Praktik Peretas Korut Sejak 1990, Kini Curi Uang Kripto Para Gamers

Minggu, 17/04/2022 16:40 WIB
Ilustrasi hacker Korea Utara (Net)

Ilustrasi hacker Korea Utara (Net)

Jakarta, law-justice.co - Amerika Serikat (AS) telah mengaitkan peretas yang didukung Korea Utara (Korut) dengan pencurian cryptocurrency besar-besaran senilai US$615 juta atau setara Rp8,8 triliun (asumsi Rp14.360/US$) dari pemain game online populer Axie Infinity pada Maret lalu.


Melansir BBC International, para pemain game tersebut dapat memperoleh crypto melalui permainan game atau memperdagangkan avatar mereka. Peretasan itu kemungkinan salah satu yang terbesar yang pernah menghantam dunia crypto.

Pejabat AS mengatakan mereka mengaitkan pelanggaran itu dengan kelompok yang disebut "Lazarus", yang diyakini dikendalikan oleh biro intelijen utama Korut.

"Melalui penyelidikan kami, kami dapat mengkonfirmasi Lazarus Group dan APT38, pelaku cyber yang terkait dengan [Korea Utara], bertanggung jawab atas pencurian itu," kata FBI dalam sebuah pernyataan pada Kamis (14/4/2022).

Lazarus Group menjadi terkenal pada tahun 2014 setelah mereka dituduh meretas Sony Pictures dan membocorkan data rahasia ke publik.

Kelompok tersebut menuntut agar Sony menarik film The Interview, sebuah komedi satir yang dibintangi Seth Rogen dan James Franco, tentang rencana untuk membunuh pemimpin Korut Kim Jong-un.

Sebuah panel PBB yang memantau sanksi terhadap Korut menuduh Pyongyang menggunakan dana curian untuk mendukung program nuklir dan rudal balistiknya sebagai cara menghindari sanksi internasional.


"Amerika Serikat sadar bahwa Korea Utara semakin mengandalkan kegiatan terlarang, termasuk kejahatan dunia maya, untuk menghasilkan pendapatan untuk senjata pemusnah massal dan program rudal balistiknya saat mencoba menghindari sanksi AS dan PBB yang kuat," kata juru bicara Departemen Keuangan AS, dikutip oleh Reuters.

Sebuah laporan militer AS tahun 2020 mengatakan program peretasan Korut dimulai setidaknya pada pertengahan 1990-an dan telah berkembang menjadi unit perang siber berkekuatan 6.000 orang, dikenal sebagai Bureau 121, yang beroperasi dari beberapa negara termasuk Belarus, China, India, Malaysia dan Rusia.

Perusahaan analisis Blockchain Chainalysis mengatakan peretas Korut mencuri aset digital senilai hampir US$400 juta dalam setidaknya tujuh serangan pada platform cryptocurrency pada tahun 2021.

 

(Devi Puspitasari\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar