Simak Rekomendasi Saham Diprediksi Cuan di Pekan Pertama November
Karyawan melintas di dekat monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta - (ANTARA)
law-justice.co - Pada penutupan perdagangan hari Jumat 30 Oktober 2026 lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 41 poin atau minus 0,80 persen di level 5.057.
Investor melakukan transaksi sebesar Rp11,65 triliun dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 37,62 miliar saham.
Dalam sepekan terakhir, indeks saham melemah selama empat hari. Tak heran, performa indeks tercatat turun 7,03 persen sepanjang pekan kemarin.
Senada, Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Elsierra Putri Yosita mengatakan selama periode tanggal 26 sampai dengan 30 Oktober 2026 perdagangan saham menunjukkan koreksi pada sejumlah indikator dibanding pekan sebelumnya.
Tercatat, kapitalisasi pasar bursa mengalami penurunan sebesar 7,52 persen dari Rp9.583 triliun menjadi Rp8.862 triliun pada pekan lalu. Senada, rata-rata volume transaksi harian turut mengalami penurunan sebesar 18,85 persen dari 39,959 miliar menjadi 32,428 miliar lembar saham.
Adapun untuk rata-rata nilai transaksi harian pun menurun sebesar 29,49 persen dari Rp20,34 triliun menjadi Rp14,339 triliun.
Rata-rata frekuensi transaksi harian juga terkoreksi 20,99 persen dari 1,95 juta kali transaksi menjadi 1,54 juta kali transaksi pada penutupan pekan lalu.
"Adapun pada perdagangan Jumat (30/10), investor asing mencatatkan nilai jual bersih (net sell) sebesar Rp138,71 miliar. Secara kumulatif sepanjang 2026, investor asing membukukan nilai jual bersih sebesar Rp97,921 triliun," katanya dalam keterangan resmi, Jumat (30/10).
Lantas bagaimana proyeksi pergerakan IHSG untuk sepekan ke depan?
VP Equity Retail Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi memperkirakan indeks saham bergerak mixed dengan kecenderungan menguat pada perdagangan hari ini, Senin (2/11). Dia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang support 4.970 dan resistance 5.185.
Dari sisi sentimen, pasar akan mencermati rilis data inflasi dan aktivitas manufaktur Indonesia periode Oktober 2026. Inflasi diperkirakan tumbuh 3,3 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, indeks S&P manufaktur Indonesia diproyeksikan turun ke level 51,9.
Oktavianus menilai kedua data tersebut kemungkinan direspons moderat oleh pasar karena belum memberikan dampak signifikan terhadap arah kebijakan moneter.
"Rilis data PDB kuartal III 2026 yang diperkirakan melambat menjadi 5 persen secara tahunan berpotensi memberikan sentimen negatif bagi pasar. Kondisi ini juga dibayangi pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah yang mendorong risiko arus dana keluar," katanya seperti melansir cnnindonesia.com, Minggu (1/11).
Selain itu, rupiah tercatat melemah hingga menyentuh Rp18.170 per dolar AS. Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah bertenor 10 tahun juga mencapai 7,71 persen, tertinggi sejak Mei 2020. Menurutnya, kondisi tersebut turut meningkatkan tekanan terhadap pasar saham dan memicu arus modal keluar (capital outflow).
Berdasarkan analisis teknikal, Oktavianus pun merekomendasikan beberapa saham yang bisa dikoleksi. Pertama, saham PT Medco Energi Internasional Tbk atau MEDC yang ditutup menguat 3,73 persen ke posisi 1.390 pada pekan lalu. Oktavianus memproyeksi MEDC dapat menyentuh level 1.530 pada pekan ini.
Kedua, saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk atau INDF yang ditutup menguat 1,99 persen ke level 6.400 pekan lalu. Oktavianus memproyeksi INDF dapat menyentuh level 6.750 pada pekan ini.
Sementara itu, Analis Teknikal MNC Sekuritas Herditya Wicaksana memperkirakan indeks saham masih rawan melanjutkan koreksi pada perdagangan sepekan ke depan. Dia memperkirakan IHSG bergerak dengan level support 4.907 dan resistance 5.317.
Dari sisi sentimen, pasar akan mencermati implementasi kebijakan komite pengawasan khusus (HSC) pada 2 November 2026. Melalui kebijakan tersebut, emiten-emiten yang masuk dalam kategori HSC akan dikeluarkan dari formulasi perhitungan IHSG.
Selain itu, menurutnya, investor akan memperhatikan rilis data Purchasing Managers` Index (PMI) manufaktur dan inflasi Indonesia yang diperkirakan masih meningkat, serta data pertumbuhan ekonomi atau produk domestik bruto (PDB) Indonesia.
Dari eksternal, pasar akan mencermati pelaksanaan pemilihan paruh waktu (midterm election) di Amerika Serikat (AS). Herditya melihat investor juga mulai menantikan peninjauan indeks oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang dijadwalkan berlangsung pada pekan berikutnya.
"Sentimen yang akan memengaruhi pergerakan IHSG antara lain implementasi kebijakan HSC pada 2 November 2026, serta rilis data PMI, inflasi, dan PDB Indonesia. Selain itu, pasar juga akan mencermati perkembangan politik di AS dan MSCI review pada pekan berikutnya," kata Herditya.
Dia pun menyarankan investor dapat mencermati beberapa saham dari emiten ia rekomendasikan. Herditya pun merekomendasikan saham PT XLSmart Telecom Sejahtera Tbk atau EXCL, PT Medco Energi Internasional Tbk atau MEDC, serta PT Triputra Agro Persada Tbk atau TAPG.



Komentar