Terungkap! Cara Iran Diduga Menyasar HP Tentara AS di Timur Tengah

Sabtu, 18/07/2026 23:04 WIB
Pejuang Kurdi dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG) mengobrol dengan anggota pasukan AS di kota (Tempo.co)

Pejuang Kurdi dari Unit Perlindungan Rakyat (YPG) mengobrol dengan anggota pasukan AS di kota (Tempo.co)

law-justice.co -  

 

Iran dilaporkan juga meningkatkan operasi di ranah siber dengan menyasar perangkat telepon seluler yang digunakan personel militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan tersebut disebut-sebut bertujuan mengumpulkan informasi intelijen, termasuk melacak lokasi dan pergerakan personel AS sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat kemampuan pemantauan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.

 

Adanya lonjakan permintaan  untuk update data lokasi perangkat  di wilayah tersebut mulai terdeteksi sejak AS-Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran pada akhir Februari lalu. Diberitakan oleh lembaga riset yang fokus pada spionase seluler, Mobile Surveillance Monitor.

Jawaban Sinyal-sinyal tersebut dikirim menggunakan protokol SS7, dengan memanfaatkan celah keamanan pada teknologi telekomunikasi jadul era 1970-an yang tingkat keamanannya rendah.

 

 

Gary Miller, pendiri Mobile Surveillance Monitor, mengatakan bahwa data tersebut mengindikasikan kampanye serangan yang terkoordinasi. Menurutnya, puluhan ribu militer AS yang ditempatkan di berbagai negara di Timur Tengah menjadi target serangan siber ini.


Menurutnya, sasaran dari sinyal-sinyal ini kemungkinan besar adalah jaringan lokal yang sesekali digunakan oleh para personel militer AS.

Nikita Shah, peneliti keamanan siber di Center for Strategic and Internasional Studies (CSIS), menyampaikan bahwa perkembangan ini menandakan peningkatan kecanggihan Iran dan berkembang menjadi ancaman serius.

"Dalam beberapa tahun terakhir, terutama selama konflik ini, Iran menjadi sangat kreatif. Bagi saya, ini menunjukkan peningkatan tingkat kecanggihan," jelas Shah, melansir The Times of Israel, Kamis (16/7).

Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) juga sempat mengungkap kehebatan Iran dalam melancarkan serangan siber. Pada April lalu, mereka menyatakan bahwa serangan siber Iran yang menyasar layanan pemerintah serta sistem air dan energi mengakibatkan gangguan operasional dan kerugian finansial.

Secara bersamaan sebagai penunjang perperangan lanjutan , pada Maret lalu, kelompok peretas yang terafiliasi dengan Iran mengeklaim bahwa mereka telah membobol email pribadi Direktur FBI Kash Patel dan menyebarkan foto-foto sang direktur serta dokumen lainnya ke internet.

Kelompok hacker yang menamakan diri mereka Handala itu juga mengeklaim bahwa mereka berhasil meretas drone milik FBI dan mengancam akan menyasar gelaran Piala Dunia 2026.

 Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur AS (CISA) juga sempat mengungkap kehebatan Iran dalam melancarkan serangan siber. Pada April lalu, mereka menyatakan bahwa serangan siber Iran yang menyasar layanan pemerintah serta sistem air dan energi mengakibatkan gangguan operasional dan kerugian finansial.

Meski demikian, seorang pejabat Amerika Serikat yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan kepada Financial Times bahwa anggapan mengenai data pelacakan tersebut memberikan dampak besar terhadap kemampuan Iran dalam membidik personel militer AS tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Menurutnya, efektivitas operasi Iran dalam memanfaatkan informasi tersebut jauh lebih terbatas daripada yang banyak diberitakan.

 

 

(Patia\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar