menjadi yatim piatu sejak umur empat tahun. Berasal dari keluarga sederhana, hampir tak ada harta yang ditinggalkan. Satu-satunya warisan berharga yang diturunkan kepada dirinya dari sang ibu adalah kemampuan membaca.

“Saya dari umur tiga sudah bisa membaca karena ibu saya guru didikan Belanda. Dia warisin sesuatu yang paling berharga buat saya, yaitu membaca. Jadi  umur tiga tahun saya sudah bisa baca dan itu warisan yang paling  berharga, karena kita duit nggak punya, tidak ada biaya. Modal kita  ya baca,” kata Rizal.

Setelah kedua orangtuanya mangkat, Rizal hijrah ke Bogor mengikuti sang nenek pada awal 1960-an dan membantunya  berjualan ayam negeri. Meskipun neneknya buta huruf, ia memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rizal kerap diminta membacakan koran setiap pagi atau menonton televisi. Di mata Rizal, sang nenek adalah sosok yang berwibawa,  meski pun sedikit berbicara. 

Yatim piatu sejak umur tiga tahun (law-justice.co/Teguh Vicky Andrew)

Selama tinggal di Kota Hujan, Rizal terus melanjutkan kebiasannya untuk membaca. Mulanya, segala macam bacaan berbahasa Indonesia dilahap meskipun tak cukup memuaskan hasratnya karena jumlah buku yang tersedia sangat terbatas. Akhirnya ketika masih SMA, ia mengatakan kepada Kepala Perpustakaan Bogor bahwa dirinya akan mencarikan buku-buku baru. Untuk kepentingan itu, ia kemudian menulis surat ke luar negeri. Tak disangka, akhirnya datang kiriman buku dari penjuru dunia. 

Keterbatasan buku bacaan dalam bahasa Indonesia menjadi awal Rizal untuk belajar bahasa Inggris. Sejak SD ia mulai mendalami bahasa asing itu secara otodidak, dengan menghafal 10 kata per hari. Ketika menginjak SMP ia telah bisa membaca dalam bahasa Inggris. Ketika SMA, ia sudah bisa memahami percakapan dalam bahasa internasional itu karena kerap mendengar siaran radio BBC.

Selain membaca, sejak bangku sekolah dasar, Rizal juga belajar olahraga bela diri karena suka berkelahi. Ketika menginjak SMP, ia selalu bangun sekitar pukul lima pagi, hanya untuk mengelilingi Kebun Raya hingga enam tiga puluh putaran. Setelah itu, baru bergegas mandi dan pergi ke sekolah.

Meskipun bergelut dengan banyak buku, Rizal kecil bukan sosok yang serius. Ia sama, seperti bocah-bocah lainnya yang terkadang menjahili guru. Suatu ketika, saat sedang gemar membaca cerita silat, pria asal Sumatera Barat ini  sengaja memiliki duduk di belakang. Mulanya ia seolah-olah memperhatikan pelajaran, bahkan melemparkan pertanyaan kepada guru. Namun setelah itu, ia sibuk membaca buku silat hingga jam pelajaran usai.

Ketika SMA, Rizal juga sering memberikan jawaban ujian Matematika kepada teman-temannya. Hal ini dilakukannya karena ia ingin mencari cara lain untuk menyelesaikan soal yang sama. Lama-lama, dirinya terbiasa untuk mencari solusi, karena setiap jawaban harus memiliki variasi agar guru tidak tahu bahwa jawaban itu berasal dari sumber yang sama.

Calon Fisikawan yang Jadi Ekonom Handal

Dari sekian banyak buku yang dilahapnya, Rizal terpukau pada beberapa yang bertema sains, termasuk Fisika. Kegemaran pada bidang yang satu ini muncul karena sosok ahli Fisika terkemuka, Albert Einstein.  Berawal dari sebuah buku kecil, ia kemudian mengoleksi beberapa buku lain, juga berbagai poster sang ilmuan yang ditempel di dinding kamarnya. Bila anak lain mengidolai para musisi, maka Rizal menggilai Einstein sampai sekarang.

“Saya punya koleksi buku Einstein paling banyak di Indonesia. Karena kalau saya ulang tahun, teman-teman di luar negeri kirim buku Einstein terbaru, dikasihin ke saya. Dan beberapa itu, ini ya, re-collection, contohnya, ini tulisan tangan Einstein, hanya dicetak seribu di seluruh dunia, ini original writing”, kata Rizal. 

Baginya, Einstein merupakan Fisikawan terbaik hingga saat ini karena Teori Relativitas-nya belum terbantahkan. Selain itu, ia juga merupakan sosok yang jenius karena pada satu sisi bisa menjelaskan hal yang sangat kompleks secara sederhana, namun bisa menjelaskan sesuatu yang simple melalui operasi hitung matematika yang rumit.

Sejak saat itulah, Rizal berhasrat untuk mendalami Fisika, seperti sang idola. Ketika menginjak SMA, ia tak lagi meminati bidang yang lain dan menetapkan pilihan untuk masuk di Jurusan Fisika Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk itu, Rizal  harus meninggalkan sang nenek dan membuang kesempatan pembiayaan pendidikan dari pamannya yang berharap Rizal masuk IPB, serta membiayai pendidikan tingginya secara mandiri.

Oleh sebab itu, ketika diterima di ITB, Rizal tak langsung kuliah karena tidak memiliki biaya. Praktis, pada semester pertama, ia terpaksa bekerja sebagai pengawas percetakan di kawasan Kebayoran, Jakarta Selatan. Penghasilannya kemudian ditabung untuk biaya kuliah dan hidup di Bandung. Ia kemudian baru masuk pada semester kedua. Namun uang yang dikumpulkannya itu hanya cukup untuk enam bulan.

Meskipun banyak temannya yang membantu, Rizal malu dan tak mau bergantung pada orang lain. Ia memutar otak dan menyadari kemampuan bahasa Inggris yang dimilikinya kini dapat dimanfaatkan. Untuk itu, bersama beberapa teman ia kemudian membuka jasa penerjemahan. Dalam waktu singkat bisnis ini pun berkembang hingga mampu merekrut staf pengetikan. Sejak saat itu, semua kebutuhannya bisa tercukupi.

“Mula-mula butuh 2-3 jam untuk ngerjain satu halaman. Kan bukan letterleg, lama-lama kita cuma butuh waktu  10-15 menit, akhirnya kita cari mahasiswa ITB juga, susah juga  kan, dia bagian tukang ketik. Dulu kita sendiri yang ngerjain, lama-lama…punya anak buah. Kita mulai hari Jumat jam  lima sore, sampai Sabtu sekitar jam enam, cukup buat hidup seminggu, bisa pacaran, nonton, bisa jadi aktivis,” ujarnya.

Selain itu, untuk menambah penghasilan Rizal juga pernah menjadi guru untuk murid-murid asing. Ketika itu memang belum ada sekolah internasional di Bandung. Bersama kawan-kawannya, ia mendapatkan bahan-bahan pelajaran dari University of Nebraska setiap bulan. Materi inilah  yang diajarkan kepada anak-anak setingkat SMP dan SMA itu. Hasilnya tak mengecewakan, kocek pun kian tebal meskipun tak pernah cukup untuk memenuhi kebutuhan.

Sejak mahasiswa, Rizal Ramli dikenal sebagai aktivitis pergerakan. Namun persuaan dengan dunia ini bukan sebuah kesengajaan. Suatu ketika, ia mendapat hadiah lomba menulis berupa pertukaran pelajar di Asian Studies, Sofia Daigaku di Tokyo selama dua bulan. Selain kuliah, para peserta juga mengikuti tur keliling Jepang. Pada saat itulah, ia tersadar dan mulai bertanya  mengapa Jepang yang sempit, bertanah batu karang, dan miskin bahan mentah bisa mensejahterakan rakyatnya, sementara Indonesia tidak.               

“Nah pulang, saya ajak teman, almarhum. Adi, mahasiswa tambang, untuk  kunjungin daerah-daerah miskin di utara pulau Jawa sampai Bali sama Lombok.  Pas di Tegal, kita diajak sama seorang Bapak buat nangkap ikan. Dia punya anak, namanya Sugriwa yang seharusnya sudah SMP tapi tidak sekolah. Sepanjang malam, tangkapan yang didapat hanya 2 ember kecil, itu pun hanya rajungan yang bekas-bekas dan ukurannya kecil,” kata Rizal

Pulang dari sana, keduanya menyimpulkan kemiskinan membuat banyak anak di Indonesia tidak bisa bersekolah. Berdasarkan data yang ada pada saat itu, setidaknya terdapat delapan juta anak usia SD yang tak mampu mengenyam pendidikan. Oleh karena itu, bagi Rizal dan kawan-kawannya sudah saatnya Indonesia memiliki regulasi khusus yang mengatur wajib belajar enam tahun.

Untuk itu, sejumlah aksi pun dilakukan. Selain mempresentasikan makalah, bersama teman-temannya ia pun melakukan demonstrasi menjelang Pemilu 1977. Selain itu, didekati pula dua seniman terkemuka Rendra dan Sjumanjaya. Belakangan nama yang terakhir in membuat film bertajuk Yang Muda Yang Bercinta yang mengontraskan kehidupan mahasiswa dan delapan juta anak yang tak bisa bersekolah ini. Akhinya pada 1984, pemerintah pun mengesahkan program Wajib Belajar 6 Tahun untuk pertama kali.

Selain itu, sebagai aktivis, Rizal  juga berani melawan Soeharto, meskipun sang diktator baru saja menghabisi gerakan mahasiswa pasca-Peristiwa Malari 1974. Menurutnya saat itu  sangat penting untuk mematahkan asumsi bahwa mahasiswa tak lebih dari pion-pion  dalam persaingan elit militer antara Ali Moertopo dan Sumitro. Oleh sebab itu, sejak awal, Rizal dan kawan-kawan epakat untuk tidak bersentuhan dengan elit karena ingin memperlihatkan bahwa gerakan ini murni dari mahasiswa.

Berani melawan Soeharto (law-justice.co/Teguh Vicky Andrew)

Ketika itu Rizal  dan keempat rekannya juga diminta untuk menulis Buku Putih Perjuangan Mahasiswa. Ia telah memperingatkan kawan-kawannya bahwa kitab ini berisiko mengantarkan mereka ke hotel prodeo selama 2 tahun. Namun karena tak ada yang gentar, makanya semua bahan-bahan buku itu dibakar dan hanya tinggal naskah buku itu belaka. Pada 16 Januari, buku itu pun diumumkan di lapangan basket ITB. Sang rektor yang tak tahu-menahu, pun datang menghadiri acara itu.

Penerbitan buku itu sontak membuat Soeharto marah besar. Pasalnya, menurut Rizal, buku itu berisi kritik tentang pola pembangunan Orde Batu dan maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme. Segera setelah diterbitkan, buku itu pun langsung dilarang oleh Jaksa Agung. Soeharto bahkan menutup semua media massa yang pada saat itu sehingga tak terbit untuk beberapa saat.

Namun alih-alih terisolir, buku ini malah semakin populer. Pasalnya Buku Putih Perjuangan Mahasiswaditerjemahkan oleh seorang Indonesianis yang juga Profesor di Universitas Cornell, Ben Anderon. Belakangan, selain bahasa Inggris, buku ini juga diterjemahkan ke-8 bahasa lainnya sehingga dapat diakses oleh pembaca yang lebih luas.

Bagi ITB, imbas terhadap penerbitan buku itu adalah pendudukan kampus itu oleh tentara. Selain itu, seluruh penulisnya pun ditangkap. Namun Rizal Ramli termasuk yang paling terakhir dipenjara. Alasannya, saat itu ia sedang memenuhi undangan ke AS selama tiga bulan bersama pemimpin mahasiswa Asia. Sadar akak ditahan bila pulang ke tanah air tepat waktu, ia singgah dahulu di Hawaii selama seminggu baru pulang ke Indonesia  dengan visa on the go sehingga tidak terdeteksi.

“Ternyata di Halim nggak ada siapa-siapa. Akhirnya, saya ke Bogor ketemu nenek saya. Dia sudah nangis-nangis ketakutan, sampai mimpi-mimpi cucunya ditangkap. Habis itu, saya ke Bandung, pacaran dulu sama Hera berapa hari, habis  itu saya datang ke rektor-nya. Baru rektornya ngantarinsaya ke penjara”, kata Rizal.

Seperti ke-4 rekannya yang lain, Rizal pun dihadapkan ke pengadilan. Meskipun dibela oleh para pengacara handal, termasuk Adnan Buyung Nasution, ia tak bisa dibebaskan dari pasal Haatzai Artikelen, penghinaan kepada presiden.  Ia pun harus meringkuk di penjara selama dua tahun di usia yang masih sangat muda, 22 tahun dan dikeluarkan dari ITB.

Ketika di dalam penjara inilah minat Rizal beralih dari Fisika ke Ekonomi. Sebenarnya peralihan ini berawal kesalahkaprahan dirinya terhadap Ilmu Ekonomi. Ketika dipenjara di Sukamiskin memang kerap mendapat kiriman buku dari berbagai pihak, termasuk seorang suster Katolik yang sudah dianggap Rizal sebagai ibu kandungnya.  Saat itu, ia menganggap buku-buku Politik-Ekonomi yang diterimanya adalah buku ekonomi murni. Baru belakangan kesalahan itu ia sadari.

Ketika telah keluar dari penjara, Rizal memutuskan untuk bersekolah di luar negeri. Ia memilih Jurusan Ekonomi di Boston University, AS. Ketika itu, ia diterima sebagai mahasiswa percobaan. Artinya pada semester 1 merupakan program sarjana. Bila nulainya bagus, baru bisa masuk  sekolah pascasarjana. Jalan semacam ini tak hanya dilalui dirinya, tetapi juga inteketual seperti Arief Budiman  dan Nono Makarim.

Namun setelah di AS, pandangannya terhadap Ilmu Ekonomi kian benderang. Ia tidak hanya bisa membedakan Politik-Ekonomi dan Ilmu Ekonomi murni, tetapi mulai menyadari bahwa bidang yang didalaminya sekarang  itu berisi Matematika belaka, sebuah ilmu dasar yang harus dikuasai dengan baik oleh para mahasiswa Fisika di ITB. Hal inilah membuat dirinya mudah beradaptasi.

Kita belajar matematika ekonomi semester pertama, saya istilahnya ini  kagak ngarti, maksudnya istilah ekonomi, tapi ada masalah apa  matematika itu bisa pecahkan, makanya saya dapat nilai tertinggi dari sekitar 40 mahasiswa bule, di sini kita paling bagus sampai dosennya bingung, kamu kok bisa begini. Kita nggak ngerti istilahnya tapi kita bisa. Akhirnya setelah 6 bulan kita diterima sebagai mahasiswa  untuk master”, kata Rizal.

Dua tahun berselang, Rizal pun lulus dari Boston University. Sebenarnya, ia ditawari beasiswa doktor di universitas yang sama. Namun ia menolak karena tak punya pengalaman di bidang Ekonomi, meskipun telah merengkuh gelar S2 dan memilih pulang ke Indonesia. Sempat menjadi pemimpin redaksi di Jurnal Prisma, ia bekerjasama dengan tim dari Harvard University yang ketika itu menjadi penasehat pemerintah.

Belakangan ia berhasil menyelesaikan pendidikan doktornya di Boston University.  Ia sempat mendirikan perkumpulan ekonom ternama, ECONIT Advisort Group bersama Laksamana Sukardi, Arif Arryman, dan M.S. Zulkarnae dan mengajar di Program Pasca-Sarjana Manajemen Universitas Indonesia.  Baru, setelah Orde Baru runtuh, ia masuk  ke dunia pemerintahan.

Belajar dari Einstein

Sebagai manusia yang memiliki banyak dimensi, menurut Rizal, Albert Einstein memiliki kemampuan otak kiri dan kanan yang seimbang. Ia tak hanya mahir Matematika, tetapi juga menyukai musik dan seni.  Rizal sendiri mengaku pada awalnya otak kanannya yang rasional sangat dominan. Namun setelah bergaul dengan mendiang istrinya yang arsitek, senang main piano dan melukis, kini otak kiri dan kanannya pun seimbang.

Itulah sebabnya sejak masih mahasiswa Rizal telah menggemari musik. Ia sebenarnya  lebih senang Jazz, meskipun pernah menjadi Ketua Asosiasi Musik Klasik dan Jazz. Alasannya aliran musik yang satu ini lebih dinamis, penuh improvisasi, dan hidup. Tapi ketika mulai menua, mendengarkan musik Klasik lebih berfaedah karena dapat melakukannya sambil melakoni pekerjaan lain.

Kini, kegemarannya pada musik coba diturunkan pada cucu perempuannya. Sejauh ini tampaknya usaha itu cukup berhasil. Salah satu cucu dari anak pertamanya yang masih  berumur enam tahun kini telah bisa membawakan  The Phantom of the Opera dan The Greatest Showman dari awal hingga akhir yang terbilang sulit untuk anak seusianya.

Sementara, untuk cucu laki-lakinya, ia mendorongnya untuk bermain catur. Salah seorang cucunya yang masih berusia 4,5 tahun sudah bisa berpikir hingga tiga langkah ke depan, hampir mendekati orang dewasa yang sudah bisa memperkirakan tiga langkah ke depan.

Bagi Rizal, catur serupa dengan matematika, sama-sama berupaya mendisiplinkan pikiran dan menyelesaikan masalah melalui beragam solusi yang kadang tak terduga.

(Teguh Vicky Andrew\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar