Kerusuhan 22 Mei 2019

Keluarga Korban Tunggu Hasil Usut Pelaku Penembakan dan Keadilan

Jum'at, 14/06/2019 10:11 WIB
Orang tua almarhum Muhammad Rayhan Fajari, Agus Salim (49 tahun) dan Nurhayati (41 tahun), saat dijumpai di kediamannya di Jakarta. (law-justice.co/Winna Wijaya)

Orang tua almarhum Muhammad Rayhan Fajari, Agus Salim (49 tahun) dan Nurhayati (41 tahun), saat dijumpai di kediamannya di Jakarta. (law-justice.co/Winna Wijaya)

Jakarta, law-justice.co - Keluarga korban penembakan saat kerusuhan 22 Mei, hingga kini masih menunggu hasil penyelidikan polisi dan meminta keadilan hukum. Hal itu diungkapkan oleh Agus Salim, 49 tahun, ayah dari almarhum Muhammad Rayhan Fajari, yang tewas saat kerusuhan akibat demo kecurangan pemilu, di kawasan Petamburan, Tanah Abang. Agus meyakini bahwa proses pengusutan pelaku hingga kini sedang diupayakan.

“Silakan yang berwenang yang menangani. Saya perhatikan mereka juga lagi menyelidiki ini. Mereka punya sistem kerja sendiri. Siapapun pelakunya nanti pasti terungkap, pasti kalau sudah dapat pasti saya dikabarin,” kata Agus kepada law-justice.co, di rumahnya di Jakarta Pusat, Kamis (13/6). 

Sehari sebelum law-justice.co menjumpai Agus, ia mengaku telah dipanggil Polda Metro Jaya dan diminta keterangan sebagai saksi korban, sehingga mengindikasikan proses pengusutan sedang berjalan.

Tiga hari pasca kematian putranya, pihak kepolisian sudah datang berbelasungkawa ke kediamannya. Juga beberapa ucapan datang dari bekas istri calon presiden Prabowo Subianto, Titiek Soeharto, orang tua calon wakil presiden Sandiaga Uno, serta jajaran Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Bahkan dalam proses doa 40 hari kematian Rayhan, Gubernur Anies Baswedan direncanakan bakal menghadiri. “Kalau empat puluh hari-an, beliau akan datang rencananya,” tutur ayah Rayhan yang sehari-hari berprofesi sebagai sopir ojek online.

Jenazah Rayhan telah dikebumikan di Purwakarta yang merupakan tempat tinggal keluarga besarnya. Sang ibunda, Nurhayati, 41 tahun, mengaku tak kuasa menahan kepergian putranya. Suasana lebaran ia rasakan tak seperti biasa. Terutama saat menjumpai beberapa rekan sebaya putranya yang mendatangi rumah dan mengajak salaman, sontak mengingatkannya pada kepergian Rayhan.

Rumah kediaman almarhum Muhammad Rayhan Fajari yang ditinggali oleh dua kepala keluarga di Jalan Petamburan V RT 10 RW 05, Tanah Abang, Jakarta Pusat. (Winna Wijaya/law-justice.co)

Sebelum kejadian nahas pada subuh 22 Mei itu, Rayhan meninggalkan kesan tak biasa. Ia merupakan anak pendiam. Jarang muncul guyonan atau jahil pada sesama. Namun saat buka puasa pada 21 Mei, Nurhayati mengatakan Rayhan sempat menjahilinya dengan menempelkan isi es campur ke bajunya bagian belakang sambil berujar, “Ma, besok buka puasa jangan es campur mulu, jangan es,” kata Nurhayati menirukan ucapan putra keduanya.

Rayhan merupakan putra kedua dari tiga bersaudara. Saat kematian merenggutnya, ia sedang berusia 15 tahun. Rayhan baru saja lulus dari Sekolah Menengah Pertama 181 Jakarta Pusat. Saat law-justice.co menjumpai sore itu, siangnya mereka telah mengambil surat keterangan lulus Rayhan dari sekolah.

Menurut penuturan Nurhayati, Rayhan sering mengajak bercanda temannya secara menjengkelkan karena mukanya yang terlalu serius. Putranya itu memang jarang terlihat tertawa apalagi berbicara keras. Namun satu kenangan tersendiri tatkala Rayhan begitu antusias dengan lagu-lagu Iwan Fals. Rayhan mengatakan pada mereka bahwa dirinya adalah bagian dari Orang Indonesia alias OI yang merupakan julukan bagi penggemar Iwan Fals.

“Sampai pernah ikut nonton konser. Saking girangnya, sampai tiketnya digantungin dipajang. Saking sukanya. Kalau adiknya dengarin Iwan Fals, ‘lagunya Aa’ tuh’,” kata Nurhayati.

Masjid Al-Istiqomah merupakan tempat kegiatan almarhum Muhammad Rayhan Fajari selama aktif di GEMMA. (Winna Wijaya/law-justice.co)

Selain menggemari Iwan Fals, Rayhan aktif pula menjadi bagian dari pengurus masjid yang dikenal Generasi Muda Masjid Al-Istiqomah (GEMMA). Kegiatan mereka acapkali urun membantu penggalangan dana terhadap korban meninggal, kebakaran, atau korban bencana alam. “Meskipun dia gak bisa apa-apa, cuma pegangin kardus,” kata ibunda.

Kedua orang tua Rayhan sepenuhnya telah memasrahkan nasib nahas yang menimpa buah hatinya kepada kuasa tuhan. Mereka mengharapakan tak terjadi lagi kerusuhan secara brutal sehingga menelan korban pihak tak bersalah.

“Jangan ada korban lagi. Kalau korban seperti anak saya yang karena rasa penasaran lihat katanya ramai-ramai di depan, ternyata masih jauh dengan tempatnya,” harap Agus. “Saya serahkan ini ke yang berwenang,” imbuhnya.

(Winna Wijaya\Reko Alum)
Share:


Berita Terkait

Komentar