Rupiah dan Rupee Jadi Jawara, Mata Uang Asia Lain Tumbang

Minggu, 21/06/2026 00:26 WIB
Rupiah Terimbas Sentimen Global Mata Uang Asia Lain Juga Tertekan foto kreasi by S

Rupiah Terimbas Sentimen Global Mata Uang Asia Lain Juga Tertekan foto kreasi by S

law-justice.co -  

Mayoritas mata uang di kawasan Asia mengalami tekanan dan melemah terhadap dolar Amerika Serikat sepanjang pekan ini. Penguatan dolar yang dipicu oleh ketidakpastian ekonomi global serta kebijakan suku bunga di AS membuat banyak mata uang regional tertekan.

Di tengah tren pelemahan tersebut, rupiah Indonesia dan rupee India menjadi pengecualian. Kedua mata uang ini mampu menunjukkan ketahanan yang lebih baik dibandingkan mata uang Asia lainnya, bahkan cenderung stabil di tengah gejolak pasar keuangan global.

Analis menilai ketahanan rupiah didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan serta nilai tukar. Sementara itu, faktor fundamental ekonomi yang relatif kuat juga membantu menjaga kepercayaan investor terhadap mata uang Indonesia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun tekanan eksternal masih cukup besar, rupiah tetap mampu bersaing dan mencatatkan kinerja yang lebih baik dibandingkan sebagian besar mata uang Asia lainnya dalam periode yang sama.


Nilai tukar rupiah harus mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini dengan melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (19/6/2026). Pelemahan terjadi seiring menguatnya dolar AS di pasar global.


Tekanan terhadap rupiah pada Jumat masih dipengaruhi oleh penguatan dolar AS di pasar global.

Menguatnya indeks dolar AS hingga menembus level 100 menunjukkan pelaku pasar masih memburu aset berdenominasi dolar AS. Kondisi ini pada akhirnya membuat ruang penguatan mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbatas.

Kendati melemah kemarin, secara keseluruhan nilai tukar menguat tajam 0,51% dalam sepekan.

Penguatan rupiah ditopang kebijakan Bank Indonesia yang menaikkan suku bunga sebesar 25 bps menjadi 5,75% sejak hari Kamis kemarin. 

Kenaikan ini menjadi langkah lanjutan BI untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, kebijakan tersebut juga menjadi langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.

Selain menaikkan suku bunga, BI juga kembali memperketat aturan pembelian valuta asing terhadap rupiah.

BI memangkas batas pembelian tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying menjadi US$10.000 per pelaku per bulan. Kebijakan tersebut akan mulai berlaku pada 1 Juli 2026.

 

Rupee berhasil bertahan lebih kuat dibandingkan mata uang Asia lainnya. Mata uang tersebut mencatat penguatan mingguan terbaik dalam 11 pekan terakhir setelah masuknya dana asing ke pasar obligasi dan berbagai langkah Reserve Bank of India untuk menarik aliran dolar ke dalam negeri.

Namun, kebangkitan dolar membuat penguatan rupee tertahan. Rupee ditutup stabil di INR 94,32 per dolar AS setelah sempat menguat di awal perdagangan.

 

Di tingkat Asia, rupee menjadi juara pekan ini dengan melesat 0,83% sepekan. Sementara mata uang Garuda menempati di nomor 2 setelah Rupee dengan nilai kenaikan 0.51 % . 

Sedangkan negara asia lainnya masih di negatif tingkat pertumbuhannya . 

Peso Filipina -0.02
Yuan -0.09
Dolar Taiwan -0.43
Dolar singapura -0.49
Yen -0.66
Won -0.79
Ringgit -1.91

 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar