Dengan Satu Kaki, Sabar Gorky Taklukan Gunung-Gunung Tinggi di Dunia

Minggu, 08/03/2020 18:47 WIB
Sabar Gorky saat mendaki Gunung Aconcagua di Argentina (Sabar Gorky/Instagram)

Sabar Gorky saat mendaki Gunung Aconcagua di Argentina (Sabar Gorky/Instagram)

law-justice.co - Puluhan gunung sudah ia ditaklukan. Bahkan Gunung Elbrus di Rusia yang merupakan gunung tertinggi di Eropa, juga berhasil ia daki. Laki-laki tamatan SMA ini menjadi penyandang tunadaksa pertama yang dapat meraih prestasi tersebut. Padahal, jika melihat kondisi fisiknya, tidak heran ada saja orang yang meragukan kemampuannya.

Sabar Gorky, kelahiran Solo 9 September 1968, telah jatuh cinta pada dunia pendakian sejak tahun 1986. Di mulai dari gunung-gunung di pulau Jawa, mendaki telah menjadi bagian dari hidupnya. Namun, di tengah semangatnya melakukan aktivitasnya itu, peristiwa yang tidak disangka-sangka terjadi.

Ketika itu tahun 1990, Sabar yang masih berusia 22 hendak pulang ke Jakarta setelah melakukan perjalanan dari Solo. Namun nahas, saat tiba di stasiun Karawang, ia terjatuh dari kereta, kakinya tergilas roda besi dan terpaksa diamputasi.

Bersama sesama pendaki dari berbagai negara saat mendaki Gunung Elbrus melalui jalur selatan di Rusia (Sabar Gorky/Instagram)

Terpuruk, itulah yang dirasakan Sabar pascakecelakaan yang menimpanya. Kaki adalah harta yang sangat berharga bagi seorang pendaki gunung seperti dirinya. Namun, kini bagian tubuh andalannya itu, harus direnggut darinya. Tidak terbayangkan apa yang akan dilakukannya dengan satu kaki.

"Waktu itu semua sedikit kacau. Biasanya bisa lari, bisa aktivitas seperti biasa, tapi akhirnya saya harus pakai bantuan tongkat. Di saat itu benar-benar nggak tahu harus bagaimana dan harus berusaha apa, nggak ngerti. Saya merasa berada di titik nol. Setelah pulang dari rumah sakit baru bisa mikir," kenang Sabar.

Meski memerlukan waktu, ia mengaku, keberhasilannya bangkit dan menata kembali hidupnya, tidak lepas dari peran besar ibunya. "Semua karena almarhum ibu saya. Beliau yang paling memberi dukungan di keluarga. Pesan ibu saat itu, jalanin aja hidup ini, nanti kan suatu saat ada jalannya sendiri. Dia itu sabar banget. Ibu sering ngomong rejeki ki wis enek sik ngatur, semuanya itu sudah ada atur,” ungkapnya.

Perjalanan ke puncak Gunung Elbrus, Rusia (Sabar Gorky/Instagram)

Kesabaran sang ibu, bukan hanya rajin memberikan dukungan nasihat, tetapi juga dalam merawat luka-luka Sabar, hingga sembuh benar. “Luka saya waktu itu besar karena terseret di atas kerikil yang disebar di sela-sela rel kereta. Dan ibu setiap hari membalurkan luka saya itu dengan minyak kelapa. Ibu memang sangat sabar. Mungkin karena kesabarannya itulah saya diberi nama Sabar," katanya.

Selain ibu, menurut Sabar, ada sosok teman-teman yang juga mendukungnya. "Teman-teman mulai mengajak saya kembali naik gunung, setahun setelah kecelakaan. Saya dirayu agar mau ikut naik gunung lagi. Akhirnya saya pun mau. Saya mikirnya gini. Kalau saya nggak semangat siapa lagi yang akan memberi semangat kalau bukan dari hati kita sendiri.”

Sejak kecelakaan itu, justru berbagai prestasi dan rekor pribadi mampu diraih Sabar. Dari mencapai gunung Aconcagua Argentina, Carstensz Pyramid Papua, Kilimanjaro Afrika, memanjat gedung tertinggi di Solo, hingga bersepeda dari Solo menuju Bali pada tahun 1999. Selain itu ia juga mengikuti eksebisi PON panjat tebing 1996 di Jakarta dengan pencapaian waktu 11 detik, dan mewakili Indonesia di kompetisi difabel di Korea Selatan 2009 dengan meraih medali emas.

Di kejuaraan World Cap Para Climbing di Cunceon, Korea Selatan, meraih medali emas (Sabar Gorky/Instagram)

Sabar mengaku walau telah bergelimang prestasi, ia tak pernah melupakan sesama difabel. Berbagai kegiatan kampanye dilakukannya untuk membuktikan bahwa kaum difabel  bisa menunjukan bukti bukan janji. Salah satunya di tahun 2010, Sabar membentangkan spanduk kampanye difabel dari atas patung selamat datang Bundaran HI, Jakarta dan selang berapa tahun kemudian Ia kembali memanjat Monas.

Kegiatan Sabar saat ini, selain masih rutin mendaki gunung, ia juga bekerja sebagai pembersih gedung-gedung tinggi, dan membuat tower panjat. Sabar mengungkapkan, kaum difabel seperti dirinya masih sering ditolak saat mengajukan lamaran pekerjaan

“Saya ingin teman-teman difabel bisa berada bersama-sama dengan mereka yang normal bisa diterima bekerja di kantoran atau mungkin di kursi pemerintahan. Dan sekarang saya bersyukur kampanye saya tidak sia-sia kaum difabel mulai diterima walau masih jauh dari harapan ya," katanya.

Sabar ingin ke depannya perhatian pemerintah kepada kaum difabel ditingkatkan. "Kalau untuk saya sih ya sudahlah walau masih di rumah kontrakan, pengen sih duduk di pemerintahan namun usia sudah tua, sudah 51 tahun. Semoga pemerintah lebih fokus lagi untuk kaum difabel seperti kami yang membawa nama bangsa," harapnya.

 

 

(Ricardo Ronald\Reko Alum)

Share:



Berita Terkait

Komentar