Dr. Roy Tumpal Pakpahan, Pemimpin Redaksi Law-Justice.co, Mantan Wartawan Suara Pembaruan, Pendiri Solidamor

Napak Tilas Perjuangan Aktivis di Era Sebelum Timor Leste Merdeka

Jum'at, 20/09/2024 12:18 WIB
Cover Buku Perjuangan Rakyat Timor Leste (Ist)

Cover Buku Perjuangan Rakyat Timor Leste (Ist)

law-justice.co - Hari itu, 12 November 1994, rejim Soeharto  sedang mengadakan perhelatan akbar konperensi pemimpin APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) di Jakarta dan Bogor. Soeharto sedang mencari muka menjadi tuan rumah yang baik bagi para petinggi negara-negara maju yang datang ke forum APEC, termasuk Presiden Amerika Serikat saat itu, Bill Clinton.

Siang itu pager saya berdering mendapat info dari kantor saya, harian Suara Pembaruan untuk meliput peristiwa demo dan aksi lompat pagar oleh aktivis mahasiswa Timor Timur/Timtim (sekarang Timor Leste) di Gedung Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jl Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat.

Beberapa hari sebelumnya memang saya sudah mendapat  kabar dari kawan-kawan aktivis mahasiswa Timtim bahwa mereka akan memanfaatkan forum APEC ini untuk mendapat perhatian dunia tentang referendum kemerdekaan Timor Timur. Salah satunya dari si rambut gimbal dan bersuara lantang, Luciano Romano.

Luciano mengatakan mereka akan berdemo serentak dan meminta suaka politik di beberapa kedutaan besar negara-negara anggota APEC yang ada di Jakarta. Bagi saya, aksi demo mahasiswa dan aktivis Timtim sudah tak asing lagi, apalagi sejak rejim Soeharto memenjarakan pemimpin Timor Leste, Kay Rala Xanana Gusmao.

Luciano yang kala itu kuliah di Jakarta adalah salah satu klandestin yang sangat enerjik dan terus bergerak menghimpun dukungan dari berbagai pihak untuk perjuangan penentuan nasib sendiri bangsa Timor Leste.

Luciano sudah berkali-kali demo di berbagai kota di Jawa dan Bali. Sudah menjadi takdirnya setiap demo pasti paling mudah untuk ditangkap petugas karena ciri khas rambut gimbalnya, sehingga sangat mudah dikenali. Jadi percuma dia lari saat demo karena petugas pasti langsung mengerubunginya.

Saat melihat aksinya dan sekitar 25 orang mahasiswa Timtim, yang beberapa saya sangat kenal seperti; Fernando, Arsenio, Kupa, Dominggus Sarmento, Antonio, Joaqim, dll dari luar pagar kedutaan Amerika, saya melihat mereka duduk meriung di halaman parkir di depan pintu masuk kedutaan.

Dari luar halaman gedung kedutaan saya melihat Luciano dan rekannya berunding untuk tetap bertahan di gedung kedutaan atau keluar dan sudah disambut oleh tentara, intel dan polisi yang sudah mengepung semua akses jalan ke kedutaan Amerika.

Demo para aktivis Timtim ini sangat menampar wajah rejim Soeharto. Bayangkan di tengah Soeharto sedang riang gembira menjamu tamu kehormatan Presiden negara-negara maju termasuk Bill Clinton, ternyata aparatnya gagal mencegah aksi lompat pagar ini. Situasi Jakarta malam itu semakin genting karena Bill Clinton masih di Jakarta, sementara kedutaannya diduduki 25 aktivis yang meminta suaka politik.

Setelah para aktivis menginap semalam di halaman kedutaan, besok paginya saya mendatangi mereka lagi untuk menulis membuat perkembangan berita bagi media saya Suara Pembaruan. Dari batas pagar saya dan teman-teman wartawan sempat berteriak menanyakan ke Luciano dan teman-teman, apakah mereka jadi mendapat suaka politik. Lalu dia menjawab semuanya sedang dalam proses, karena pemerintah Indonesia keberatan jika mereka diberi suaka politik dan bebas meninggalkan Indonesia tanpa harus menjalani proses hukum.

Namun  Amerika tidak mau ditekan oleh rejim Soeharto dan mau memberikan suaka politik kepada semua mahasiswa yang ikut lompat pagar. Akhirnya di malam kedua itu dengan menggunakan tiga bus, para aktivis ini dibawa ke bandara Cengkareng untuk diterbangkan ke Lissabon, Portugal. Drama aksi lompat pagar ini sangat memalukan Indonesia dan Menlu Ali Alatas.

Jauh sebelum aksi lompat pagar ini, saya sudah mengenal banyak aktivis dan pejuang Timor Maubere yang memang sangat aktif sebagai clandestin perlawanan yang bergerak menjadi simpul pergerakan mahasiswa dan LSM yang berjuang untuk referendum di Timor Timur.  Salah satu LSM itu adalah Solidamor, Solidaritas Indonesia untuk Timor Timur.

Kebetulan saya juga pengurus aktif Solidamor, sehingga kerap berhubungan dengan Luciano dan aktivis Timor Leste lainnya, seperti; Fernando Araujo, Antonio, Joaqim, dll. Interaksi kami sangat intensif. Dan membantu mengkampanyekan ke public lebih luas soal banyaknya kasus pelanggaran hak asasi manusia dan hak-hak rakyat sipil di bumi loro sae.

Para aktivis pejuang Timor ini banyak memberi saya data dan fakta tentang berbagai kasus pelanggaran hukum dan HAM tersebut. Walau tak semua bisa saya tulis di media umum seperti Suara Pembaruan, namun secara gerilya bisa kami tulis di media bawah tanah, seperti “Suara Independen” dan “Suara Solidamor”.

Beberapa aktivis Timor ini punya modal kemampuan diplomasi dan berkomunikasi dengan baik dan bisa masuk ke sektor dan lini rejim yang berkuasa pada saat itu. Mereka membangun jaringan solidaritas Timor Leste di berbagai kampus, LSM, buruh dan ormas. Termasuk dengan LSM Indonesia seperti PBHI, ELSAM, YLBHI, PRD, dll. Sewaktu Xanana Gusmao dipenjara  di LP Cipinang, saya dan beberapa teman termasuk Pengacara Xanana, Hendardi yang juga saat itu Ketua PBHI, bolak-balik membesuknya di tahanan.

Bergerilya di Manca Negara

Sebagai aktivis Solidamor dan juga seorang wartawan,  saya berkesempatan mengunjung  para aktivis yang dulu minta suaka di Kedubes Amerika Serikat itu, karena beberapa dari mereka kuliah di Lissabon dan Porto. Saya mengunjungi kedua kota itu untuk mengikuti Konferensi Journadas de Timor Leste yang diadakan oleh Profesor Barbedo, di Universitas Oporto, Agustus 1996. Saat itu Indonesia dan Portugal tidak mempunyai hubungan diplomatik. Sehingga saya mendapat visa khusus sekali kunjungan melalui Kedubes Portugal di Belanda.

Saat bertemu dengan peserta Journadas dan mahasiswa di Porto dan Lissabon, saya membagikan buku yang saya buat mengenai apa yang terjadi sebenarnya di Timor Leste. Buku itu berjudul “Mengenal Timor Timur, Apa yang Terjadi Dulu dan Sekarang”. Maksudnya agar rakyat Indonesia dan dunia tahu apa sebabnya rakyat Timor Leste yang sudah lama menderita itu, ingin referendum dan kemerdekaan Timor Leste. Buku saya ini dilarang terbit oleh rejim Soeharto dan hanya beredar di bawah tangan.

Setelah dari Portugal, saya dan teman2 aktivis Timor Leste aktif bergerilya di forum internasional di Eropa untuk perjuangan referendum, termasuk di Forum HAM PBB di kota Jenewa dan New York. Aktivis Indonesia dan Pro timor Leste di Eropa seperti Carmel Budihardjo, Tossi, Pipit, Liem, George Aditjondro, ikut membangun  jaringan dan akses komunikasi di luar jalur diplomasi yang sudah digarap oleh Ramos Horta.

Sebagai wartawan memang saya berkesempatan meliput  ke luar negeri beberapa kali dan bertemu beberapa aktivis pejuang Timor Leste di pengasingan, termasuk Ramos Horta, yang sekarang menjadi Presiden Timor Leste. 

Gerilya Hutan Los Palos

Beberapa bulan sebelum kejatuhan Presiden Soeharto, Maret 1998, saya mendapat tantangan dari kontak Klandestin Timor Leste di Dili untuk bisa masuk ke hutan Los Palos untuk bertemu dan mewawancarai Komandan Fretilin/Falintil region Timur, Comandante Lere Anan Timor. Tentu sebagai wartawan, tantangan ini sangat menarik karena saya akan menjadi wartawan Indonesia pertama yang masuk ke dalam hutan untuk bisa mewawancarai Komandan Fretilin di saat situasi perang masih terjadi antara TNI dan Fretilin.

Perjalanan gerilya jurnalistik ini sangat beresiko tinggi. Sebab untuk menjangkau markas Lere di hutan bukit Los Palos harus melewati beberapa pos militer tantara Indonesia.  Karena itu untuk memperkecil resiko, perjalanan ke hutan di mulai tengah malam dengan berjalan kaki puluhan kilometer dan baru sampai subuh di markas Komandante Lere.

Sungguh pengalaman jurnalistik tak ternilai bisa tidur beratapkan langit selama 3 hari bersama Komandante Lere dan 12 orang pasukannya. Rasa was-was tetap ada karena sewaktu-waktu tentara Indonesia bisa saja lewat dan berpatroli. Selama 3 hari saya mewawancarai Lere dan berdiskusi soal bagaimana memainkan peran angkatan bersenjata dan peran diplomasi dalam memperjuangkan kemerdekaan Timor Leste.

Pada prinsipnya Lere sangat menghargai peran diplomasi dan perjuangan kampanye internasional yang dilakukan semua aktivis Timor Leste di luar negeri seperti Horta, Luciano, Antonio, dll. Lere juga menyatakan terima kasihnya terhadap Solidamor dan semua orang Indonesia yang mau terlibat aktif dalam mendukung referendum dan kemerdekaan di Timor Leste. Tulisan perjalanan saya ini dimuat di harian Suara Pembaruan tanggal 29 Mei 1998.

 

Dalam foto di atas, saya memegang senjata M-16 rampasan dari TNI dan Komandante Lere Anan Timor yang berjenggot lebat, di Hutan Bukit Los Palos, Maret 1998.

Pasca Referendum

Setelah Soeharto jatuh dan akhirnya rejim Habibie memberi opsi referendum tgl 30 Agustus 1999, saya ada di Dili untuk meliput referendum tersebut. Suasana Dili sangat mencekam pasca hasil referendum Timor Leste menjadi merdeka.

Kota Dili merah membara dan api membakar dimana-mana. Kelompok pro integrasi tak terima kekalahan suara dalam referendum ini. Mereka memburu semua orang dan kelompok pendukung kemerdekaan, termasuk wartawan seperti saya. Karena situasi sangat genting, akhirnya saya pun harus lari menyelamatkan diri ke Kupang.

Setelah Timor Leste resmi menjadi negara baru sampai sekarang berusia 22 tahun, justru saya belum pernah kembali ke Dili. Situasinya sekarang tentu sudah jauh berbeda dibanding ketika jaman menjadi aktivis perlawanan. Semoga semua kawan-kawan aktivis dulu yang sekarang sudah menjadi para pejabat tinggi Negara Timor Leste, tidak lupa kepada para pejuang Timor yang sudah martir dan mungkin terlupakan. Pesannya, semoga bisa betugas dengan Amanah dan menjaga harkat martabat, serta integritasnya dalam berjuang memajukan rakyat Timor Leste yang sejahtera, adil dan makmur. Obrigado Barak  & A Luta Continua…

 

(Editor\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar