Gereja Katolik Soal Insiden Deiyai: 8 Warga Sipil & 1 TNI Tewas

Rabu, 04/09/2019 14:43 WIB
Aksi demo berujung kerusuhan di Deiyai, Papua (Indopolitika.com)

Aksi demo berujung kerusuhan di Deiyai, Papua (Indopolitika.com)

Jakarta, law-justice.co - Gereja Katolik, SKP Dekenat Paniai Keuskupan Timika membantah keras semua pernyataan tentang jumlah korban yang diklaim pemerintah soal insiden penembakan di Deiyai 28 Agustus lalu.

Pastor Santon Tekege, Pr dari SKP Dekenat Paniai, Keuskupan Timika mengatakan, dalam insiden ini kurang lebih delapan orang warga sipil dan satu anggota TNI tewas. Itu artinya kata dia, dalam insiden tersebut sembilan orang tewas.

Dia memastikan pernyataan tentang jumlah korban yang diklaim institusi-institusi negara di Jakarta bahwa ada dua orang warga sipil dan satu anggota TNI dan juga terakhir menyebutkan bahwa lima warga sipil dan satu anggota TNI tewas itu terbantahkan.

“Jangan bunuh orang asli Papua, karena dengan memberikan Otsus dan Pemekaran, maka pemusnahan dan pembantaian etnis orang asli Papua semakin meningkat, kemiskinan semakin meluas, ketidakadilan terjadi di mana-mana seluruh Papua,” tegas pastor Santon seperti melansir suarapapua.com.

Menurut gereja, kata pastor Santon, pemerintah tidak mampu menangani rakyat kecil malah membunuh. Gereja sering menyerukan untuk hentikan pembantaian etnis Papua dan jangan habiskan orang asli Papua hanya demi menjaga keutuhan NKRI.

Gereja menegaskan agar pemerintah Indonesia harus menghargai Hak Asasi Manusia dan Demokrasi. Tetapi Pemerintahan Jokowi sudah melenceng dari HAM. Sampai pandangan mata NKRI orang Papua tidak berarti.

“Karena nilai orang Papua tidak bernilai, kami dibantai dan dibunuh. Pemerintah Indonesia tidak mempunyai pikiran dan perasaan akan kemanusiaan, hal ini terbukti penembakan puluhan orang di Deiyai Papua dan menewaskan delapan orang,” ujar gereja dalam laporan yang diterima media ini.


Dikatakan, gereja juga menyerukan stop pembunuhan dengan terang-terangan dan terselubung yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Orang papua dibunuh dan dibantai karena demi ambil kekayaan Sumber Daya Alam: Emas, Pohon, dan Obat-obatan. Pemerintah Indonesia hanya cinta akan tanah dan kekayaan SDA di Papua. 

Korban penembakan terhadap 8 orang masyarakat sipil Deiyai dan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka tembakan menandakan bahwa pemerintah Indonesia sudah tergolong pembunuh di mata internasional,” tegas Pater Santon.

Atas kejadian ini, pastor Santon Tekege, Pr dari SKP Dekenat Paniai, Keuskupan Timika menegaskan, gereja berani mengatakan bahwa Otonomi Khusus (Otsus) sudah gagal di Tanah Papua. Gereja menilai bahwa Otsus merupakan lambang kejahatan bagi orang asli Papua. Otsus Papua merupakan gula-gula politik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Karena tidak mengangkat harkat dan martabat orang asli Papua. Otsus dan Pemekaran bukan solusinya. Solusinya adalah tanyakan langsung kepada rakyat pribumi Papua,” ujarnya.

Berikut Data Korban yang Tewas dalam Insiden Deiyai pada 28 Agustus 2019:


1. Abinadab Kotouti (24),L, Warga Sipil dari Bomou II. Tewas Kena tembak peluru panas di Otak Kecil dan tembus di depan mata. Dia sudah dikubur di kampong Bomou II, Distrik Tigi


2. Hans Ukago (25), L, Warga Sipil dari Diyai II. Tewas kena tembakan peluru panas di Bahu dan dada. Dia sudah dikuburkan di kampung Diyai II, Distrik Tigi Barat


3. Marinus Ikomou (35), L, Warga Sipil dari Ayatei. Tewas kena tembakan di Dada, di alat kelamin, dan semprot gas bius. Dia sudah dikuburkan di Kampung Ayatei, Distrik Tigi Barat


4. Alpius Pigai (29), L, Warga Sipil dari Digibagata. Dia kena luka-luka tembakan di dada dan mati dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Madi. Dia sudah dikuburkan di Kampung Digibagata, Distrik Tigi Barat


5. Derison Adii (24),L, Warga Sipil dari Atouda Dia kena tembakan di Otak Kecil dan dada. Ditemukan mati di Halaman Kantor Bupati Deiyai. Dan dia telah dikuburkan di Kampung Atouda, Distrik Tigi.


6. Pilemon Waine (19), L, Warga sipil dari Wagomani. Dia tembakan peluru tajam di dada dan tewas. Dia sudah dikuburkan di Kampung Wagomani, Distrik Tigi Barat


7. Yemi Douw (23)
, L, Warga Sipil dari Widimei. Dia kena tembakan peluru panas di perut, di lengan kiri, dan mati. Dia sudah dikuburkan di kampung Widimei, Distrik Tigi Utara


8. Yustinus Takimai (17), L, Pelajar. Dia ditabrak oleh sopir TNI dan mati terjepit tembok kantor BKD Deiyai Papua

(Annisa\Editor)

Share:



Berita Terkait

Komentar