Menteri PPPA: Anak SD di NTT Bunuh Diri gegara Tak Punya Tempat

Sabtu, 07/02/2026 16:59 WIB
Siswa SD NTT Bunuh Diri, Rocky: Pemerintah Gagal Jamin Keadilan Sosial. (Istimewa).

Siswa SD NTT Bunuh Diri, Rocky: Pemerintah Gagal Jamin Keadilan Sosial. (Istimewa).

law-justice.co - Menteri PPPA, Arifatul Choiri Fauzi, menanggapi kasus siswa SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), YBR (10), yang tewas gantung diri. Arifah mengatakan dari hasil analisa, siswa SD tersebut tak memiliki tempat bercerita.

"Kalau menurut analisa kami, ini akumulasi ya, dari beberapa yang apa, persoalan yang dihadapi si anak. Tapi si anak ini mungkin tidak punya tempat untuk bercerita," ungkap Arifatul kepada wartawan di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026).

Arifah mengatakan budaya di tempat siswa tersebut tinggal, masih menerapkan kepercayaan jika anak laki-laki tak boleh cengeng. Meski begitu, dia mengatakan saat ini pihaknya masih menganalisa secara mendalam peristiwa tersebut.

"Karena kan masih ada di budaya kita laki-laki harus kuat, laki-laki nggak boleh cengeng, laki-laki nggak boleh nangis gitu ya. Jadi ini mungkin menjadi, mungkin ya," ujar Arifah.

"Kita belum analisa nanti kalau sudah ada analisa yang lebih kuat, kita akan sampaikan. Tapi analisa sementara bahwa si anak ini tidak punya tempat untuk bercerita apa yang sebetulnya sedang dirasakan," jelas dia

Seperti diketahui, seorang siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Ngada, berinisial YBR (10) meninggal dunia karena gantung diri akibat kecewa tidak dibelikan buku tulis dan pulpen untuk sekolah.

Sang ibu yang merupakan janda tidak mampu membelikan kebutuhan dasar sekolah YBR karena kondisi ekonomi yang sangat terbatas.

Sebelum tragedi tersebut, YBR dan siswa lainnya berkali-kali ditagih uang oleh sekolah sebesar Rp 1,2 juta.

Anak SD tersebut bersekolah di SD negeri. YBR dipungut uang sekolah sebesar Rp 1.220.000 per tahun. Pembayaran dicicil selama setahun.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar