Sidang PHPU MK

Ace Hasan : Politik Gentong Babi Jokowi Tidak Berpengaruh di Pilpres

Kamis, 04/04/2024 17:44 WIB
Politisi Golkar Ace Hasan Syadzily (Foto: Istimewa)

Politisi Golkar Ace Hasan Syadzily (Foto: Istimewa)

Jakarta, law-justice.co - Saksi Prabowo-Gibran Ace Hasan Syadzily di sidang sengketa pilpres Mahkamah Konstitusi mengatakan politik gentong babi (pork barrel politics) tidak terlalu berpengaruh di Pilpres 2024.

Ace yang juga berstatus calon anggota DPR Partai Golkar di Pemilu 2024 mengatakan politik gentong babi itu justru lebih berpengaruh di ranah Pileg.

"Kalau kemarin kita mendengar ada istilah pork barrel politics, justru kecenderungannya lebih banyak terjadi pada pemilihan legislatif, dibandingkan dengan, mohon maaf, dalam konteks pemilihan presiden," kata Ace dalam sidang di Gedung MK, Jakarta, Kamis 4 April 2024.

Ace mengatakan caleg petahana biasanya memanfaatkan politik gentong babi. Mereka ikut menyalurkan bantuan dari instansi pemerintah yang menjadi mitra di komisi masing-masing.

Dengan langkah itu, para caleg petahana mengharap insentif elektoral. Ace menyebutnya sebagai bagian dari penyaluran aspirasi di daerah pemilihan (dapil).

"Sebagai anggota legislatif, tentu kami menginginkan setiap program-program dari mitra kami juga kami ingin memiliki insentif elektoral," ujarnya dikutip dari CNN Indonesia.

Lebih lanjut, Ace menilai sebenarnya politisasi bansos di pilpres sulit dilakukan karena pengawasan melibatkan berbagai pihak.

"Program ini, proses penyalurannya harus diketahui oleh kita semaua. Rasanya tidak mungkin ada pesan-pesan politik karena langsung diberikan pada penerima bantuan yang mengacu pada DTKS," jelas Ace dilansir dari CNN Indonesia.

Sebelumnya, saksi ahli dari tim Anies-Muhaimin Faisal Basri mempersoalkan politisasi bansos telah menguntungkan pasangan Prabowo-Gibran yang mendapat dukungan dari pemerintah. Dia menyoroti hal itu dengan kaca mata teori pork barrel politics.

"Secara umum pork barrel di negara berkembang wujudnya berbeda dari negara maju karena pendapatan masyarakat yang masih rendah dan tingkat kemiskinan yang tinggi. Di negara berkembang seperti Indonesia implementasi pork barrel biasanya berwujud bansos atau sejenisnya," kata Faisal dalam sidang di Gedung, Jakarta, Senin 4 April 2024.***

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar