Pencalonan Budi Jadi Dirjen WHO Akan Untungkan Negara Berkembang
Menkes Budi Beberkan Biang Kerok Biaya Kesehatan di Indonesia Mahal. (Foto: Instagram/Budi Gunadi Sadikin.)
"Pencalonan Menteri Kesehatan kita sebagai Direktur Jenderal WHO adalah demi arsitektur kesehatan global yang lebih adil bagi negara berkembang," kata Arrmanatha dalam pernyataan pers perdana usai serah terima jabatan Menlu dari Sugiono di Jakarta, Senin, dikutip dari Antaranews.
Arrmanatha mengatakan sistem multilateral saat ini dinilai belum sepenuhnya berpihak pada negara-negara berkembang. Karena itu, Indonesia mendorong reformasi untuk memperkuat sistem tersebut.
Menurutnya, Indonesia tidak hanya akan menyuarakan aspirasi dari luar, tetapi juga berupaya melakukan perbaikan dari dalam melalui keterlibatan aktif di berbagai organisasi internasional.
Pencalonan Budi untuk memimpin WHO disebut menjadi salah satu bentuk nyata upaya Indonesia memperbaiki tata kelola kesehatan dunia.
"Dalam hal tersebut, Indonesia tidak akan hanya menyuarakan aspirasi atau `mengetuk pintu` dari luar, tetapi juga akan berupaya memperbaiki dari dalam," beber doa.
Selain melalui WHO, Indonesia juga berupaya memperkuat tata kelola organisasi internasional dengan menjadi anggota Badan Auditor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Langkah tersebut bertujuan meningkatkan akuntabilitas dan transparansi organisasi internasional.
Semangat serupa, lanjut Arrmanatha, juga mendasari pencalonan Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB untuk periode 2029-2030.
"Indonesia akan memperjuangkan Dewan Keamanan PBB yang lebih efektif, representatif, transparan, dan demokratis," jelasnya.
Arrmanatha menegaskan Indonesia akan terus mendorong PBB dan lembaga multilateral lainnya, termasuk WHO, agar bekerja lebih efektif, efisien, dan representatif sesuai dengan aspirasi masyarakat global.
Dia juga menekankan pentingnya penerapan hukum dan kesepakatan internasional secara adil bagi semua negara, bukan hanya menguntungkan pihak-pihak tertentu.

Komentar