Usai Heboh, Feby Indirani Penulis Buku `Memburu Muhammad` Buka Suara

Senin, 28/09/2026 13:58 WIB

law-justice.co - Penulis Buku Memburu Muhammad dan Bukan Perawan Maria, Feby Indirani akhirnya buka suara menjelaskan mengenai kedua karyanya yang belakangan dipersoalkan sejumlah pihak.

Dia menegaskan karya fiksi yang ditulisnya lahir dari niat baik dan berangkat dari pengalaman serta pengamatannya sebagai seorang Muslim.

Feby menjelaskan dirinya lahir dan tumbuh sebagai seorang Muslim. Menurut dia, karya-karya yang ditulisnya memiliki keterkaitan erat dengan tradisi, khazanah, dan keragaman tafsir dalam dunia Islam.

"Saya lahir dan tumbuh sebagai seorang Muslim. Perjalanan kepenulisan saya berakar kuat pada tradisi, kekayaan khazanah, serta keragaman tafsir dalam dunia Islam. Sejak kecil, saya terbiasa membaca dan mendengar kisah-kisah hikmah yang memotret dunia, manusia, dan kebenaran secara arif, reflektif, penuh humor, serta tidak pernah hitam-putih," kata Feby saat dihubungi, Senin (28/9).

Dia mengatakan isi Bukan Perawan Maria (BPM) dan Memburu Muhammad (MM) berasal dari pengalaman dan pengamatan terhadap kehidupan sehari-hari umat Muslim di Indonesia.

Menurut Feby, kedua buku tersebut dibuat sebagai upaya untuk menggambarkan keberagaman dan kompleksitas kehidupan beragama.

"Semua cerita di dalam Bukan Perawan Maria (BPM) dan Memburu Muhammad (MM) bersumber dari pengalaman serta pengamatan atas kehidupan sehari-hari umat Muslim di Indonesia. Kedua buku tersebut merupakan ikhtiar untuk mencerminkan warna, dinamika, serta kompleksitas laku beragama kita sehari-hari," ucap dia.

Feby juga menilai karya sastra tidak semestinya dipahami hanya berdasarkan judul pemberitaan maupun artikel opini. Dia mengatakan fiksi memiliki perangkat sastra tersendiri dalam menyampaikan cerita.

"Sebagai karya sastra, fiksi bekerja melalui perangkat-perangkat sastrawi: ia bertumpu pada sudut pandang tokoh fiktif, simbol, dan kiasan. Teks sastra tidak dapat dinilai dengan cara membaca judul berita atau artikel opini," imbuh dia.

Terkait Memburu Muhammad, Feby menjelaskan cerpen tersebut menggunakan sudut pandang tokoh fiktif Abu Jahal, yang dikenal sebagai salah satu musuh utama Nabi Muhammad SAW.

Dalam cerita itu, Abu Jahal digambarkan sebagai sosok yang tidak mengakui kenabian Rasulullah, tetapi secara diam-diam mengakui keagungan pribadi Nabi Muhammad.

"Sebagai contoh, dalam cerpen Memburu Muhammad-sebagaimana cerita-cerita lainnya di kedua buku tersebut-saya menggunakan sudut pandang tokoh fiktif, yakni Abu Jahal, musuh utama Nabi Muhammad SAW. Sebagai musuh, ia tentu enggan mengakui kenabian Rasulullah, tetapi diam-diam tidak kuasa menyangkal keagungan pribadi beliau. Salah satu ukuran tertinggi kemuliaan seseorang adalah ketika musuhnya sekalipun mengakui kehebatannya. Dalam cerita tersebut, Abu Jahal heran melihat begitu banyak orang menyandang nama Muhammad, namun tidak meneladani akhlaknya," jelas dia.

Feby menjelaskan makna judul Memburu Muhammad tidak merujuk pada sosok Nabi Muhammad secara harfiah. Menurut dia, hal yang dicari dalam cerita tersebut adalah sifat-sifat mulia Nabi.

"Apa yang sesungguhnya `diburu` dalam konteks ini adalah sifat-sifat mulia sang Nabi-selaras dengan makna kata `memburu` dalam KBBI, yakni berusaha keras untuk mendapatkan atau meraih sesuatu," lanjutnya.

Dia juga menyebut Memburu Muhammad telah ditempatkan dalam koridor sastra dakwah dalam sejumlah kajian akademis. Menurut Feby, kedua bukunya juga telah dibahas di sejumlah forum perguruan tinggi dan dibaca oleh ribuan umat Muslim.

"Secara akademis, kajian terhadap buku ini bahkan menempatkannya dalam koridor sastra dakwah (seperti yang dicatat dalam riset jurnal ilmiah STID Al-Hadid). Karya-karya ini juga telah dibahas di berbagai forum perguruan tinggi, termasuk di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jejak perjalanan kedua buku ini sudah panjang dan telah dibaca secara wajar oleh ribuan umat Muslim," tutur dia.

Feby kemudian menjelaskan perjalanan penerbitan Bukan Perawan Maria. Buku tersebut pertama kali terbit pada 2017. Saat peluncurannya, Menteri Agama RI kala itu, Lukman Hakim Saifuddin, disebut hadir dan memberikan pidato kebudayaan.

Buku tersebut kemudian diterjemahkan dan diterbitkan di Italia pada 2019. Di Indonesia, buku itu diterbitkan kembali oleh Bentang Pustaka, yang merupakan bagian dari Mizan Group.

Sementara Memburu Muhammad terbit pada 2020 dengan kata pengantar dari Gus Nadirsyah Hosen. Feby mengatakan buku tersebut juga pernah dibahas secara mendalam oleh Gus Ulil Abshar Abdalla dalam peluncuran daring pada masa pandemi.

Feby menegaskan kedua karyanya dibuat dari perspektif masyarakat Muslim dan dengan tujuan mengajak pembaca melakukan refleksi.

"Saya menulis dari dalam diri masyarakat Muslim sendiri. Karya-karya ini lahir dengan niat baik, sebuah ikhtiar kreatif mengajak kita merenung, berdialog, dan memeriksa diri sendiri. Menghakimi karya sastra hanya dari judul atau potongan teks di media sosial yang dibingkai sedemikian rupa secara tidak berimbang, justru menjauhkan misi sastra sebagai bagian dari pendidikan dan kemaslahatan umat," katanya.

Penjelasan Nadirsyah Hosen

Akademisi, Profesor Hukum, dan Tokoh Intelektual Islam asal Indonesia, Nadirsyah Hosen, turut buka suara perihal buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani. Pria yang akrab disapa Gus Nadir itu juga pihak yang menulis kata pengantar buku Memburu Muhammad tersebut.

Berikut ini pandangan Gus Nadir:

Pada 2020, saya menulis pengantar untuk buku Memburu Muhammad karya Feby Indirani. Judul pengantar saya: "Memburu Imajinasi Penulis". Enam tahun kemudian, ketika diskusi buku itu dibatalkan dan tuduhan penghinaan agama mengemuka, saya teringat pengalaman membacanya. Sebuah cerita yang membuat saya merindukan keteladanan Nabi kini dipersoalkan seolah-olah sedang merendahkan beliau.

Ada jarak yang perlu kita periksa antara kesan ketika melihat judul dan pemahaman setelah membaca cerita. Dalam jarak itulah prasangka bisa tumbuh, tetapi penjelasan juga bisa mempertemukan kita.

Saya memahami mengapa judul Memburu Muhammad membuat sebagian orang terkejut. Nama Muhammad memiliki tempat yang amat dalam di hati umat Islam. Kita menyebutnya dalam salawat, merindukannya dalam doa, dan mengenalkannya kepada anak-anak dengan penuh cinta. Kata "memburu" yang diletakkan di depan nama itu dapat menimbulkan kesan mengancam.

Namun, keterkejutan belum merupakan bukti penghinaan. Kita masih harus bertanya: siapa yang memburu, siapa yang diburu, dan apa yang hendak disampaikan melalui perburuan tersebut?

Dalam cerita Feby, Abu Jahal hadir di dunia modern. Ia memburu orang-orang bernama Muhammad, tetapi kecewa karena tidak menemukan sosok seperti musuh abadinya dahulu, Nabi Muhammad shallallahu `alaihi wasallam.

Jika judul itu dibaca bersama substansi kisahnya, konteksnya menjadi jelas: "Abu Jahal Memburu Nabi Muhammad". Itulah penjelasan tentang siapa yang bertindak dan siapa yang dicarinya. Abu Jahal mencari musuh abadinya melalui orang-orang bernama Muhammad yang ditemuinya di dunia modern.

Yang memburu adalah Abu Jahal, tokoh dalam cerita. Mengubah tindakan tokoh menjadi tuduhan terhadap pengarang merupakan kekeliruan membaca yang mendasar. Penulis dapat menghadirkan kebencian untuk memperlihatkan keburukannya. Seorang musuh dapat dimunculkan untuk menyingkap kebesaran orang yang dimusuhinya.

Menghadirkan Abu Jahal dalam cerita tidak menjadikan penulis pengikut Abu Jahal. Lantas, di mana letak penghinaan terhadap Islam dan Nabi Muhammad dalam judul dan alur tersebut? Saya tidak menemukannya. Yang saya temukan justru gugatan terhadap jarak antara kemuliaan akhlak Nabi dan perilaku kita yang mengaku mencintainya. Di situlah saya merasa tertusuk.

Saya biasanya membayangkan kehadiran Nabi karena kerinduan. Feby justru menghadirkan Abu Jahal. Melalui pencarian seorang musuh, saya merasakan betapa istimewanya Nabi, sekaligus betapa jauhnya kita dari keteladanannya. Dalam pengantar buku itu saya menulis, "Betapa jauhnya kita dari teladan Sang Nabi."

Nama Muhammad begitu dekat dengan kehidupan kita. Sedekat apakah akhlak beliau dengan perilaku kita?

Itulah pertanyaan yang saya bawa pulang. Saya merasa diajak memeriksa kecintaan saya sendiri: apakah ia sudah menjelma menjadi kejujuran, kerendahan hati, dan kasih sayang kepada sesama?

Nama Sayyidina Muhammad mudah kita temukan. Akhlak Sayyidina Muhammad perlu terus kita perjuangkan.
Karena itu, saya keberatan terhadap upaya menjadikan persoalan judul ini sebagai tuduhan penghinaan terhadap Islam tanpa pembacaan dan penjelasan tekstual yang memadai. Tuduhan sebesar itu menuntut tanggung jawab yang besar pula. Bagian mana yang menghina? Bagaimana konteksnya? Apakah yang dipersoalkan merupakan ucapan tokoh, tindakan tokoh, atau pesan keseluruhan cerita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab. Pengulangan tuduhan tidak dapat menggantikan pembuktian. Banyaknya orang yang tersinggung juga tidak dengan sendirinya memastikan bahwa pembacaan mereka tepat.

Perasaan terluka patut didengar. Tetapi ketika perasaan itu menjadi dasar untuk menuduh orang lain menghina agama, alasan dan buktinya harus dapat diperiksa.

Ada kekeliruan lain yang perlu kita hindari: menyamakan kritik terhadap perilaku umat dengan penghinaan terhadap Nabi. Ketika sebuah cerita membuat kita menyadari bahwa perilaku kita jauh dari keteladanan beliau, kemuliaan Nabi justru menjadi ukuran yang memperlihatkan kekurangan tersebut.

Jangan sampai kekurangan kita berlindung di balik kesucian agama, sehingga setiap koreksi dianggap penistaan.
Mengapa kontroversi semacam ini bisa terjadi?

Saya tidak mengetahui apa yang telah dibaca oleh setiap orang yang menolak buku ini. Saya juga tidak hendak menebak niat mereka. Namun, sebuah judul dapat beredar jauh lebih cepat daripada cerita yang memberinya makna. Dua kata cukup untuk memancing keterkejutan. Memahami ironi dan pergulatan tokoh membutuhkan waktu, perhatian, serta kesediaan menunda kesimpulan.

Masalah muncul ketika kesan pertama sudah diperlakukan sebagai putusan akhir. Penjelasan kemudian dicurigai sebagai pembelaan terhadap penghinaan. Orang yang meminta konteks dianggap kurang mencintai Nabi. Percakapan pun menyempit: kita seolah-olah harus memilih antara ikut marah dan dicurigai imannya.

Pilihan semacam itu tidak adil. Meminta bukti, membaca secara utuh, dan mendengarkan penjelasan merupakan bagian dari tanggung jawab menjaga kehormatan semua pihak.

Kecintaan kepada Nabi tidak perlu diukur dari seberapa cepat seseorang ikut marah. Ada cinta yang bekerja melalui kehati-hatian: tidak ingin keliru menuduh, tidak ingin mencederai sesama, dan tidak ingin agama dijadikan pembenaran bagi ketergesa-gesaan.

Dalam tradisi Islam, kita mengenal kekuatan cerita melalui Al-Qur`an sendiri. Bahkan ada surah bernama Al-Qasas, yang berarti kisah-kisah. Surah Yusuf ayat 111 menegaskan bahwa dalam kisah-kisah itu terdapat pelajaran bagi orang yang berakal. Tentu kisah Al-Qur`an dan fiksi memiliki kedudukan berbeda. Namun, kita dapat belajar tentang kekuatan cerita dalam menggugah kesadaran ruhani dan mengajak manusia memeriksa kehidupannya.

Cerita membuat kita menyaksikan kesalahan seorang tokoh, kemudian menyadari bahwa kita menyimpan kecenderungan serupa. Kita mengenali kesombongannya, lalu teringat bagaimana kita memperlakukan orang lain. Kita melihat caranya membenarkan diri, lalu mendengar gema alasan kita sendiri. Ketidaknyamanan semacam itu patut direnungkan sebelum diputuskan sebagai penghinaan.

Saya tumbuh bersama orang tua yang memberi tempat bagi imajinasi. Abah memanggil murid-muridnya untuk mengajari saya Al-Qur`an dan hadis. Ada pula guru yang khusus datang ke rumah untuk menceritakan berbagai kisah. Ibu juga mengizinkan saya berlangganan majalah anak dan membaca buku cerita. Dalam pengantar buku Feby, saya mengenang pengalaman itu: imajinasi saya ditemani dan dibiarkan berkembang.

Dari rumah, saya mengenal pendidikan agama yang menyediakan ruang bagi cerita. Saya berharap ruang tersebut tetap tersedia bagi generasi sesudah saya.

Lalu, bagaimana kita keluar dari ketegangan ini?

Barangkali kita bisa memulainya dengan menurunkan suara dan membuka buku. Tidak perlu ada yang dipermalukan karena sempat terkejut oleh judulnya. Tidak perlu pula seseorang terus-menerus dicurigai setelah bersedia menjelaskan maksud tulisannya.

Kepada saudara-saudara yang merasa terluka, saya ingin mengatakan: saya memahami bahwa di balik keberatan itu sungguh ada kecintaan yang tulus kepada Rasulullah. Saya pun mencintai beliau. Kita memiliki tempat untuk bertemu dalam kecintaan tersebut. Mari menjadikannya alasan untuk saling mendengarkan dan menjaga agar penilaian kita tetap adil.

Penulis juga perlu menyediakan ruang bagi kegelisahan pembaca. Sebuah judul bisa menimbulkan kesan yang tidak dimaksudkan pengarangnya. Menjelaskan konteks dengan sabar dapat membantu pembaca memasuki cerita dan memahami apa yang semula terasa mengganggu.

Kita bisa duduk bersama. Bukunya dibuka. Bagian yang dipersoalkan dibaca secara utuh. Kita bisa membaca karya sastra ini bersama-sama. Pengkritik diberi kesempatan menyampaikan keberatan, penulis diberi kesempatan menjawab. Tidak semua perbedaan harus selesai hari itu juga. Yang penting, setiap orang dapat pulang tanpa merasa diancam atau direndahkan.
Membaca dengan tenang tidak mengurangi cinta kepada Nabi. Mendengarkan penjelasan juga tidak membuat iman kita berkurang.

Saya tidak meminta semua orang menyukai buku Feby atau menyetujui pembacaan saya. Saya berharap kita memberi kesempatan kepada sebuah cerita untuk dipahami sebelum menghukumnya melalui judulnya.

Abu Jahal dalam cerita itu memburu Muhammad di dunia modern. Kita yang membacanya mendapat pertanyaan yang lebih dekat: ketika seseorang berjumpa dengan kita, adakah akhlak yang mengingatkannya kepada Nabi? Bahkan saat marah dan tersinggung pun, kebesaran akhlak Nabi Muhammad jelas terlihat. Sudahkah kita meneladani beliau SAW?

Semoga di tengah perbedaan ini, orang tetap bisa menemukan kelembutan beliau SAW dalam cara kita berbicara, keadilan beliau SAW dalam cara kita menilai, dan kasih sayang beliau SAW dalam cara kita memperlakukan sesama.

Seperti diketahui, jagat media sosial dihebohkan kemunculan dua buku yang diduga melakukan penistaan terhadap agama. Polda Metro Jaya akan menyelidikinya.

Kedua buku tersebut disoal oleh netizen karena dianggap mengandung unsur penistaan agama. Dua buku yang dimaksud memiliki tajuk `Bukan Perawan Maria` dan `Memburu Muhammad`.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan pihaknya baru mendapat informasi tersebut. Dia mengatakan buku tersebut akan didalami oleh pihak kepolisian.

"Ini pasti akan didalami baik itu dari Direktorat Siber apabila itu memang berada di dunia digital dan pasti juga akan ditangani dari pihak Ditreskrimum," ujar Kombes Budi Hermanto kepada wartawan di Bundaran HI, Jakarta Pusat, Kamis (24/9).

Budi Hermanto mengatakan informasi menyesatkan yang sering memicu gangguan ketertiban menjadi perhatian pihak kepolisian. Apalagi apabila itu menyangkut unsur SARA.

"Kita melihat bagaimana adanya informasi-informasi yang menyesatkan masyarakat, apalagi terkait tentang suku, agama, dan ras. Ini menjadi perhatian kita bersama," katanya.

(Annisa\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar