BEI Ungkap Strategi Redam Gejolak IHSG Anjlok dan Bukukan Laba Rp1 T

Senin, 29/06/2026 16:32 WIB
Praktik pump and dump yang diduga masih ada di BEI (akupaham)

Praktik pump and dump yang diduga masih ada di BEI (akupaham)

law-justice.co - Bursa Efek Indonesia (BEI) membongkar strategi perusahaan untuk meredam gejolak Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah gejolak pasar keuangan sepanjang tahun lalu. 

Direktur Utama BEI Jeffery Hendrik mengklaim bahwa pasar modal Indonesia berhasil melewati periode volatilitas tinggi pada awal 2025.

Menurutnya, memasuki paruh kedua tahun lalu kondisi pasar mulai membaik seiring membaiknya sentimen global dan berbagai kebijakan domestik yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi.

"Kombinasi faktor tersebut berhasil menjaga stabilitas pasar sekaligus meningkatkan kembali kepercayaan investor," kata Jeffery dalam konferensi pers usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) BEI 2026 yang digelar secara daring, Senin (29/6).

Pemulihan itu tercermin dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang mencatat 24 kali rekor tertinggi (all time high) sepanjang 2025 dengan level tertinggi mencapai 8.711. Kapitalisasi pasar juga menembus rekor baru sebesar Rp16.004 triliun pada 8 Desember 2025.

Di sisi aktivitas perdagangan, rata-rata nilai transaksi harian saham mencapai Rp18,1 triliun, sedangkan transaksi produk non-saham tercatat Rp7,6 triliun. Adapun pasar obligasi melalui mekanisme Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) membukukan volume transaksi Rp1.375 triliun, sementara perdagangan di Bursa Karbon mencapai Rp36,37 miliar.

Jeffery menambahkan BEI juga terus memperkuat ekosistem pasar modal melalui inovasi produk, pengembangan layanan, serta digitalisasi untuk menjaga kepercayaan investor di tengah dinamika pasar.

Upaya tersebut turut mendorong jumlah investor pasar modal meningkat menjadi 20,3 juta atau tumbuh 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, pengguna aplikasi IDX Mobile bertambah menjadi 463 ribu, didukung penyelenggaraan lebih dari 49 ribu kegiatan edukasi dan keberadaan 1.015 Galeri Investasi di berbagai daerah.

Sementara itu, BEI membukukan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah sebesar Rp1,07 triliun pada 2025, naik 59,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja positif tersebut berhasil dibukukan di tengah gejolak pasar yang sempat dipicu ketidakpastian global.

Lebih lanjut Jeffery mengatakan kinerja tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan sebesar 29,8 persen, sementara kenaikan beban berhasil dijaga di level 17,1 persen.

"Dengan keseluruhan kinerja keuangan tersebut, perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 59,4 persen menjadi Rp1,07 triliun di tahun 2025 yang merupakan pencapaian laba bersih tertinggi dalam sejarah perseroan, " beber Jeffery.

Ia menjelaskan mayoritas pendapatan perseroan masih berasal dari aktivitas transaksi di pasar modal. Rata-rata nilai transaksi harian saham meningkat dari Rp12,8 triliun pada 2024 menjadi Rp18 triliun sepanjang 2025. Di saat yang sama, pendapatan yang tidak terkait transaksi juga tumbuh 14,6 persen, sedangkan pendapatan lainnya naik 17 persen.

Selain laba, BEI juga mencatat pertumbuhan aset sebesar 32 persen menjadi Rp14,78 triliun dan kenaikan ekuitas 14 persen menjadi Rp9,45 triliun.

(Gisella Putri\Editor)

Share:




Berita Terkait

Komentar