Anggota Parlemen Malaysia Kritik Kabut Asap RI Pakai Bahasa Jawa

Kamis, 22/10/2026 11:44 WIB
Situasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat. (Beritasatu)

Situasi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan Barat. (Beritasatu)

law-justice.co - Anggota Parlemen Malaysia dari Partai Oposisi, Kalam Salan melontarkan pernyataan menohok terkait kabut asap kebakaran hutan dan lahan Indonesia dalam rapat parlemen menggunakan bahasa Jawa, Rabu (21/10).

Mewakili daerah pemilihan Sabak Bernam dari Partai Bersatu (Bersatu), Kalam, membacakan pesannya yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto itu dalam bahasa Jawa di depan majelis rapat.

Dia berharap pesannya dalam bahasa Jawa ini dapat lebih dipahami para pemangku kepentingan di Indonesia.

"Di sana (Indonesia), kebanyakan orang Jawa tidak memahami bahasa Melayu. Oleh karena itu, izinkan saya, dengan persetujuan parlemen, menyampaikan pidato dalam bahasa Jawa," papar Kalam sebelum memulai membacakan pesannya di depan ruang sidang.

"Assalamualaikum, Pak Prabowo. Pripun kabare? Paringi waras, nggih. Kulo arep ngomong soal kabut asap sing saben tahun kok meneh songko Indonesia nganti Malaysia. (Assalamualaikum, Pak Prabowo. Bagaimana kabarnya? Semoga Bapak selalu sehat. Saya ingin berbicara tentang masalah kabut asap yang sudah berulang kali melanda Malaysia selama sepuluh tahun terakhir akibat kebakaran hutan di Indonesia)," ucap Kalam memulai pidatonya dalam bahasa Jawa.

Sambil membaca teks pesannya dalam bahasa Jawa, Kalam mengatakan asap dari kebakaran hutan Indonesia telah membuat masyarakat Malaysia kesulitan bernapas.

Dia menuturkan banyak orang mengalami batuk dan sakit tenggorokan, bahkan sesak napas. Sekolah-sekolah pun terpaksa ditutup, sektor pariwisata Malaysia, kata Kalam, juga ikut menjadi sepi, dan orang-orang yang bekerja di perkebunan pun tidak bisa bekerja.

"Sing susah ora mung wong Malaysia, Pak. Wong Indonesia sing nyambut gawe kerjaan neng kebon Malaysia ya melu susah akibat asap iki. Ora iso kerja, ora oleh duit. Urip arep terus piye? arep ngirim duit kanggo anak putu nang Indonesia. (Yang menderita bukan hanya masyarakat Malaysia, Pak. Warga Indonesia yang bekerja di perkebunan di Malaysia juga ikut terdampak oleh kabut asap ini. Mereka tidak bisa bekerja dan tidak mendapatkan penghasilan. Padahal, mereka harus tetap menghidupi keluarga dan mengirimkan uang untuk anak-anak serta cucu mereka di Indonesia)," kata Kalam.

Kalam mengakui pemerintah telah menerapkan sejumlah langkah yang sebelumnya ia usulkan. Namun, warga Malaysia terus merasakan dampak kabut asap yang masih meluas dan memburuk imbas karhutladi Indonesia.

Kalam pun juga mengungkit respons pejabat Indonesia yang menurutnya meremehkan persoalan kabut asap, termasuk pernyataan bahwa hutan Indonesia tidak selalu memberikan kabut asap tapi juga selama ini telah memasok oksigen bagi Malaysia.

"Mula, aja malah iki digawe guyonan, digawe lucuan, ngomong, nek alas Indonesia wis ngirim oksigen kanggo Malaysia. Lah, alas Malaysia kuwi opo? Ngasilno plastik? Ora iso ngasilke oksigen? (Makanya, jangan dibuat guyon, jangan dibuat lelucon. [Ada pejabat yang bilang] huta Indonesia mengirim ogisgen untuk Malaysia. Lah hutan Malaysia itu apa? Menghasilkan plastik, tidak bisa menghasilkan oksigen?)" paparnya lagi.

Sebelumnya, dikutip The New Straits Times, Kalam juga sudah mendesak pemerintah Malaysia agar menggunakan jalur diplomatik menekan Filipina, sebagai ketua ASEAN tahun ini, untuk mengambil tindakan regional yang lebih kuat dalam menangani kabut asap lintas batas (transboundary haze).

(Ade Irmansyah\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar