Ada 5 Gejala Long COVID-19, Salah Satunya Berkaitan dengan Rambut

Kamis, 25/02/2021 17:13 WIB
Salah satu gejala long Covid-19 adalah adanya kerontokan rambut (kompas)

Salah satu gejala long Covid-19 adalah adanya kerontokan rambut (kompas)

Jakarta, law-justice.co - Pengaruh COVID-19 terhadap tubuh manusia ternyata tak hanya berlaku dalam jangka pendek. Berdasarkan penelitian, ada efek lanjutan atau efek jangka panjang atau long COVID dari penyakit tersebut.

Menurut sebuah penelitian baru-baru ini, beberapa penyintas COVID-19 telah melaporkan kerontokan rambut sebagai salah satu efek jangka panjang dari penyakit yang disebabkan oleh virus Corona tersebut.

Long COVID-19 adalah istilah yang digunakan untuk menentukan gejala yang dihadapi oleh orang-orang dan efek virus corona pada berbagai individu selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan setelah penyakit awal.

Menurut National Institute for Health and Care Excellence (NICE), COVID-19 bertahan lama selama lebih dari 12 minggu, demikian dikutip dari Times of India. Namun, penelitian lain mengklaim bahwa gejala dapat berlangsung selama lebih dari delapan minggu untuk menjadi COVID-19 yang lama.

Menurut Kantor Statistik Nasional (ONS), satu dari lima pasien virus corona menunjukkan gejala selama lima minggu atau lebih. Sebuah studi lanset baru-baru ini mengklaim bahwa orang yang selamat dari COVID-19 menghadapi gejala bahkan setelah enam bulan pemulihan, di mana rambut rontok menjadi sumber perhatian utama.

Meskipun alopecia atau rambut rontok mungkin merupakan masalah umum yang dihadapi oleh banyak orang di seluruh dunia karena berbagai alasan, temuan baru-baru ini menunjukkan bahwa hal itu mungkin merupakan gejala virus corona.

Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di The Lancet, seperempat penyintas COVID-19 mengeluhkan rambut rontok sebagai efek samping utama dari virus corona.

Para peneliti yang melakukan penelitian mengevaluasi 1.655 pasien yang dirawat di rumah sakit di Wuhan, China, di mana 359 orang (22%) pernah mengalami kerontokan rambut enam bulan setelah dipulangkan.

Studi tersebut melanjutkan untuk menentukan bahwa rambut rontok lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pada pria. Selain rambut rontok, temuan penelitian juga melaporkan prevalensi gejala seperti kelelahan atau kelemahan otot, kesulitan tidur, dan kecemasan atau depresi.

Sesuai laporan, "Pasien yang sakit parah selama tinggal di rumah sakit memiliki gangguan kapasitas difusi paru yang lebih parah dan manifestasi pencitraan dada yang abnormal, dan merupakan populasi target utama untuk intervensi pemulihan jangka panjang."

Sementara rambut rontok dilaporkan pada 22% pasien, 26% mengeluhkan kesulitan tidur dan kecemasan serta depresi dilaporkan pada 23% pasien.

(Gisella Putri\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar