Keluhan Dirut BCA: MRT & Ojek Online Sebabkan Angka Kredit Motor Turun

Jum'at, 21/02/2020 10:14 WIB
Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja. (pontas).

Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk, Jahja Setiaatmadja. (pontas).

Jakarta, law-justice.co - Direktur Utama PT Bank Central Asia Tbk Jahja Setiaatmadja mengatakan yang menyebabkan penurunan kredit kendaraan bermotor (KBB) pada 2019 yaitu 1,1 persen menjadi Rp47,6 triliun ialah perubahan pola hidup masyarakat yang lebih memilih untuk menggunakan transportasi umum.

Jahja mengatakan kota penyumbang terbesar terhadap permintaan kredit kendaraan bermotor yaitu Surabaya, Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi saat ini telah didominasi oleh transportasi publik mulai ojek online hingga Moda Raya Terpadu (MRT).

“Adanya ojek online ini dan MRT lumayan menurunkan permintaan pasar khususnya di Jakarta,” katanya di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Jahja menuturkan keberadaan MRT telah mampu mengakomodasi dalam berpergian serta ditambah dengan ojek online yang dapat menjangkau ke daerah dan menghubungkan ke stasiun membuat masyarakat merasa tidak perlu memiliki kendaraan pribadi.

Selain itu, ia mengatakan sekarang kemampuan anak muda dalam membeli kendaraan juga berbeda sehingga adanya transportasi online dapat mendukung pola hidup mereka yang ingin bergaya menaiki mobil saat beraktivitas.

“Kita tidak menyangkal bahwa anak muda mungkin berbeda kalau naik transportasi online kan dapat mobilnya keren-keren jadi bisa menikmati. Ini pola hidup yang juga merubah KKB padahal dari segi bunga kita cukup kompetitif yaitu 3,63 persen satu tahun,” katanya.

Tak hanya itu, Jahja juga menyatakan bahwa adanya persaingan dengan perusahaan pembiayaan lainnya juga menjadi tantangan tersendiri dalam merealisasikan permintaan kredit kendaraan bermotor.

Hal itu disebabkan karena ada hal yang diberikan oleh perusahaan finance tersebut kepada pembelinya yang tidak bisa diberikan juga oleh BCA kepada nasabah yaitu berupa diskon.

“Kita juga punya pesaing khususnya mobil itu dari finance company yang dimiliki manufacturing. Mereka ada kemungkinan untuk menjual produk-produk yang sudah mereka buat,” katanya.

Terlebih lagi, lanjutnya, BCA tidak terlalu dominan dalam permintaan kredit kendaraan bermotor roda dua sebab telah ada merek dominan yang menguasai pasar sehingga pihaknya sulit untuk masuk.

“Produsen yang memiliki brand dominan menguasai pasar jadi kita masuk ke situ agak sulit. Apalagi di sektor motor kita belum jadi top of mind kalau mobil-mobil carinya BCA tapi tidak untuk motor,” ujarnya.

Sebagai informasi pada 2019, kredit konsumer BCA tumbuh 4,3 persen yaitu Rp158,3 triliun dengan KPR Rp93,7 triliun atau tumbuh 6,5 persen, KKB turun 1,1 persen menjadi Rp47,6 triliun dan outstanding kartu kredit tumbuh 9,4 persen menjadi Rp14,1 triliun.

Pertumbuhan kredit kendaraan bermotor (KKB) roda empat hingga Desember tahun lalu Rp45,44 triliun yakni lebih besar dibandingkan periode sama tahun 2018 Rp44,81 triliun atau tumbuh 1,4 persen (yoy).

Sedangkan kredit kendaraan bermotor (KKB) roda dua hingga Desember 2019 Rp2,19 triliun yaitu lebih rendah dibandingkan periode sama tahun 2018 Rp3,34 triliun atau terkoreksi sebesar 34,5 persen.

Secara total, kredit kendaraan bermotor roda dua dan empat pada 2019 yang Rp47,63 triliun merupakan lebih kecil dibandingkan periode sama tahun 2018 yaitu Rp48,15 triliun atau turun 1,1 persen. (Antara).

(Ade Irmansyah\Editor)
Share:



Berita Terkait

Komentar