Dana Asing Kabur, RI Berpeluang BPJS Ketenagakerjaan Jaga IHSG
IHSG (Okezone Ekonomi)
Mereka menggarisbawahi estimasi ini sudah jauh lebih rendah dibandingkan skenario terburuk sebelumnya yang memperkirakan arus dana keluar melebihi US$30 miliar. Hal ini mencerminkan penurunan kepemilikan saham oleh investor asing serta koreksi harga yang signifikan pada saham-saham terdampak.
Dengan demikian, penurunan status tersebut kemungkinan lebih mencerminkan peralihan kepemilikan saham dari investor asing ke investor domestik, bukan penarikan modal secara permanen dari pasar saham Indonesia. Sehingga, mereka memproyeksikan dana domestik berpotensi menggantikan sebagian dana asing
"Namun, menurut kami, pembahasan seharusnya tidak terlalu berfokus pada besarnya arus dana keluar, melainkan pada kemampuan pasar untuk menyerapnya," ujar analis UBS Joshua Tanja dalam riset bertajuk Indonesia Market Strategy MSCI: Domestic Fund Capacity, dikutip Kamis (22/10/2026).
Menurut mereka, sumber utama penyerapan saham yang paling signifikan berasal dari industri asuransi dan dana pensiun. Industri ini mengelola aset sekitar US$125 miliar, tetapi saat ini hanya mengalokasikan 9% dari aset tersebut ke saham.
Dalam perhitungan mereka, setiap kenaikan alokasi investasi saham sebesar 1 poin persentase berpotensi menghasilkan potensi dana masuk ke saham sekitar US$1 miliar. Jika alokasi saham ditingkatkan dari 9% menjadi 15%, tambahan dana yang dapat masuk ke pasar saham mencapai US$7 miliar. Sementara itu, jika alokasi ditingkatkan menjadi 20%, tambahan dana yang tersedia mencapai US$14 miliar, setara dengan sekitar tiga perempat dari proyeksi arus dana keluar terkait MSCI.
Poin utamanya adalah Indonesia tidak perlu menciptakan sumber pendanaan baru. Indonesia hanya perlu melakukan pengalihan sebagian kecil dari dana domestik yang sudah ada ke pasar saham.
"Kami memperkirakan potensi arus dana masuk dari investor domestik ke saham-saham yang tercakup dalam MSCI dengan meningkatkan alokasi investasi saham dari posisi saat ini sebesar 9% menjadi 10%, 15%, dan 20%," jelasnya.
Dengan asumsi tersebut, tambahan arus dana domestik berpotensi mencapai US$1-10 miliar pada skenario alokasi saham sebesar 10-20%. Jumlah ini cukup untuk menyerap sekitar 6,5%-63,7% dari potensi arus dana keluar investor asing.
Mampukah Domestik Ambil Alih?
Di sisi lain, UBS juga mengukur potensi arus dana keluar dalam satuan jumlah hari berdasarkan average daily value (ADV), yakni rata-rata nilai transaksi harian, untuk menilai likuiditas pasar. Berdasarkan perhitungan tersebut, dibutuhkan sekitar 14-112 hari agar tekanan jual dapat sepenuhnya diserap pasar.
Berdasarkan simulasi mereka, aset yang dikelola institusi domestik diperkirakan belum mampu menyerap dampak arus dana keluar pada saham PT Bank Central Asia (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI). Hal ini terutama karena alokasi investasi institusi domestik pada kedua saham tersebut sejak awal sudah sangat besar.
Dalam hal ini, meskipun alokasi investasi saham ditingkatkan menjadi 20%, tekanan jual terkait MSCI pada saham BBCA masih membutuhkan waktu sekitar 82 hari perdagangan untuk diserap, sedangkan pada saham BBRI membutuhkan sekitar 32 hari perdagangan.
"Kami memperkirakan dampak terhadap saham-saham lainnya akan lebih kecil," ujarnya.
Partisipasi BPJS Ketenagakerjaan
BPJS Ketenagakerjaan mengelola aset sebesar Rp913 triliun per Juni 2026, tetapi hanya mengalokasikan 11% dari asetnya ke saham. Sementara itu, institusi domestik secara keseluruhan mengelola aset sekitar Rp1.700 triliun.
UBS memperkirakan dana pensiun dan perusahaan asuransi domestik saja berpotensi menyerap arus dana keluar sebesar US$1-14 miliar. Hal ini dilandasi dengan asumsi Otoritas Jasa Keuangan menargetkan peningkatan alokasi investasi saham hingga 20%, dengan tetap memperhatikan batas eksposur terhadap satu saham yang saat ini sekitar 10%.
Investor ritel juga dapat memberikan dukungan tambahan karena tidak diwajibkan menjual saham hanya akibat perubahan klasifikasi indeks. Dengan demikian, partisipasi investor domestik berpotensi menjadi penyangga yang signifikan untuk meredam dampak arus dana keluar terkait MSCI.
"Menurut kami, kendala utama bukanlah ketersediaan modal, melainkan kecepatan penempatan dana ke pasar saham," ujarnya.




Komentar