Aksi Mahasiswa Trisakti: Dua Tahun Tanpa Kabar Baik dari Rezim Prabowo

Jum'at, 30/10/2026 05:53 WIB
Sejumlah masyarakat yang bekerja di kawasan Sudirman mengaku tidak terganggu dengan demonstrasi Aliansi Mahasiswa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Rabu, (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Demonstrasi tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus, buruh, petani, serta elemen masyarakat sipil lainnya. Robinsar Nainggolan

Sejumlah masyarakat yang bekerja di kawasan Sudirman mengaku tidak terganggu dengan demonstrasi Aliansi Mahasiswa di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta, Rabu, (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Demonstrasi tersebut melibatkan mahasiswa dari berbagai kampus, buruh, petani, serta elemen masyarakat sipil lainnya. Robinsar Nainggolan

law-justice.co - Sebagai informasi, kemarin, Kamis 29 Oktober 2026 sore, sejumlah mahasiswa Universitas Trisakti menggelar demonstrasi di kawasan Patung Kuda Monas, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat.

Kedatangan massa ini membawa gelombang protes keras, salah satunya dengan menyerukan narasi bahwa selama dua tahun terakhir tidak ada berita baik dari rezim pemerintahan saat ini.

Hal ini disampaikan salah satu orator di atas mobil komando menyoroti persoalan bencana alam di Sumatra dan Kalimantan yang dinilai belum tuntas ditangani.

"Cukup dua tahun tak ada berita baik dari rezim ini. Bencana alam, sumatera kalimantan belum selesai (ditangani)," ujar orator wanita diatas mobil komando, Kamis (29/10).

Oleh karena itu, lanjut dia, mahasiswa sebagai agen perubahan tidak boleh berhenti bergerak dan bersuara melawan ketidakadilan.

Sebab, kebijakan yang diambil oleh pemerintah saat ini, sangat mempengaruhi kondisi masa depan.

"Kita merupakan agent of change, kita masih memiliki jalan panjang. Jangan sampai boomer itu merusak jalan panjang kita," tambahnya.

Soroti Ketimpangan di Kalimantan

Senada dengan hal tersebut, Deva, orator lainnya, menyoroti ketimpangan energi di wilayah penghasil sumber daya alam.

Dia mengungkapkan bahwa Kalimantan yang memiliki tambang terbesar di Indonesia, namun pasokan listrik justru dipadamkan secara bertahap.

"Apa ini yang dinamakan merdeka," tegas Deva di atas mobil komando.

Dia juga mendesak agar publik tidak berhenti menyuarakan persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Deva pun mempertanyakan apakah nantinya hutan yang terbakar akan berubah menjadi kebun sawit.

"Apakah lahan itu akan kembali jadi hutan atau berubah menkadi kelapa sawit atau tambang teman-teman. Pulihkan hutan Indonesia," katanya.

Dia juga menilai pemerintah abai dengan penderitaan masyarakat Sumatra, Kalimantan, dan Papua yang mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) hingga tidak bisa bersekolah akibat kabut asap.

Bentangkan Bendera Kritik dan Suarakan Tritura

Di tengah kerumunan aksi, massa tampak membawa sejumlah atribut unjuk rasa yang mencuri perhatian.

Mereka membentangkan bendera berlatar hitam dan putih yang menampilkan siluet gambar Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, lengkap dengan kalimat bernada kekecewaan terhadap arah kebijakan pemerintah.

Spanduk besar bertuliskan "Bismillah Ini Adalah Kegelapan" serta "Dengan nama tuhan ini adalah kegelapan" turut dibentangkan di tengah kerumunan massa.

Dalam aksinya, massa mahasiswa Trisakti membawa misi utama berupa seruan perbaikan tata kelola negara melalui tiga tuntutan rakyat atau Tritura.

Orator aksi merinci tiga poin krusial tersebut, yaitu desakan pemulihan menyeluruh di sektor ekonomi, ekologi, politik, pendidikan, serta kesehatan nasional.

Selain itu, massa juga menuntut pemberantasan inkompetensi di kalangan pejabat negara, penghapusan rangkap jabatan bagi pejabat publik, serta penegakan supremasi sipil.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar