Indonesia-India Perkuat Kemitraan, Fokus SDM dan Teknologi
Duta Besar India untuk Indonesia, Sandeep Chakravorty (tengah) berfoto bersama peserta dan pembicara Roundtable Discussion bertajuk “India & Indonesia: Post-Modi Visit and the Prospects for Collaboration in Education and Training” di Tagore Hall, Kedutaan Besar India, Jakarta, Rabu (19/8).
Indonesia dan India sepakat memperkuat kemitraan ekonomi melalui pengembangan sumber daya manusia (SDM), teknologi, pendidikan, serta investasi. Kolaborasi ini diarahkan agar kesepakatan pascakunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi tidak berhenti pada diplomasi, tetapi berlanjut menjadi kerja sama konkret.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Roundtable Discussion bertajuk “India & Indonesia: Post-Modi Visit and the Prospects for Collaboration in Education and Training” di Tagore Hall, Kedutaan Besar India, Jakarta, Rabu (19/8). Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty mengatakan hubungan kedua negara perlu diarahkan untuk meningkatkan kedekatan ekonomi dan kelembagaan. Menurutnya, sejumlah kerja sama mulai menunjukkan perkembangan, termasuk kemitraan perguruan tinggi, integrasi pembayaran digital, dan penjajakan perjanjian perdagangan bilateral. “Momentum pascakunjungan PM Modi telah melahirkan capaian nyata, mulai dari kemitraan institusi pendidikan terkemuka seperti IIM Bangalore dan IIT Madras dengan kampus di Indonesia, uji coba integrasi pembayaran digital QRIS-UPI, hingga dorongan untuk segera mewujudkan Bilateral Trade Agreement (BTA),” ujar Chakravorty.
Akademisi Jawaharlal Nehru University Dr. Gautam Kumar Jha menekankan pentingnya memastikan berbagai kesepakatan tingkat pemerintah dapat diterjemahkan menjadi program nyata. “Hubungan India-Indonesia harus bergerak dari kesepakatan menuju implementasi. Pertanyaannya bukan lagi ‘What can we sign?’, tetapi ‘What can we implement together?’” kata Gautam.
Menurut dia, kesinambungan kerja sama membutuhkan dialog antarlembaga dan antarmasyarakat. Ia juga mendorong penguatan pemahaman sejarah hubungan kedua negara melalui pendidikan.“Sejarah hubungan peradaban India dan Indonesia—seperti memori tentang Sriwijaya, Majapahit, Borobudur, dan Prambanan—harus mulai diperkenalkan dalam kurikulum sekolah kedua negara sejak tingkat dasar,” ujarnya.
Dari sektor industri, CEO Oorja Group Indonesia Bharat Kumar Jain menilai penguatan hubungan ekonomi perlu dibarengi dengan keterhubungan antara dunia pendidikan dan kebutuhan industri. Ia mengusung konsep “Connecting Two Homes” untuk menggambarkan pentingnya membangun ekosistem kerja sama yang menghubungkan institusi pendidikan, industri, teknologi, dan tenaga kerja kedua negara.
Jain menilai transfer teknologi, termasuk di sektor keselamatan pertambangan bawah tanah dan energi terbarukan, perlu diikuti program pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan pasar kerja.
Sementara itu, dari perspektif keamanan dan ekonomi Benedicta Nathania Palit dan Aisha Rasyidila Kusumasomantri dari Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) Jakarta menyoroti pentingnya kerja sama maritim dan pertahanan yang dibangun secara berkelanjutan. Kerja sama pengadaan alat utama sistem persenjataan, termasuk rudal BrahMos, dinilai dapat menjadi pintu masuk menuju kemitraan teknologi dan industri yang lebih luas, bukan sekadar transaksi pertahanan.
Potensi kerja sama pembiayaan dan investasi juga disoroti Shiv Dave dari Bharat Indonesia Cultural & Economic Forum. Ia menilai India memiliki peluang besar menawarkan pendidikan berstandar global, layanan kesehatan generik, serta teknologi dengan biaya kompetitif. Menurut Dave, peluang kerja sama dapat diperluas ke sektor pertambangan dan modernisasi mesin industri melalui skema pembiayaan yang lebih terintegrasi.
Di sisi lain, KRAT David Santoso KR, CEO Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Singhasari, menawarkan kawasan seluas 130 hektare sebagai lokasi pengembangan investasi dan operasional institusi teknologi dari India. “Kami menyediakan infrastruktur awal dan insentif regulasi agar institusi India dapat langsung beroperasi di Indonesia, sebagai investasi jangka panjang menuju visi Indonesia Emas 2045,” kata David.
Forum yang diinisiasi Lembaga Kerja Sama Internasional, Inovasi, dan Inkubator Bisnis (LK3IB) ITB Visi Nusantara Bogor bersama Indo-Pacific Strategic Intelligence (ISI) Jakarta, Asosiasi Pimpinan Perguruan Tinggi Hukum Indonesia (APPTHI), Yayasan Persaudaraan ‘Salamun Alaikum’, dan The Indic Belt Society itu menyepakati perlunya peta jalan kerja sama yang lebih konkret.
Kerja sama Indonesia-India ke depan diarahkan pada tiga fondasi utama, yakni penguasaan teknologi, penguatan industri, dan peningkatan kualitas SDM. Ketiganya dinilai menjadi kunci agar momentum pascakunjungan PM Modi menghasilkan manfaat ekonomi jangka panjang bagi kedua negara.




Komentar