Prof. Dr. Henri Subiakto, S.H., M.Si., CMA, IPM. adalah Guru Besar Ilmu Komunikasi di Universitas Airlangga (UNAIR)
Antara Drama Kekuasaan dan Skenario Yang Sudah Direncanakan Lama
Antara Drama Kekuasaan dan Skenario Yang Sudah Direncanakan Lama foto pngfree
law-justice.co - Apa yang nampak di panggung depan sekarang ini, tak lepas dari skenario lama yang sudah direncanakan penguasa dari Solo. Ada Presiden tua, pelupa, asik dengan dirinya beserta lingkungan kecilnya, diwarnai dengan kebijakan kebijakan yang kontroversial menjadikan Pemerintah begitu nampak lemah, tak cerdas, dan tidak relevan dengan keinginan masyarakat luas.
Presiden nampak seolah berkuasa, tapi hingga sekarang, faktanya tak bisa memilih sendiri dan tak bisa mengganti menteri menteri utama, Jaksa Agung, Kapolri dan panglima TNI nya. Ada kekuatan lebih besar yang mengatur dan membatasinya.
Banyak pihak mengetahui ini. Tapi belum atau tidak ada kekuatan yang bisa menghentikan sandiwara politik di panggung depan yang dibalut pencitraan. Partai Politik dan Parlemen hanya berperan menabuh genderang seolah menormalkan keadaan.
Mereka semua sudah tersandera secara politik dan hukum hingga bekerja di bawah tekanan dan batasan. Tapi seolah semua baik baik saja, hingga drama kepalsuan itu bisa diterima sebagai kelaziman.
Di sisi lain Penegak hukum bertugas sebagai benteng hukum yang melegitimasi keadaan politik itu legal dan tak boleh diganggu oleh siapapun. Bagi rakyat yang ngerti dan tak setuju, jika bertindak membahayakan skenario, mereka akan dihadapi dengan proses hukum yang sudah disiapkan.
Kalau terjadi pergolakan yg membahayakan pimpinan orkestra sandiwara, maka beresiko skenario ban serep menggantikan pucuk aktor bisa berjalan lebih cepat terjadi. Itu kondisi yg lama telah dipersiapkan dan direncanakan matang.
Maka keadaan serba sulit. Membiarkan tetap berjalan berarti skenario penguasaan politik oleh dinasti semakin menguat. Sebaliknya berupaya menggusur boneka tua berarti hanya mempercepat Indonesia dikuasai dinasti nir etika.
Maka hanya Tuhan dan kesadaran rakyat yang tetap berpotensi menghentikan dan mengubah segalanya. Semoga masih ada energi, usaha yang disertai doa doa untuk kebaikan Indonesia.
Henri Subiyakto (Unair)




Komentar