Aritmia Bisa Berujung Henti Jantung Mendadak, Kenali Gejalanya

Minggu, 16/08/2026 14:58 WIB
Ilustrasi: Infografis Aritmia. (ChatGPT)

Ilustrasi: Infografis Aritmia. (ChatGPT)

[INTRO]

Aritmia atau gangguan irama jantung tak selalu menimbulkan gejala yang mudah dikenali. Pada sebagian kecil kasus, kondisi ini bahkan dapat memicu henti jantung mendadak dan menjadi tanda pertama seseorang membutuhkan pertolongan medis.

Spesialis penyakit dalam subspesialis kardiovaskular Brawijaya Hospital dr Simon Salim, SpPD-KKV mengatakan aritmia berbahaya dapat terjadi tanpa didahului keluhan berarti. Akibatnya, sebagian pasien baru pertama kali berinteraksi dengan tenaga kesehatan ketika mengalami henti jantung mendadak. "Yang paling menakutkan itu adalah henti jantung mendadak. Nah, henti jantung mendadak ini sayangnya merupakan manifestasi pertama yang sering kali pada pasien itu adalah pertama kali ketemu tenaga kesehatan adalah dengan manifestasinya henti jantung mendadak," ujar Simon dalam program detikSore, Jumat (14/8/2026) sebagaimana dikutip Detik.

Menurut Simon, tidak semua jenis aritmia berisiko menyebabkan henti jantung mendadak. Sebagian aritmia dapat menimbulkan gejala terlebih dahulu, sementara jenis tertentu bisa muncul tanpa keluhan yang jelas. "Jadi ada yang bisa bikin henti jantung mendadak. Ada periode dia sama sekali enggak ada gejala. Dan gejala pertama kali bertemu dengan tenaga medis adalah ketika henti jantung mendadak," katanya.

Meski demikian, Simon menegaskan kasus aritmia yang berujung henti jantung mendadak hanya merupakan sebagian kecil dari keseluruhan kasus aritmia. Kondisi tersebut tetap perlu diwaspadai karena dapat terjadi tanpa tanda awal yang jelas. Salah satu gejala aritmia yang paling mudah dikenali adalah jantung berdebar. Selain itu, penderita dapat mengalami lemas, mudah lelah, merasa seperti akan pingsan, hingga kehilangan kesadaran. "Berdebar merupakan salah satu gejala dari aritmia. Yang berikutnya adalah rasa lemas, mudah lelah, bahkan seperti pingsan, dia hilang kesadaran. Atau mau pingsan juga bisa merupakan salah satu gejala dari aritmia," ujar Simon.

Namun, munculnya gejala tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami aritmia. Pemeriksaan medis diperlukan untuk memastikan penyebab dan menentukan apakah gangguan irama jantung yang dialami tergolong ringan atau berpotensi membahayakan. "Jadi kita harus membedakan aritmia yang mengganggu kehidupan sehari-hari dengan aritmia yang berpotensi berbahaya. Nah, itu perlu ketahuannya setelah biasanya kita melakukan pemeriksaan," kata Simon.

(Bandot DM\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar