Ancaman MSCI Tak Dimitigasi, Hashim: Rupiah Bisa Tembus Rp22000

Jum'at, 30/10/2026 17:04 WIB
 Hashim Sujono Djojohadikusumo (tribun)

Hashim Sujono Djojohadikusumo (tribun)

law-justice.co - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim S. Djojohadikusumo memperingatkan risiko pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp 21.000 hingga Rp 22.000 per dolar AS akibat ancaman penurunan peringkat pasar modal Indonesia oleh Morgan Stanley Capital Internasional (MSCI). Peringatan itu disampaikannya dalam Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Kadin 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Adik kandung Presiden itu mengingatkan, ancaman penurunan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market berpotensi mendorong investor asing keluar dari pasar domestik. Jika hal ini terjadi, Indonesia akan kehilangan daya tarik bagi investor global yang berujung pada penarikan investasi besar-besaran.

Kondisi tersebut perlu diantisipasi karena dapat memengaruhi aliran modal dan kepercayaan investor terhadap prospek pasar keuangan Indonesia. Ketua Dewan Penasihat Kadin itu pun memperingatkan, keluarnya modal asing dapat menambah tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Ia menyampaikan skenario pelemahan rupiah hingga kisaran Rp 21.000-Rp 22.000 per dolar AS apabila tekanan terhadap pasar keuangan semakin besar. Angka tersebut merupakan perkiraan yang disampaikannya, bukan kepastian mengenai pergerakan nilai tukar, namun dampaknya dinilai sangat serius.

"Kalau investasi luar negeri keluar dari pasar saham kita, rupiah bisa semakin lemah. Pinjaman luar negeri kita juga harus dibayar lebih mahal. Ini bisa menjadi persoalan serius bagi perekonomian Indonesia," jelasnya.

Pelemahan rupiah, lanjutnya, juga dapat meningkatkan beban pembayaran kewajiban luar negeri dalam denominasi valuta asing. Dampaknya berpotensi menjalar ke perekonomian apabila tekanan pasar modal, arus modal keluar, dan pelemahan mata uang terjadi secara bersamaan.

Dalam forum tersebut, Hashim mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak politik dan ekonomi jika stabilitas mata uang terganggu. "Saya mau terus terang saja, tapi ini masalah amat sangat serius. Jangan sampai Rupiah jadi Rp 21.000 atau Rp 22.000 (per dolar AS). Ini mempunyai dampak politik yang luar biasa negatif," tegasnya.

Praktik Goreng Saham

Lebih lanjut, Hashim menyoroti praktik perdagangan saham yang tidak sehat di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai salah satu penyebab kekhawatiran MSCI. Ia menyebutkan indikasi manipulasi harga atau praktik "goreng" saham, keterbatasan porsi saham publik (free float), serta rasio harga terhadap laba (price to earnings ratio/PER) yang dinilai tidak wajar turut memperburuk citra pasar modal domestik.

Ia mencatat integritas pasar modal sangat krusial mengingat besarnya jumlah investor domestik saat ini. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), terdapat sekitar 32,7 juta warga negara Indonesia yang memiliki akun investasi saham.

Hasyim pun mengimbau para pelaku usaha di bawah naungan Kadin untuk mendukung terciptanya ekosistem perdagangan yang transparan. "Jangan sampai kawan-kawan Kadin juga ikut dengan praktik-praktik goreng-gorengan. Saya kira ini nanti yang jadi korban adalah 32.700.000 saudara-saudara kita," tambahnya.

Untuk mencegah arus keluar modal asing dan menjaga kepercayaan investor global, Hashim mengungkapkan dirinya telah mendapatkan penugasan khusus dari Presiden untuk membantu pemerintah memitigasi risiko terkait evaluasi MSCI. Langkah ini diambil guna mencegah Indonesia mengalami kondisi serupa dengan pasar saham di Turki yang sempat mengalami gejolak hebat, serta mencegah sumber dana untuk pasar modal menjadi semakin kering.

"Saya diminta oleh Presiden untuk membantu kawan-kawan di pemerintah untuk memitigasi masalah yang kita hadapi dari MSCI. Kalau tidak kita mitigasi, sumber dana untuk pasar modal kita akan semakin kering," ujar Hashim.

Ia menilai pemerintah perlu memperhatikan kondisi tersebut secara serius dan upaya mitigasi harus dilakukan segera agar ketidakpuasan investor tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas. "Kabar gembira mungkin bisa datang tahun depan, tetapi kabar buruk harus kita hadapi sekarang. MSCI ini harus kita mitigasi agar persoalannya tidak sampai di luar kendali," ujarnya. 

Pemerintah sendiri berkomitmen untuk memperkuat pengawasan dan mengambil tindakan tegas terhadap setiap pelanggaran ketentuan pasar modal demi menjaga stabilitas ekonomi nasional.

Menanggapi pernyataan Hashim, Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie mendukung imbauan Ketua Dewan Penasihat Kadin Indonesia Hashim Djojohadikusumo agar anggota Kadin tidak terlibat dalam praktik goreng-menggoreng saham. "Ya, saya rasa itu tepat sekali," kata Anindya 

Menurut Anindya, pasar modal harus mencerminkan dua aspek utama, yakni fundamental ekonomi atau perusahaan serta pertumbuhan ekonomi. Kedua aspek tersebut harus didasarkan pada kondisi riil, bukan pertumbuhan yang dibuat-buat.

"Dua hal itu tentu tidak bisa dibuat-buat. Itu harus berdasarkan dari pertumbuhan yang organik, pertumbuhan yang juga benar-benar berdasarkan fakta," jelas Anindya.

Dia menilai, komposisi perusahaan yang tercatat di pasar modal Indonesia belum sepenuhnya mencerminkan gambaran produk domestik bruto (PDB) nasional. Kondisi tersebut menunjukkan masih terbukanya ruang bagi perusahaan lain untuk masuk ke pasar modal. "Artinya, masih banyak lagi perusahaan-perusahaan yang bisa melantai, tapi benar-benar membawa fundamental," kata dia.

Anindya menekankan pentingnya kehadiran perusahaan dengan fundamental yang kuat agar pasar modal dapat mencerminkan pertumbuhan ekonomi secara organik dan berdasarkan fakta.

Adapun kekhawatiran akan ancaman MSCI tersebut tercermin pada pergerakan pasar hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (29/10) kembali turun 184,25 poin atau 3,49% menjadi 5.098,06 di BEI. Investor asing mencatat net sell atau jual bersih Rp 1,08 triliun di seluruh pasar, dengan net sell di pasar reguler mencapai Rp 1,52 triliun.

Seluruh saham LQ45 melemah, total 624 saham melemah, hanya 98 saham menguat dan 70 saham flat. Dengan penurunan ini, IHSG mengakumulasi pelemahan 5,38% dalam sepekan dan sejak awal tahun melemah total 41,04%.

Berbanding terbalik dengan IHSG, nilai tukar rupiah pada sore ini justru berhasil rebound menguat. Rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 18.137 per dolar AS, menguat 0,26% dari posisi sehari sebelumnya Rp 18.184.

Penguatan tersebut ditopang meredanya tekanan dolar AS setelah bank sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%-4,00%. 

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar