Satrio Arismunandar, jurnalis senior, Dewan Pakar SCSC (South China Sea Council)

Jeffrey A. Winters: Masalah Terbesar Demokrasi Modern Adalah Penguasaa

Minggu, 28/06/2026 00:03 WIB
Ilustrasi Suara Demokrasi (ist)

Ilustrasi Suara Demokrasi (ist)

[INTRO]

Buku “The Blind Spot: How Oligarchs Dominate Our Democracies” merupakan karya terbaru ilmuwan politik terkemuka Jeffrey A. Winters, yang selama puluhan tahun dikenal melalui kajiannya tentang oligarki, ketimpangan kekayaan, dan hubungan antara demokrasi dengan kekuasaan ekonomi.

Buku ini berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar: mengapa demokrasi modern yang seharusnya memberikan kekuasaan kepada rakyat justru sering menghasilkan dominasi kelompok superkaya?

Menurut Winters, banyak orang menganggap oligarki sebagai penyimpangan atau kerusakan dalam demokrasi. Namun, ia berargumen bahwa dominasi kaum kaya bukanlah kecelakaan sejarah, melainkan bagian yang telah tertanam dalam perkembangan demokrasi modern sejak awal. Demokrasi memungkinkan partisipasi politik yang luas, tetapi pada saat yang sama memberi ruang bagi akumulasi dan perlindungan kekayaan dalam skala yang luar biasa besar.

Winters menunjukkan bahwa saat ini dunia memasuki era ketimpangan yang bahkan lebih ekstrem dibandingkan masa feodalisme Eropa atau masyarakat budak Romawi. Para oligark tidak selalu memerintah secara terbuka.

Mereka bekerja melalui: pendanaan politik, pengaruh terhadap media, pembentukan opini publik, lobi terhadap legislator, serta kemampuan mengarahkan hukum dan kebijakan demi melindungi kekayaan mereka.

Konsep sentral yang diperkenalkan dalam buku ini adalah "participatory inequality" (ketimpangan partisipatif). Dalam kondisi ini, mayoritas warga tetap ikut memilih, berdebat, dan berpartisipasi dalam proses demokrasi, tetapi hasil akhirnya terus menguntungkan kelompok kecil yang memiliki sumber daya ekonomi sangat besar. Dengan kata lain, masyarakat secara demokratis ikut mempertahankan sistem yang merugikan mereka sendiri.

Istilah "blind spot" (titik buta) merujuk pada kegagalan masyarakat melihat hubungan antara demokrasi dan oligarki. Banyak orang percaya bahwa demokrasi otomatis menghasilkan kesetaraan politik, padahal dalam praktiknya kekayaan dapat diterjemahkan menjadi kekuasaan yang jauh lebih besar daripada suara warga biasa. Winters berusaha membuka "titik buta" tersebut dan menunjukkan bagaimana oligarki bekerja di balik institusi demokratis.

Menariknya, buku ini tidak berhenti pada kritik. Winters juga menawarkan berbagai gagasan untuk mengurangi dominasi oligarki dan memperluas distribusi kekuasaan politik. Ia berpendapat bahwa meningkatnya kesadaran publik mengenai mekanisme oligarki dapat menjadi awal perubahan menuju demokrasi yang lebih substantif.

Jika ingin dirumuskan dalam satu kalimat: "The Blind Spot menjelaskan bahwa masalah terbesar demokrasi modern bukan sekadar korupsi atau populisme, melainkan kemampuan kaum superkaya menguasai proses politik sambil tetap mempertahankan ilusi bahwa kekuasaan berada di tangan rakyat."

Bagi pembaca Indonesia, buku ini sangat relevan karena melanjutkan tema yang pernah diangkat Winters dalam karya terkenalnya Oligarchy, yang menjelaskan bagaimana oligarki bertahan dan beradaptasi dalam sistem demokrasi, termasuk di Indonesia.

Buku ini memiliki relevansi yang sangat kuat untuk Indonesia karena salah satu laboratorium empiris yang sering digunakan Winters dalam mengembangkan teori oligarki justru adalah Indonesia pasca-Reformasi.

Dalam berbagai karya sebelumnya, terutama Oligarki dan studi-studinya tentang politik Indonesia, Winters berargumen bahwa demokratisasi tidak otomatis menghilangkan kekuasaan oligarki. Yang berubah hanyalah cara oligarki bekerja.

Salah satu konsep penting dalam buku ini adalah bahwa biaya politik yang mahal menciptakan ketergantungan pada pemilik modal. Dalam konteks Indonesia: biaya kampanye sangat tinggi, biaya membangun partai mahal, biaya pencalonan kepala daerah besar, kebutuhan logistik politik terus meningkat.

Akibatnya, muncul tiga pola: Pertama, orang kaya masuk langsung ke politik. Kedua, politisi bergantung pada sponsor bisnis. Ketiga, terjadi percampuran antara elite bisnis dan elite politik. Fenomena ini dapat dilihat dari banyaknya pengusaha besar yang menjadi: ketua partai, anggota DPR, kepala daerah, menteri. Dari sudut pandang Winters, ini bukan anomali, melainkan konsekuensi logis dari demokrasi yang mahal.

Salah satu kesalahpahaman tentang teori oligarki adalah menganggap semua orang kaya sebagai penjahat. Winters tidak mengatakan demikian.

Menurutnya, oligarki adalah kondisi ketika kekayaan yang sangat besar dapat digunakan untuk mempertahankan dan memperluas kekuasaan. Artinya: oligark bisa patriotik, bisa dermawan, bisa nasionalis, bahkan bisa mendukung demokrasi. Tetapi mereka tetap memiliki sumber daya politik yang jauh lebih besar dibanding warga biasa.

Pertanyaannya bukan apakah mereka baik atau buruk. Pertanyaannya adalah: apakah pengaruh mereka proporsional dengan prinsip kesetaraan demokrasi?

Reformasi 1998 mengubah sistem politik, tetapi tidak menghilangkan oligarki. Para pemilik kekayaan besar tidak hilang setelah Reformasi. Mereka beradaptasi. Dengan kata lain, demokrasi mengubah medan permainan, tetapi tidak otomatis mengubah distribusi kekuasaan ekonomi.

(Warta Wartawati\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar