DPR Dorong Perpustakaan Perkuat Kemampuan Berpikir Kritis

Sabtu, 22/08/2026 21:21 WIB
Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief Muhammad (Istimewa)

Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarief Muhammad (Istimewa)

[INTRO]
Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dinilai menghadirkan tantangan baru bagi budaya literasi masyarakat, terutama generasi muda. Karena itu, perpustakaan perlu memperkuat perannya agar masyarakat tidak hanya memperoleh informasi secara instan, tetapi juga memiliki kemampuan membaca, memahami, menelusuri sumber informasi, dan berpikir kritis.

Pandangan tersebut disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Habib Syarif Muhammad, Ia memandang perubahan pola masyarakat memperoleh informasi melalui media sosial dan AI perlu diikuti dengan penguatan fungsi perpustakaan sebagai ruang pembelajaran.

Habib menyampaikan, tantangan literasi saat ini tidak lagi sebatas persoalan klasik seperti rendahnya budaya membaca, distribusi buku yang belum merata, maupun keterbatasan anggaran. 

Menurutnya, perkembangan AI telah mengubah pola konsumsi informasi masyarakat yang semakin terbiasa mendapatkan jawaban secara instan.

“Tantangan literasi kita saat ini bukan hanya sebatas tantangan klasik saja. Di era digital hari ini, literasi menghadapi disrupsi fundamental yang sangat bergantung kepada AI. Salah satu yang kita lihat setelah melakukan diskusi dengan beberapa mahasiswa, ialah mulai matinya budaya berpikir yang kritis,” ujar Habib melalui keterangan yang diterima, Sabtu (22/08/2026).

Menurutnya, masyarakat kini cenderung tidak lagi menelusuri sumber utama ketika memperoleh informasi, melainkan langsung mengandalkan jawaban dari generate sistem AI. 
 
Kondisi tersebut dinilai perlu menjadi perhatian dalam pengembangan program literasi agar masyarakat tidak berhenti pada kemampuan mendapatkan informasi cepat, tetapi juga mampu memahami latar belakang serta menganalisis informasi yang diperoleh.

Habib menilai perpustakaan bersama pemerintah daerah perlu merekonstruksi program literasi agar kemampuan berpikir kritis tetap terlatih di tengah kemudahan teknologi. 
 
Ia juga menyoroti munculnya tantangan baru terhadap ekosistem perbukuan, seiring adanya fenomena perusahaan AI yang memanfaatkan buku fisik sebagai bahan pelatihan mesin AI.

“Ketika berdiskusi, mereka terbiasa menjawab pokoknya saja, ketika ditanya nilai filosofis mereka blank. Kehadiran AI, ChatGPT atau Gemini telah mengubah siklus konsumsi informasi di mana masyarakat cenderung mengambil jalan pintas untuk mendapatkan jawabannya yang sangat instan. Selain itu, juga adanya fenomena ribuan buku yang dijadikan bahan eksploitasi sekali pakai oleh mesin AI sehingga akan berdampak terhadap ekosistem penerbitan nasional” ungkapnya.

(Givary Apriman Z\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar